Allah Punya Banyak Cara Menjawab Qunut Nazilah Kita Buat Rakyat Palestina

Allah Punya Banyak Cara Menjawab Qunut Nazilah Kita Buat Rakyat Palestina

Jakarta, Arina.id - Cara Allah, Tuhan yang Maha Esa, penguasa jagat raya menjawab doa hamba-hambanya bisa bermacam-macam. Bisa secara langsung, mungkin. Atau bisa juga berkelok melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Namun yang pasti, sebagai hamba, umat Islam sebaiknya  khusnudzon (berprasangka baik) dengan cara Tuhan menjawab doa-doa.

Dalam konteks perjuangan pembebasan Rakyat Palestina misalnya. Saat ini, faktanya, genosida yang dilakukan oleh Militer Israel terhadap muslim di sana masih belum disudahi. Perang masih terjadi meskipun jutaan muslim di seluruh dunia mendoakan agar konflik segera berhenti. Tapi apakah kemudian Tuhan mengabaikan doa-doa mereka? Jangan suudzon (berprasangka buruk) dulu.

Kiai Ulil Abshar Abdalla, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menaruh konteks masalah Palestina ini dalam dimensi lebih luas lagi: dimensi politik, agama, budaya, kemudian ekonomi. Palestina saat ini ada di tengah pusaran pertarungan geopolitik kawasan midle east. Sentral isunya ada pada lima proxy kekuatan: Negara di kawasan Teluk (Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab), kemudian Iran, Israel, Amerika, dan China.

Untuk Amerika, era kepemimpinan presiden Joe Biden dan Donald Trump memiliki perbedaan cukup signifikan pada penyelesaian perang Palestina ini. Dulu Israel bisa menggalang kekuatan Eropa yang di-support Amerika (Biden) saat menjajah Palestina. Namun sekarang peta geopolitiknya berubah. Hubungan Trump dengan Netanyahu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. 

Trump yang berlatar belakang pengusaha ingin menyelesaikan segala persoalan menggunakan pendekatan ekonomi. Tanpa melibatkan Israel, Paman Sam pedekate (pendekatan) ke Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab--yang secara politik tentu terusik dengan gerakan proxy-proxy Iran di kawasan (Houthi, Hizbullah, dan seterusnya). Trump mencari dukungan untuk mengembalikan kejayaan Amerika yang mulai digeser oleh China waakhwatuha. 

"Kalau kita di sini doa qunut saja. Bisa jadi jawaban qunut kita ya itu: Wuling (merujuk produk kendaraan buatan China)," seloroh Kiai Ulil dalam diskusi bertajuk 'Amerika dan Dunia Arab Pasca Kunjungan Presiden Donald Trump' yang digelar Forum Kramat di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (23/5/2025).

Kenapa China? Analisisnya kurang lebih begini, ketika China and the gank (Rusia, Brazil, India, Iran..,dll) muncul sebagai kekuatan baru ekonomi global mengusik dominasi AS, Trump yang seorang pengusaha mulai membaca hal itu. Kemudian ia merespons dengan kunjungan ke negara-negara Teluk. Dulu, saat Perang Israel-Palestina meledak di masa Presiden Joe Biden pada 2023 lalu, negara-negara Teluk ini mendukung Palestina bersama Iran. Bahkan China, Rusia, juga ramai-ramai membela Palestina.

Trump sepertinya hendak memecah hal itu. Konsekuensinya, Trump seperti meninggalkan Netanyahu, dan justru mendekati negara-negara Sunni di kawasan Teluk yang secara ideologi memang berbeda dengan proxy Syiah Iran. Saat Trump melawat ke Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab yang dibungkus strategi ekonomi ini, sentral isu tidak lagi pada perang fisik semata, namun lebih pada perang ekonomi.

Menurut Kiai Ulil, situasi yang demikian itu membuat dinamika politik kawasan berubah. "Ini adalah kunjungan yang mengejutkan, karena kali ini tidak ada Israel dalam daftar negara yang dikunjungi. Hal ini mencerminkan dinamika politik baru," kata Ulil. "Ini menunjukkan adanya pemulihan hubungan dan pergeseran orientasi geopolitik AS," ucapnya melanjutkan.

Namun ketika Trump mendekat ke Teluk, di lain sisi negara-negara Eropa seperti bingung. Baru-baru ini, Inggris, Prancis dan Kanada, yang semula sekutu Israel malah balik mendesak negeri Zionis tersebut agar membuka blokade bantuan kemanusiaan dan segera menghentikan serangan ke Gaza. Desakan ini sampai membuat Netanyahu meradang.

Dalam konteks sekarang, Netanyahu yang memang berambisi membumihanguskan Gaza seperti ditinggal sendirian. "Jadi kalau bicara Palestina, yang memang sampai sekarang ini semuanya masih tergantung pada ke mana sikap Amerika," kata Ulil menambahkan.

Lalu moderator diskusi, Ahmad Rozali menyimpulkan, bisa jadi qunut nazilah yang dibaca umat Islam di manapun untuk mendoakan pembebasan rakyat Palestina, jawabannya ada pada China. "Memutar ya, jadi jangan-jangan jawaban dari doa qunut kita ya lewat China itu," ujarnya berseloroh yang kemudian juga ditimpali peserta diskusi dengan Tawa. 


Editor: Muhammad Taufiq
logo