Jakarta, Arina.id-Temuan analisis data berbasis Artificial Intelligence oleh Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia bekerja sama dengan Binokluar mengungkapkan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mengalamai regresi demokrasi.
Hal ini ditandai dengan tingginya sentimen negatif dalam percakapan publik di media sosial, termasuk X, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok, terkait isu politik dan kebijakan pemerintah.
Direktur DEEP Indonesia, Neni Nur Hayati menyebut bahwa tingginya sentimen negatif ini tidak terlepas dari berbagai peristiwa penting yang terjadi selama satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Peristiwa tersebut mencakup pengesahan cepat RUU TNI, terbentuknya koalisi gemuk, kemunduran hak sipil dan kebebasan berpendapat, kebijakan populis, isu cawe-cawe Presiden ke-7, buruknya komunikasi publik antara pemerintah dan legislatif, demonstrasi besar-besaran, reformasi Polri, Putusan KPU Nomor 731, kasus ijazah palsu, pengabaian partisipasi publik, hingga urgensi disahkannya RUU Perampasan Aset.
Publik juga memberikan sorotan tajam terhadap berbagai kebijakan yang dinilai merugikan rakyat, seperti program makan bergizi gratis, proyek food estate, kerusakan akibat proyek strategis nasional, kacaunya tata kelola pemerintahan, korupsi yang semakin merajalela, kebijakan yang serampangan, serta kebijakan anggaran yang dianggap lebih pro terhadap elite dan pejabat publik alih-alih kepentingan rakyat.
"Keresahan publik ini juga terekspresi di ruang media sosial yang kerap diwarnai ungkapan pesimisme, bahkan keinginan untuk #kaburajadulu, lantaran tidak melihat adanya tindakan nyata dari pemerintah untuk membenahi kondisi dan mementingkan rakyat," kata Neni dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 24 Oktober 2025.
Mengutip refleksi dari Sukidi (2025) dalam tulisannya berjudul Keadilan yang Dirindukan, melalui lirik lagu "I Can’t Believe What You Say, for Seeing What You Do" (1964) karya Ike dan Tina Turner, Neni menegaskan bahwa rakyat tidak percaya apa yang pemerintah katakan karena melihat apa yang pemerintah kerjakan.
Berbeda dengan media mainstream yang didominasi sentimen positif, Neni mengatakan perbincangan di lima platform media sosial yakni X, Facebook, Instagram, Youtube dan Tiktok lebih didominasi sentimen negatif.
Peneliti memasukan keyword seperti kinerja pemerintahan Prabowo Gibran, politik dan demokrasi di media daring dan percakapan melalui sosial media yang berkaitan dengan isu politik, demokrasi serta pemerintahan.
Penarikan data dilakukan pada rentang waktu 21 Oktober 2024 hingga 21 Oktober 2025. Total percakapan politik dan demokrasi di X sebanyak 66.485 dengan sentiment positive 25.369 atau 42%, netral 8.707 atau 14% dan sentiment negative 26.897 atau 44%.
Adapun twitter top mention paling tinggi adalah Tempodotco, Prabowo, Kompascom, Mohmahfudmd dan Heraloebs. Sementara untuk Twitter top authors ditempati oleh Grok, Radioelshinta, Brokxoli, SugiKawuloAlit, ArtaN7707.
Untuk total percakapan politik dan demokrasi di Facebook sebanyak 91.781 dengan sentimen positif 13.901 atau 15%, netral 34.374 atau 37% dan sentimen negatif 43.506 atau 47%. Adapun lima Facebook top authors adalah Suaradotcom, TvOneNews, Tribunnews, KemensetnegRI dan Kompascom.
Pada Instagram talk sentiment dengan total perbincangan 328.066 dengan sentiment positive 39.383 atau 12%, netral 162.398 atau 50% dan sentiment negative 124.493 atau 38%. Untuk sepuluh Instagram top authors yaitu Tempodotco, Kumparancom, Kompascom, Prabowo, Inilah_com, Katadatacoid, Detikcom, Nowdots, Bisniscom dan Tirtoid.
Sementara untuk Instagram Top Mentions yakni Prabowo, Gibran_rakabuming, Gerindra, Presidenrepublikindonesia, Jokowi, Dpr_ri, Ericktohir, Smindrawati, Bahlillahadaila dan Agusyuhdoyono.
Adapun untuk Youtube talk sentiment, total perbincanagan 434.995 dengan sentiment positive 67.621 atau 16%, netral 156.207 atau 36% dan sentiment negative 211.167 atau 49%. Sepuluh Youtoube top authors adalah OfficialNews, Tribunnews, KOMPASTV, OfficialSINDONews, TempoVideoChannel, TvOneNews, YudaMediaHD, MerdekaDotCom, Kompascom dan ForumKeadilanTV.
Sedangkan untuk Youtube top mentions ada therealrockygerung, Deffid_83, Fajar.Wayang, Prast_ulrich. Total percakapan pada Tiktok 9297 dengan sentiment positive 3.036 atau 33%, netral 1.610 atau 17% dan sentiment negative 4.651 atau 50%. Untuk lima Tiktok top authors yaitu Garudatvnews, Officialinews, Inilahcom, Kumparan dan Kompascom.
Dari lima platform tersebut, engagement dan exposure paling tinggi secara berurutan adalah Youtube, Instagram, Facebook, X dan Tiktok.
"Berbagai gelombang protes yang diungkapkan oleh warga dalam bentuk percakapan di media sosial dan media mainstream seharusnya menjadi refleksi dan evaluasi secara serius untuk dapat mendengarkan suara rakyat," tuturnya.
DEEP Indonesia berharap analisis big data ini menjadi tamparan serius agar pemerintah berbenah. Mimpi para pendiri bangsa, seperti Soekarno-Hatta, mengenai demokrasi politik dan ekonomi yang mewujudkan kesejahteraan, tidak boleh dirusak oleh mereka yang tidak memiliki etika, moralitas, dan keadaban.
"Yang disampaikan melalui percakapan media baik itu media mainstream ataupun media sosial. Hal ini seharusnya menjadi tamparan serius agar pemerintah dapat berbenah," Neni memungkasi.
Editor: Muhammad Taufiq
