Jakarta, Arina.id – Di hari rayo nan ka tibo// denai pulang jo minantu bundo//Jo oto baru, kileknyo rancak, sirah warnanyo//Jo oto baru, kileknyo rancak, sirah warnanyo//Alah batahun rantau manjadi labuahan hiduik//Tabayang kampuang tampek bamain maso dulunyo//Rindu manahun manyeso diri, siang jo malam samakin laruik
Petikan lagu Taragak Pulang mulai ramai dijadikan song warganet yang mengunggah story perjalanan ke kampung halaman.
Lagu nuansa Minang ini seolah menggambarkan perjuangan para perantau yang setiap tahun menanti momen mudik Lebaran. Setelah berbulan-bulan bekerja keras di Tanah Rantau mereka akhirnya bisa pulang ke kampung halaman, bertemu family, melepas rindu, dan merayakan Idul Fitri dengan keluarga. Pulang kampung atau mudik pun menjadi hal yang sangat dinantikan.
Mudik bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ritual tahunan yang sarat makna. Antrean panjang yang mengular di stasiun, perjuangan war tiket, kemacetan di jalan tol, hingga pemudik motor yang cengtri (bonceng bertiga) adalah pemandangan yang selalu menghiasi musim mudik di Indonesia.
Namun, tidak semua perantau bisa pulang dengan nyaman. Beberapa harus memutar otak agar nyaman mudik tanpa menguras tabungan.
Erman (55), seorang pengemudi bajaj di Jakarta, memilih cara unik untuk pulang kampung. Alih-alih naik bus atau kereta, ia lebih memilih mengendarai bajajnya sendiri menuju Cirebon.
Bukan sekali ini saja ia melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan roda tiga berwarna biru itu. Mudik pakai bajaj sudah rutin dilakukan setiap tahun bersama beberapa rekan seprofesinya.
"Saya punya dua anak, masih kuliah. Lebih baik uangnya saya gunakan untuk bayar semester, ini saja masih kurang. Pulang naik bajaj sama teman-teman saja," ujar Erman saat ditemui di dekat Stasiun Tanah Abang beberapa waktu lalu.
Baginya, pulang kampung adalah kewajiban, bukan sekadar keinginan. Meski penghasilan dari menarik bajaj tidak seberapa, ia tetap menyisihkan uang untuk bisa pulang.
"Orang tua dan istri saya sudah meninggal, jadi walaupun enggak ada biaya saya tetap akan pulang untuk ke makam istri dan orang tua," katanya dengan mata menerawang.
Jika Erman memilih untuk tetap mudik, tidak demikian dengan Dawail, seorang pengemudi ojek online di Kota Bekasi. Tahun ini, ia merelakan istri dan ketiga anaknya mudik tanpa dirinya.
"Istri dan anak sudah balik ikut mudik gratis. Saya daripada habis buat mudik, mending Lebaran di sini. Uangnya bisa buat bayar kontrakan dan sekolah anak," ujar Dawail.
Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus mempertimbangkan banyak hal. Ongkos mudik ke kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah, bisa mencapai lebih dari Rp5 juta—belum termasuk biaya kembali ke Jakarta dan kebutuhan lainnya.
Ia bisa saja mengikuti perilaku beberapa rekan ojol yang memilih jalan pintas dengan pinjaman online (pinjol), tetapi itu bukan pilihannya.
"Penghasilan ojol enggak seberapa, THR saya cuma dapat Rp450 ribu. Mana cukup buat pulang kampung?" katanya.
"Daripada maksa pulang dengan pinjam duit, enggak mau pusing saya. Pulang kan buat silaturahmi, bukan nambah beban," imbuhnya.
Lebaran Tak Semeriah Tahun Lalu
Tahun 2025 ini, suasana Lebaran di Jakarta tak sepi seperti biasanya. Hingga Jumat (28/3/2025), wilayah Jabodetabek masih terpantau ramai oleh mereka yang memilih tidak mudik.
Menurut hasil survei yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi, Pusat Statistik, Kementerian Perhubungan, dan akademisi, jumlah pemudik tahun ini hanya 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari penduduk Indonesia. Angka itu turun 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.
Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor, seperti jarak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berdekatan dengan Idul Fitri, kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih memilih untuk menabung, serta meningkatnya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Tahun lalu asumsi perputaran uang selama Idul Fitri 2024 mencapai Rp157,3 triliun, maka asumsi perputaran uang libur Idul Fitri 2025 hanya sekitar Rp137,975 triliun," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang.
Di sisi lain, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah turut memengaruhi kesiapan pelayanan transportasi mudik tahun ini.
Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi, Deddy Herlambang, menyebut berbagai kebijakan pemerintah saat ini harus menyesuaikan dengan anggaran yang sudah terkena efisiensi.
"Dampak efisiensi saat ini telah ke mana-mana," ujarnya dikutip Kompas.id.
Editor: Kendi Setiawan
