Jakarta, Arina.id - Ramadan memang spesial bagi warga +62 ini. Sebulan ke depan dalam momentum puasa hingga Lebaran, seperti tahun sebelumnya, apa saja yang dikonsumsi masyarakat Indonesia secara statistik kecenderungannya bakal meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Konsumsi jajanan naik, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, transportasi perjalanan naik, pokoknya hampir semua naik.
Kemudian saban Ramadan juga, masjid-masjid surplus jemaah. Salat Maghrib, Isyak, Tarawih dan Subuh penuh. Pendek kata, Ramadan adalah bulan beribadah. Lalu bagaimana dengan hiburan? Ketika banyak pusat-pusat hiburan malam tutup, kini di era masyarakat digital justru konsumsi hiburan konten digital malahan naik.
Seperti disampaikan Country Manager Viu Avijit Dutta. Menurut dia, industri konten digital di Indonesia sudah mulai menghadapi lonjakan konsumsi yang diprediksi akan kembali terjadi selama Ramadan. Platform-platform seperti YouTube dan TikTok mengalami peningkatan penggunaan hingga tiga kali lipat pada periode yang sama tahun lalu.
"Setiap tahun, kami melihat peningkatan tiga kali lipat dalam konsumsi konten selama bulan Ramadan. Ini adalah waktu di mana masyarakat mencari hiburan dan informasi untuk mengisi waktu luang mereka," ujar Avijit dalam acara gala premier serial "Saudade" di kawasan Senayan, Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Senin 3 Maret 2025.
Avijit pun meyakini pada periode Ramadan tahun lalu, aplikasi hiburan seperti Viu bisa memiliki jumlah unduhan yang meningkat secara drastis, bahkan mengungguli aplikasi populer seperti WhatsApp, TikTok, dan lain-lain. Ia berharap Viu bisa menangkap imajinasi gen Z Indonesia demi mendorong unduhan aplikasi, dan meraup popularitas konsumsi hiburan digital.
Viu pun mengarahkan tim produksi, tim monetisasi, tim pemasaran, serta para pemain dan kru yang berkontribusi menghasilkan tayangan serial orisinal Viu untuk menargetkan kampanye pemasarannya kepada gen Z, supaya menonton langsung konten menghibur dan bermanfaat dari Viu.
Avjit juga mengajak seluruh tim produksi konten digital lokal di Indonesia untuk terus berinovasi dan berinteraksi dengan generasi muda, dan menghasilkan konten-konten yang kreatif dan bermanfaat. Dengan persiapan yang matang dan konten-konten yang menarik, ia optimistis industri ini dapat meraih kesuksesan di Indonesia pada bulan Ramadhan tahun ini.
Asumsi tersebut selaras dengan hasil survei Populix, perusahaan riset online yang mengeluarkan riset pada 2024 lalu. Risetnya bertajuk Ramadan 2024: Connectivity, Media Consumption, and Delivery Dynamic. Dalam laporan tersebut, diperkirakan terjadi peningkatan konsumsi layanan seluler sebesar lebih dari 40%, terutama untuk layanan berbasis internet seperti panggilan, pengiriman pesan, dan penggunaan data saat Ramadan.
Saat itu, Head of Research Populix Indah Tanip menjelaskan, masyarakat makin mencari keamanan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi dan internet saat Ramadan. Survei dilakukan secara online terhadap total 1.029 responden, laki-laki dan perempuan berusia 17-55 tahun di Indonesia.
Hasilnya, untuk tingkat konsumsi survei menunjukkan masyarakat memilih layanan voice call dan video call dibandingkan dengan teleconference untuk berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain. Namun demikian, mereka merasa terganggu dengan dua tantangan utama yang sering dihadapi terkait konektivitas di bulan Ramadan, yaitu kualitas sinyal yang buruk dan kecepatan internet yang lambat.
Kemudian terdapat empat jenis konten yang paling banyak diakses oleh umat Muslim, yaitu informasi terkait jadwal ibadah selama bulan puasa, konten hiburan, resep masakan, serta program kuliner untuk sahur dan buka puasa. Mayoritas responden dengan persentase 42% mengonsumsi konten-konten tersebut sebelum jam berbuka puasa, yang menunjukkan kecenderungan mereka menggunakan media untuk menghabiskan waktu sambil menunggu waktu salat Maghrib atau ngabuburit.
Lalu, ada pula peningkatan konsumsi yang terlihat pada layanan pengiriman. Tiga dari empat umat Muslim menyatakan bahwa mereka menggunakan layanan pengiriman selama Ramadan dengan 42% di antaranya menyatakan akan lebih sering menggunakan layanan pengiriman dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Secara khusus, layanan pengiriman dimanfaatkan untuk membeli makanan dan minuman sebanyak dua sampai tiga kali seminggu, baik untuk sahur maupun berbuka puasa. Peningkatan pembelian makanan dan minuman ini memperlihatkan preferensi konsumen terhadap kenyamanan dan efisiensi dalam hal mempersiapkan hidangan makanan selama bulan puasa.
Editor: Muhammad Taufiq
