Jakarta, Arina.id — Patah hati, kesedihan, kemarahan, dan rasa takut merupakan bagian dari pengalaman hidup yang tidak selalu dapat dihindari. Namun, dalam perspektif sufisme, berbagai perasaan tersebut tidak harus dilawan atau disangkal.
Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz menjelaskan, salah satu cara menghadapi penderitaan adalah menerima situasi yang sedang dialami tanpa menghakimi diri sendiri. Setelah itu, seseorang perlu menghadirkan Allah untuk menemani dan menjadi tempat bersandar dalam menghadapi luka.
“Terimalah situasimu tanpa menghakimi. Aku marah, aku takut, aku benci. Biar saja, rasakan saja. Ini aku sedang patah hati, sedang marah, sedang takut, sedang benci,” kata Fahruddin Faiz dalam tayangan Ruang Sinau diakses Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, setelah seseorang mampu menyadari dan menerima perasaan tersebut, langkah berikutnya adalah membuka ruang dalam hati untuk menghadirkan pertolongan Allah.
“Biarkan cahayanya Allah masuk dalam dirimu, menerangimu. Saat engkau membutuhkan, pertolongan Tuhan pasti datang. Jika engkau tertutup, tidak ada ruang untuk cahaya,” jelasnya.
Fahruddin mengatakan, manusia perlu memiliki “celah” dalam hati agar dapat menerima pertolongan dan cahaya Ilahi. Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mengakui keterbatasannya sekaligus menyerahkan seluruh luka dan penderitaan kepada Allah.
“Katakana dengan tulus, ‘Aku tidak bisa mengatasinya. Namun Engkau bisa, Ya Allah, kupersembahkan padamu semua sakit dan luka ini.’ Bersamanya engkau akan utuh kembali. Cinta, kedamaian, keindahan hidup kembali,” tuturnya.
Bersyukur di Tengah Penderitaan
Fahruddin menjelaskan, para sufi memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi penderitaan. Salah satunya dengan tetap bersyukur karena penderitaan dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan sejati merupakan perjalanan menuju Allah.
“Makanya para sufi terus punya rumus kalau dalam penderitaan kita bersyukur. Alhamdulillah masih diingatkan oleh Allah bahwa yang hakiki adalah perjalanan menuju Dia,” katanya.
Ia menambahkan, ketika seseorang sedang menghadapi persoalan berat, termasuk patah hati, tidak perlu merasa bahwa kehidupannya telah berakhir. Sebaliknya, luka tersebut dapat menjadi momentum untuk kembali mendekat kepada Allah.
“Jadi ketika kita sedang berat-beratnya menghadapi masalah apa pun, terimalah itu. Biarkan hatimu pecah. Kemudian rasakan hadirnya Dia dalam dirimu dan yakinlah bahwa apa pun yang engkau inginkan akan dipenuhinya,” ujarnya.
Menurut Fahruddin, seseorang juga dapat menyampaikan seluruh keluh kesahnya kepada Allah dengan jujur. Dengan begitu, kesedihan dan luka tidak hanya dipendam, tetapi diserahkan kepada Zat yang diyakini mampu menolong.
“Ya Allah, masalahku ini sangat berat. Aku tidak mampu. Kalau Engkau pasti mampu, maka aku persembahkan duka, luka, sakitku ini hanya kepada-Mu,” ucapnya.
Fahruddin menegaskan, pengalaman patah hati tidak serta-merta menghilangkan nilai diri seseorang. Kehidupan tetap dapat dilanjutkan dan seseorang masih memiliki kesempatan untuk memulai kembali.
“Kalau kita patah hati kan sebenarnya kita berkurang apa sih? Tidak ada. Kita masih bisa memulai lagi yang baru seperti semula,” katanya.
Karena itu, ketika seseorang mulai merasakan bahwa kedekatan dengan Allah mampu memberikan ketenangan, Fahruddin mengajak untuk terus mensyukuri kehadiran-Nya, termasuk ketika berada dalam situasi yang pahit dan penuh luka.
“Alhamdulillah, ya Allah, Engkau masih mau menemaniku dalam situasi pahit dan luka ini,” ujarnya.
Cinta Tidak Selalu Berarti Kehadiran Fisik
Selain berbicara tentang cara menghadapi patah hati, Fahruddin mengutip pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi mengenai cinta dan perpisahan.
Menurut Rumi, perpisahan secara fisik tidak selalu berarti berakhirnya cinta. Cinta yang bersemayam dalam hati dan jiwa tidak ditentukan oleh jarak maupun kehadiran fisik seseorang.
“Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan matanya. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada yang namanya perpisahan,” kata Fahruddin mengutip Rumi.
Ia menjelaskan, seseorang kerap merasa patah hati karena orang yang dicintainya tidak lagi berada di sisi atau tidak lagi memberikan kebersamaan seperti sebelumnya. Namun, perasaan tersebut dapat muncul karena cinta dipahami sebatas kehadiran fisik.
“Kalau kita sedih karena itu, kata Rumi ini kemungkinan kita hanya mencintai dengan media mata. Hanya karena tidak melihat dia di sisi kita, kita menyebut itu perpisahan,” jelasnya.
Sebaliknya, bagi orang yang mencintai dengan hati dan jiwa, jarak fisik tidak serta-merta menghapus keberadaan orang yang dicintai dari dalam dirinya.
“Hati dan jiwa itu tidak mengenal perpisahan fisik. Sejauh apa pun dirimu, engkau tetap ada dalam diriku,” ujarnya.
Fahruddin mengatakan, pandangan tersebut juga dapat menjadi cara untuk memahami hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Namun, ia mengingatkan agar kutipan tersebut tidak digunakan secara sembarangan, terutama kepada mantan kekasih yang telah memiliki pasangan.
“Jadi selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan matanya. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwanya tidak ada yang namanya perpisahan,” katanya.
Meski demikian, Fahruddin menyampaikannya dengan nada humor. Ia mengingatkan, mengirimkan kutipan tersebut kepada mantan yang sudah memiliki pasangan justru dapat menimbulkan persoalan baru.
“Quote ini jangan dikirimkan ke mantanmu yang sudah punya pasangan, ya. Nanti bisa jadi masalah. Mantan kok ngirim yang ini, itu bisa trouble,” selorohnya.
Editor: Kendi Setiawan
