Bandung Arina.id – Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung mengukuhkan 20 Guru Besar pada Rabu (23/4/2025).
Pengukuhan yang berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka bertajuk Membumikan Kepakaran, Menguatkan Kebermanfaatan, Mengunggulkan Kontribusi Nyata bagi Peradaban ini berlangsung di Gedung Anwar Musaddad.
"Bismillahirrahmanirrahim. Dengan senantiasa mengharap ridha Allah Swt, pada hari ini Rabu 23 April 2025 bertepatan dengan hari anggal 24 Syawal 1446 H, dengan ini saya mengukuhkan dua puluh Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung," kata Rektor UIN Bandung, Rosihon Anwar saat pengukuhan tersebut.
"Semoga dengan dikukuhkannya sebagai Guru Besar, Saudara dapat terus berkarya dan berkontribusi dalam pengembangan keilmuan untuk kemajuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Aamiin," lanjutnya.
Rektor Rosihon menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi merupakan simbol dedikasi, pengabdian, dan kontribusi nyata sivitas akademika dalam membangun peradaban.
Dia juga menekankan pentingnya peran para Guru Besar dalam memperkuat fondasi keilmuan dan moral di tengah tantangan zaman.
Momen pengukuhan tersebut merupaka kali keempat yang digelar secara kolektif dan menjadi bagian dari tradisi akademik yang terus dijaga dan dikembangkan oleh UIN Bandung.
Sebelumnya, kampus unggul, kompetitif dan moderat ini telah menyelenggarakan: Panen Raya Guru Besar Jilid I pada 25 November 2020 yang mengukuhkan 13 Guru Besar; Panen Raya Guru Besar Jilid II pada 8 Desember 2022 yang mengukuhkan 14 Guru Besar; Panen Raya Guru Besar Jilid III pada 18 Juli 2023 dengan mengukuhkan 20 Guru Besar.
"Hari ini kita menyaksikan pengukuhan Guru Besar, sehingga tercatat ada 87 Guru Besar di lingkungan UIN Bandung. Mudah-mudahan pada tahun 2026 mencapai diangka 100 Guru Besar. Ini bukan sekedar seremonial, bukan hanya sekedar pencapaian akademik, tetapi merupakan simbol dedikasi, pengabdian, dan kontribusi nyata sivitas akademika dalam pengembangan ilmu, membangun peradaban,” terangnya.
Menurutnya pengukuhan ini bukan hanya tentang capaian pribadi, tetapi tanggung jawab keilmuan untuk masyarakat, bangsa, dan agama. Pengukuhan Guru Besar baru juga merupakan hasil ketekunan, perjuangan, keberhasilan yang telah mencapai puncak akademik. Namun pada saat yang sama dituntut untuk melakukan pengabdian, pengembangan ilmu pengetahuan.
"Masyarakat menunggu keahlian Bapak-Ibu dalam melakukan riset yang dapat dilahirkan keilmuan. Untuk itu, 87 Guru Besar diharapkan memberikan dampak yang luar biasa terhadap pelopor keilmuan, benteng keilmuan, penjaga moralitas, pelopor perubahan, dengan terus membangun narasi keilmuan yang berbasis rahmatan lil alamin," ujarnya.
Untuk mengembangkan kurikulum cinta dan ekoteologi, Rektor mengajak Guru Besar di lingkungan UIN Bandung ikut merespons program Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. Seluruh Guru Besar hendaknya bersama-sama merespon dua gagasan Menag untuk mengimplementasikan dan memberikan solusi di masyarakat.
"Alhamdulillah kemarin UIN Bandung dapat merespons gerakan penanaman pohon matoa. Tentunya dengan adanya 87 Guru Besar harus menjadi panutan dalam keteladanan, integritas, memberikan motivasi bersama untuk terus meningkatkan publish ilmiah, membuat sinergi dengan melakukan kolaborasi," kata Rektor.
"Mudah-mudahan menjadi jalan, wasilah untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Mari terus berkarya, berkontribusi keilmuan untuk kemajuan UIN Bandung, sambil terus berusaha membumikan kepakaran, menguatkan kebermanfaatan, mengunggulkan kontribusi nyata bagi peradaban," pungkasnya.
Berikut ini daftar 20 Guru Besar yang dikukuhkan di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati:
- Ida Farida (Guru Besar Bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan Kimia pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)
- Lilis Sulastri (Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)
- Hasniah Aliah (Guru Besar Bidang Ilmu Fisika pada Fakultas Sains dan Teknologi)
- M. Yusuf Wibisono (Guru Besar Bidang Ilmu Perbandingan Agama pada Pascasarjana)
- Moch. Fakhruroji (Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi)
- Asep Achmad Hidayat (Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Peradaban Islam pada Pascasarjana)
- Fenti Hikmawati (Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Pendidikan pada Fakultas Psikologi)
- Darajat Wibawa (Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi dan Media pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi)
- Agus Abdul Rahman (Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Perilaku pada Fakultas Psikologi)
- Mahi Mamat Hkikmat (Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Adab dan Humaniora)
- Adam Malik (Guru Besar Bidang Ilmu Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)
- Deni Miharja (Guru Besar Bidang Ilmu Studi Agama-Agama pada Fakultas Ushuluddin)
- Fisher Zulkarnain (Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Politik Islam pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
- Mohammad Taufiq Rahman (Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Islam pada Pascasarjana)
- Ramdani Wahyu Sururie (Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Islam pada Pascasarjana)
- Usep Saepulah (Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Islam pada Pascasarjana)
- Acep Aripudin (Guru Besar Bidang Ilmu Dakwah pada Pascasarjana)
- Abdul Kodir (Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam pada Pascasarjana)
- Bambang Samsul Arifin (Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam pada Pascasarjana)
- Dadan Rusmana (Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Nusantara pada Fakultas Adab dan Humaniora).
Editor: Kendi Setiawan
