Bandarlampung, Arina.id- Bertempat di kediamannya di Jati Agung Lampung Selatan, Ahad (25/8/2024), Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. KH Moh. Mukri meluncurkan Buku berjudul The Smiling Professor Mohammad Mukri. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup tokoh yang juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini.
Dalam peluncuran tersebut penulis dan juga editor buku tersebut, Juwendra Asdiansyah menyebut Prof Mukri menjadi satu dari sekian tokoh Lampung yang paling populer. Walau dia bukan politikus ataupun artis, namun Prof Mukri merupakan akademisi dan guru besar yang ajuga aktivis sejak 30-an tahun lalu.
Sejumlah posisi penting dijabat oleh Prof Mukri di antaranya, belasan tahun menjadi Rektor IAIN dan UIN Raden Intan Lampung, Ketua PW GP Ansor Lampung, Ketua PWNU Lampung, dan Rektor UNU Blitar Jawa Timur. Namun ‘mahkota popularitas’ nya itu tidak dipedulikan pria kelahiran Pringsewu 16 April 1959 ini.
“Buku ini digarap tidak instan. Sudah dimulai dengan diskusi-diskusi sejak 4-5 tahun lalu dan mulai digarap dua tahun lalu,” kata Bang Juwe, sapaan karib editor buku 374 halaman ini.
Menurutnya, sangat penting untuk mendokumentasikan perjalanan hidup para tokoh-tokoh di lingkungan masyarakat untuk bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. Faktanya, banyak tokoh yang layak untuk didokumentasikan namun terlewatkan sehingga generasi muda tidak mengenal jasa ataupun kiprah inspiratifnya.
Bang Juwe pun merasa puas bisa membukukan perjalan hidup Prof Mukri yang telah berhasil menjadi rektor sukses di UIN Raden Intan Lampung. Kesuksesan ini menjadikan Prof Mukri memiliki nama spesial yang disematkan oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang menyebutnya sebagai Professor Mohammad ‘Rektor’ Mukri.
Tidak ada yang bisa memungkiri fakta jika UIN Raden Intan dengan segala perubahan drastis, dari Perguruan Tinggi biasa menjadi Perguruan Tinggi luar biasa, merupakan hasil karya tangan dinginnya selama menjadi Rektor selama hampir 4 periode. Dari perguruan tinggi kurang peminatnya, menjadi perguruan tinggi yang dari sisi jumlah mahasiswa merupakan paling tinggi di Indonesia.
Dari fisik kampusnya, tidak ada yang mengira jika kampus yang dulunya di tengah rawa-rawa dan dipandang sebelah mata, saat ini 'disulap' oleh Prof Mukri menjadi kampus yang sejuk dan hijau dengan bangunan yang sagat megah di dalamnya. Tak heran jika dengan kemajuan ini, Kampus UIN Raden Intan mendapat penghargaan sebagai kampus hijau berkelanjutan di Indonesia setelah memperoleh peringkat ke-8 kampus hijau berkelanjutan (The 8th Most Sustainability Campus in Indonesia) dan peringkat 82 dunia. Hal ini berdasarkan penilaian dari lembaga pemeringkat dunia dibidang lingkungan berkelanjutan UI GreenMetric.
"Kita tidak usah merasa siapa-siapa. Kita ini bukan siapa-siapa. Sepintar apapun kita, ketika sendirian, kita tetap bukan siapa-siapa" (Prof. Mukri)
Peluncuran buku yang digelar sederhana di kediaman Prof Mukri ini dihadiri oleh banyak tokoh Lampung dari beragam profesi. Mulai Rektor, Professor, akademisi, jurnalis, pengacara, politisi, pengusaha, guru, ulama, sampai dengan pejabat pemerintahan yang juga menuliskan testimoni kiprah Prof. Mukri dalam buku tersebut.
“Prof. Mukri merupakan ensiklopedi berjalan kehidupan yang semakina banyak kita membuka entri-entrinya, semakin banyak kita tahu,” kata Kepala Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Lampung H Puji Raharjo yang hadir pada acara tersebut.
“Beliau adalah senior yang inspiratif dan mengayomi. Saya belum lama kenal dengan beliau namun banyak inspirasi dan motivasi yang sudah saya dapatkan,” kata Prof. Nyayu Khodijah, Rektor UIN Raden Fatah Palembang yang juga turut hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Mukri mengatakan bahwa apa yang ia lakukan dalam kiprahnya diniatkan untuk terselenggaranya kebaikan. Ia ingin menjadi orang yang mampu memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Hal ini sesuai dengan hadits nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberi manfaat pada orang lain.”
“Terimakasih kepada semua rekan-rekan, sahabat, dan semua yang telah menulis testimoni dalam buku ini,” ungkap Prof Mukri yang merupakan Alumni Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur dan Krapyak Yogyakarta ini.
Sejumlah tokoh menulis testimoni dalam buku dibagi menjadi 4 bab ini. Di antaranya Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Mantan Bupati Pringsewu KH Sujadi, Ketua LTNNU PBNU Ishaq Zubaedi Raqib, Akademisi UIN Raden Intan Prof Alamsyah, Prof. Idam Khalid, Prof. Faisal, Prof Erina pane, dan Prof. Ruslan Abdul Ghafur.
Empat Bab dalam buku ini meliputi Bab I Santri Kutu Buku Jadi Maha Guru, Bab II Yang Bisa Dilihat, Dirasa, dan Disentuh, Bab III Mereka yang Membaca Mukri, dan Bab IV Sepucuk Pemikiran.
“Kita tidak usah merasa siapa-siapa. Kita ini bukan siapa-siapa. Sepintar apapun kita, ketika sendirian, kita tetap bukan siapa-siapa,” demikian kata bijak Prof Mukri yang memang terkenal mampu bergaul dengan banyak kalangan dan tertulis besar dalam buku itu.
Editor: Muhammad Faizin
