5 Tingkatan Membersihkan Diri Menuju Hakikat Idul Fitri

5 Tingkatan Membersihkan Diri Menuju Hakikat Idul Fitri

Jakarta, Arina.id – Banyak orang menganggap momen Idul Fitri sekadar sebagai kembalinya kebebasan setelah berpuasa. Fitri sejatinya adalah momentum kembali kepada kesucian diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin.

Akademisi dan pakar filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Fais menguraikan bahwa setidaknya ada lima tingkatan “bersih-bersih” dalam hidup yang perlu dilakukan manusia agar benar-benar mencapai makna fitrah.

“Tadi kalau dirinci, dalam hidup ini ada lima hal yang harus kita bersihkan,” ujarnya dalam tayangan video Youtube Mengaji Filsafat diakses Rabu (1/4/2026).

Tingkatan pertama adalah kebersihan jasad atau fisik. Ia menjelaskan bahwa pada level ini, umat Islam sudah sangat familiar, yakni membersihkan diri dari najis dan hadas melalui mandi dan wudu.

“Kalau fisik sih kita membersihkan jasad anggota tubuh dari semua najis dan hadas. Ini teman-teman pasti sudah bisa,” katanya.

Namun, menurutnya, kebersihan tidak berhenti pada aspek fisik. Tingkatan kedua justru lebih menantang, yakni membersihkan anggota tubuh dari dosa dan kemaksiatan.

Ia mencontohkan bagaimana mulut tidak hanya dibersihkan secara fisik, tetapi juga dari ucapan buruk, nyinyir, dan menyakitkan. Dalam konteks modern, hal ini juga berlaku pada aktivitas di media sosial.

“Mungkin mulutmu diam, tapi jempolmu aktif. Nulisnya nyelekit luar biasa. Maka ayo kita bersihkan juga,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh anggota tubuh perlu dijaga dari perbuatan tercela. Tangan, misalnya, tidak cukup hanya dibersihkan secara fisik, tetapi juga harus dijauhkan dari tindakan yang merugikan orang lain.

“Ternyata membersihkan tangan itu tidak sekadar cuci tangan, tapi juga membersihkan dari perbuatan yang menyakiti dan menyusahkan orang,” lanjutnya.

Memasuki tingkatan ketiga, Fahrudin Faiz menyoroti pentingnya membersihkan pikiran. Ia menyebut banyak orang terjebak dalam pikiran negatif, sia-sia, hingga overthinking yang merusak ketenangan batin.

“Pikiran juga harus dibersihkan dari yang negatif, yang merusak, dan yang sia-sia,” ujarnya.

Tingkatan keempat adalah pembersihan jiwa dari akhlak tercela seperti iri, dengki, hasad, dan kesombongan. Menurutnya, inilah bagian yang jauh lebih sulit karena menyangkut dimensi batin manusia.

“Akhlak tercela itu seperti iri, dengki, hasud, sombong. Ini jauh lebih berat,” katanya.

Adapun tingkatan kelima sekaligus yang paling dalam adalah membersihkan dimensi ruhani, yakni hati terdalam (sir), dari segala sesuatu selain Allah. Pada tahap ini, seseorang dituntut menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup.

“Yang paling dalam itu kita bersihkan dari yang selain Allah. Orientasi hidup kita hanya Allah saja,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keinginan duniawi seperti memiliki rumah, kendaraan, atau jabatan tetap diperbolehkan. Namun, semua itu tidak boleh menjadi tujuan akhir.

“Boleh punya keinginan dunia, tapi jangan dijadikan tujuan final. Jadikan itu jembatan untuk mendekat kepada Allah,” tuturnya.

Menurutnya, seluruh proses pembersihan diri ini berlangsung bertahap, mulai dari yang paling lahiriah hingga yang paling batiniah. Jika mampu menjalani kelima tahap tersebut, seseorang berpeluang benar-benar kembali pada fitrah di hari Idul Fitri.

Ia juga mengingatkan agar tidak keliru memaknai Idul Fitri sebagai sekadar momen kembali makan setelah berpuasa.

“Banyak yang memaknai Idul Fitri itu kembali bisa makan lagi. Padahal bukan itu maknanya,” ujarnya.

Melalui pemahaman ini, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum menyeluruh untuk membersihkan diri, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih bersih, baik secara lahir maupun batin.


Editor: Kendi Setiawan
logo