Yogyakarta, Arina.id Arina.id — Pentingnya peran perempuan dalam isu kebebasan beragama dan berkeyakinan menjadi salah satu pembahasan dalam Simposium Festival Beda Setara yang digelar Jaringan Gusdurian bekerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Jumat (15/11/2024).
Diskusi ini menghadirkan aktivis KBB dari Sulawesi Suaib Prawono, Dosen UNISNU Jepara Mayadina R. Musfiroh, seniman Dewi Candraningrum, dan pengurus Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Iklillah Muzayyanah.
Aktivis KBB dari Sulawesi, Suaib Prawono menekankan peran penting perempuan dalam menjaga keluarga dan menegakkan nilai-nilai toleransi.
Ia mengungkapkan pengalaman di Sulawesi ketika perempuan berhasil menyelesaikan kasus-kasus KBB dalam waktu singkat, hanya empat hari, dibandingkan dengan kasus serupa yang memakan waktu lama saat ditangani laki-laki.
"Ini menunjukkan peran strategis perempuan dalam menjaga toleransi, yang dimulai dari keluarga," kata Suaib.
Dosen UNISNU Jepara, Mayadina R Musfiroh menambahkan pentingnya membangun kesadaran perempuan untuk terlibat aktif dalam isu KBB melalui dialog yang berkesinambungan.
Menurutnya, dialog generatif bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran perempuan terhadap problem kebebasan beragama yang dihadapi. "Ini mudah diucapkan tapi susah dilakukan," ujarnya.
Aktivis perempuan sekaligus seniman, Dewi Candraningrum menekankan pentingnya pendidikan dan pengakuan perempuan atas KBB. Menurutnya, perempuan sering kali tidak diperhitungkan atau diabaikan dalam isu ini, padahal pengakuan terhadap perempuan adalah kunci dalam memperkuat kesadaran tentang kebebasan beragama.
"Bacaan dan pengakuan perempuan atas KBB itu adalah nilai yang paling dasar dalam beda setara," jelasnya.
Berbeda dari ketiganya, Iklillah Muzayyanah dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) mengatakan bahwa isu kebebasan tidak hanya terbatas pada manusia tetapi juga alam.
Menurut Iklillah, cara beriman yang hanya berpusat pada manusia dapat berujung pada ketidakadilan ekologis, yang sering kali menjadi akar dari ketidakadilan sosial.
Ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan keimanan yang mengutamakan keadilan bagi semua makhluk hidup, demi menjaga harmoni dan menghindari konflik yang bersumber dari masalah ekologi.
"Saya kira dengan memperkenalkan keimanan yang tidak selalu sentralnya manusia tapi keadilan dan kesetaraan yang menyangkut ekosistem lain selain manusia, dalam perspektif saya akan banyak memberikan kemaslahatan sebab banyak konflik sosial yang lahir karena konflik sumber daya alam," jelasnya.
Editor: Kendi Setiawan
