Sambut Baik Gencatan Senjata, Ketum PBNU: Dunia Harus Melihat Palestina sebagai Negara Kesatuan

Sambut Baik Gencatan Senjata, Ketum PBNU: Dunia Harus Melihat Palestina sebagai Negara Kesatuan

Jakarta, Arina.id—Tahap pertama gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku. Pasukan Israel mulai menarik diri dari beberapa wilayah Gaza pada hari Jumat (10/10/2025) berdasarkan perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan ke Timur Tengah, Minggu (12/10/2025). Laporan kantor berita Associated Press, menyebutkan, AS berencana mengirimkan pasukan berkekuatan 200 tentara untuk awasi proses perdamaian di Gaza.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf Ketua menyambut baik penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, Palestina, yang diusulkan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di wilayah tersebut.

"Betapa saya bersyukur karena sekurang-kurangnya kekerasan berhenti. Jangan lagi ada orang terluka apalagi orang mati. Soal keadilan mari kita urus nanti pertama-tama hentikan kekerasan," kata Gus Yahya ditemui usai Kick Off Hari Santri 2025 di Gedung PBNU, Kramat Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Gus Yahya menegaskan pentingnya dunia melihat Palestina sebagai satu negara kesatuan. Menurutnya, percuma jika  bicara tentang solusi dua negara jika tidak bisa berpikir sebagai satu kesatuan.

"Ini yang ingin menjadi arah perjuangan kita ke depan untuk bangsa Palestina," katanya.

Gus Yahya juga meminta perhatian kepada seluruh masyarakat di dunia agar tidak hanya fokus memperhatikan Jalur Gaza, tetapi juga masyarakat di Tepi Barat Palestina.

"Jangan cuma Gaza, tetapi juga di Tepi Barat karena namanya perundungan kemanusiaan itu juga terjadi sangat parah di sana, maka Palestina sendiri ini harus dilihat sebagai satu kesatuan," pintanya.

Pemerintah Israel meratifikasi gencatan senjata dengan Hamas pada Jumat dini hari, ini membuka jalan untuk menghentikan permusuhan di Gaza dalam waktu 24 jam dan membebaskan sandera.

Warga Israel dan Palestina sama-sama bersukacita setelah kesepakatan tersebut diumumkan, yang merupakan langkah terbesar dalam mengakhiri perang selama dua tahun yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, dan mengembalikan sandera terakhir yang disandera oleh Hamas dalam serangan mematikan yang memicu hal tersebut.


Editor: Kendi Setiawan
logo