Jakarta, Arina.id - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke wilayah Venezuela yang disertai penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada awal Januari 2026 diperkirakan berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Amerika Latin serta pergerakan harga minyak dunia.
Aksi koboi AS itu dinilai bakal menjadi preseden bagi aksi-aksi militer negara lain, seperti China bisa saja melakukan hal serupa kepada Taiwan. Apalagi AS dan China sebagai negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dinilai relatif kebal dari sanksi internasional, sehingga memicu kekhawatiran bakal melemahkan sistem hukum internasional.
Pengambilalihan 350 miliar barel cadangan minyak mentah Venezuela oleh AS juga akan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Sebagaimana dikatakan Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi.
Jika ekspor minyak Venezuela terganggu atau terjadi sanksi tambahan, harga minyak bisa naik signifikan. "Harga minyak Brent bisa menembus UD 75 per barel hingga USD 80 per barel, tergantung pada durasi dan eskalasi konflik. Pasar juga akan mencermati respons OPEC+ terhadap potensi kekurangan pasokan," katanya.
Serangan AS tersebut juga memicu kecaman dari sejumlah negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu Venezuela, seperti Rusia, Iran, dan China. Pemerintah Rusia menyebut tindakan AS berpotensi memperburuk krisis regional.
"Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk. Dalih yang digunakan untuk membenarkan tindakan tersebut tidak berdasar. Amerika latin harus tetap menjadi zona damai," ucap Kementerian Luar Negeri Rusia.
Perselisihan dengan AS
Dilansir The Guardian, hubungan Amerika Serikat dan Venezuela telah lama diwarnai ketegangan sejak Hugo Chávez menjabat sebagai presiden pada 1999.
Chávez, yang dikenal sebagai sosialis dan tokoh anti-imperialisme, kerap mengkritik kebijakan luar negeri AS, termasuk invasi ke Afghanistan dan Irak, serta menjalin aliansi dengan Kuba dan Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah Chávez menuduh AS terlibat dalam upaya kudeta terhadap dirinya pada 2002. Sejak saat itu, Venezuela kerap dipandang sebagai musuh ideologis AS, khususnya oleh kelompok garis keras di Partai Republik.
Di bawah pemerintahan Chávez, dan kemudian Nicolas Maduro, AS berulang kali mengecam Venezuela atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan oposisi politik, serta nasionalisasi sektor swasta. Hubungan kedua negara kian memburuk setelah Maduro menggantikan Chávez pada 2013.
Pada 2019, pemerintahan Trump bahkan menyatakan pemerintahan Maduro tidak sah dan mengakui Ketua Parlemen Juan Guaidó sebagai presiden sementara Venezuela.
Dalam pemilihan presiden Juli 2024, Maduro disebut mengalami kekalahan berdasarkan data yang dirilis oposisi dan diverifikasi sejumlah pengamat independen. Pemerintahan AS saat itu mengakui kandidat oposisi Edmundo González sebagai pemenang. Namun, Maduro tetap mempertahankan kekuasaan melalui penindakan terhadap oposisi.
Maduro sendiri telah memimpin Venezuela sejak 2013. Ia dikenal sebagai mantan sopir bus yang kemudian naik daun di era Chávez dan sempat menjabat sebagai menteri luar negeri sebelum menjadi presiden.
Serangan AS ke Venezuela
Sebelumnya, pada Sabtu dini hari 4 Januari 2026, sebuah ledakan terdengar di Caracas, Ibu Kota Venezuela. Warga setempat melaporkan adanya ledakan di berbagai bagian kota, termasuk di sekitar Bandara Internasional Maiquetia "Simon Bolivar" dan Pelabuhan La Guaira.
Sedikitnya 40 orang, termasuk warga sipil dan tentara, tewas dalam serangan hari Sabtu, lapor New York Times, mengutip seorang pejabat senior Venezuela.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya kemudian ditangkap dan dibawa ke pusat penahanan pra-persidangan di Brooklyn. Dia disebut akan diadili di AS dengan tudingan terorisme dan perdagangan narkoba.
"Maduro didakwa dengan konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat destruktif, dan konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat perusak terhadap Amerika Serikat," ungkap Jaksa Agung AS Pamela Bondi lewat akun X resminya.
Sementara itu Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan, sebelum melancarkan serangan dan melakukan penangkapan terhadap Maduro, Donald Trump sudah menyodorkan beberapa tawaran kepada Venezuela.
Namun Vance mengeklaim, tawaran tersebut diabaikan. Menurut Vance, Maduro adalah buronan hukum AS. "Anda tidak bisa menghindari keadilan atas perdagangan narkoba di Amerika Serikat hanya karena Anda tinggal di istana di Caracas," katanya.
Editor: Muhammad Taufiq
