Jakarta, Arina.id - Indonesia telah resmi menjadi anggota BRICS pada 06 Januari 2025 kemarin. Keanggotaan Indonesia ini menggenapi jumlah anggotanya yang kini menjadi sepuluh negara, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kemudian Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
Pengumuman keanggotaan Indonesia di BRICS ini segera direspons oleh Rusia. Lewat Kementerian Luar Negerinya, Rusia menyambut baik bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS sebagai anggota penuh.
Menurut Rusia, keanggotaan Indonesia akan berperan penting dalam menyatukan Timur dan Selatan Global. Adapun saat ini presiden BRICS dijabat oleh Brasil sejak 1 Januari 2025. Brasil juga yang mengumumkan penerimaan Indonesia sebagai anggota ke-10 pada 6 Januari 2025 lalu.
Sedangkan untuk suksesi kepemimpinan di BRICS ini akan dilakukan secara bergilir dari negara-negara anggota.
"Rusia menyambut baik bergabungnya Republik Indonesia dengan BRICS sebagai negara anggota penuh mulai 1 Januari 2025," demikian bunyi pernyataan dari Kemenlu Rusia, seperti dikutip dari Antara, Jumat (10/12/2025).
Untuk pencalonan Indonesia telah dipresentasikan dan disetujui sementara sebagai bagian dari 'gelombang pertama' perluasan blok tersebut pada pertemuan puncak di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 2023.
"Namun, mengingat akan diadakannya pemilihan presiden pada 2024, mitra kami di Indonesia memutuskan untuk menunda pencalonan resmi Jakarta sampai kepala negara baru mulai menjabat dan pemerintahan terbentuk," lanjut pengumuman itu.
Pencalonan Indonesia disetujui dengan suara bulat oleh seluruh negara anggota BRICS, ungkap kementerian tersebut.
“Aksesi Indonesia ke BRICS akan semakin memperkuat otoritas blok tersebut dan secara konsisten menyatukan Selatan Global dan Timur guna membentuk tatanan dunia yang multipolar menjadi lebih adil dan seimbang,” tambahnya.
BRICS adalah asosiasi antara berbagai pemerintah yang dibentuk pada 2006. Selain Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, anggota penuh BRICS kini mencakup Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
Editor: Muhammad Taufiq
