Ketika Kelir Jadi Mimbar: Filosofi Dewa Ruci di Panggung Wisuda XI Unugha Cilacap

Ketika Kelir Jadi Mimbar: Filosofi Dewa Ruci di Panggung Wisuda XI Unugha Cilacap

Cilacap, Arina.id –Suasana khidmat Sidang Senat Terbuka Wisuda XI Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (Unugha) Cilacap di Patra Graha Convention, Sabtu (19/09/2026), berubah menjadi sarat makna kebudayaan dan nilai spiritual.

Di sela-sela prosesi kelulusan, sebuah sajian pertunjukan wayang bertajuk Bima Ngaji Dewa Ruci mencuri perhatian ratusan wisudawan, orang tua, dan civitas akademika yang hadir.

Pertunjukan yang berlangsung sekitar lima menit tersebut dimainkan secara apik oleh Taufik Hidayat, seorang sarjana baru dari Fakultas Keagamaan Islam, Program Studi Pendidikan Guru Agama Islam (PAI). Lewat sabetan wayang dan kelincahan olah vokal, Taufik menghidupkan kembali kisah pencarian ilmu spiritual Werkudara yang penuh alegori.

Perjuangan Mencari Ilmu dan Keluar dari Zona Nyaman
Lakon dibuka dengan gambaran rintangan hebat yang dihadapi Bima, mulai dari gempuran raksasa hingga serangan naga di kedalaman samudera. Rintangan fisik tersebut melambangkan pahit manis dan ujian berat yang pasti ditemui oleh setiap pencari ilmu dalam mengarungi dinamika kehidupan.

Dalam dialog antara Bima dan sosok mungil Dewa Ruci, terselip pesan mendalam mengenai keberanian menghadapi ketidakpastian. Dewa Ruci menegaskan bahwa:

"Lebih baik terjebak dalam kesulitan perjuangan daripada tertahan dalam zona nyaman yang tanpa kepastian."

Pesan ini menjadi tamparan sekaligus pelecut semangat bagi para wisudawan yang akan segera melangkah keluar dari gerbang kampus menuju dunia nyata.

Mengenal Diri untuk Mengenal Ilahi
Puncak dari pertunjukan wayang ini menyentuh inti ajaran tasawuf Jawa yang disarikan melalui ungkapan klasik: Man 'arafa nafsahu faaqad 'arafa rabbahu.

Artinya: "Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia akan mengenal Tuhannya."

Dialog Bima dan Dewa Ruci mengingatkan bahwa puncak dari pencarian intelektual bukanlah sekadar menumpuk gelar, melainkan proses introspeksi mendalam untuk mengenali hakikat diri dan hubungan sang hamba dengan Penciptanya.

Simbol Spiritual di Balik Atribut Bima
Taufik Hidayat secara rinci membedah bahwa setiap busana dan pusaka yang dikenakan oleh Bima bukanlah hiasan tanpa makna, melainkan petunjuk hidup bagi seorang muslim:

Pupuk Mas Rineko Jaroting Asem: Mengingatkan manusia untuk selalu sadar akan asal-usul kreasinya dan menjauhi sifat egois atau sombong.

Gelung Minangkara: Simbol ikatan komitmen manusia untuk senantiasa mendirikan ibadah dan menjalankan salat lima waktu.

Sabuk Naga Banda: Melambangkan pengikat diri agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan membentengi diri dari mengonsumsi rezeki yang haram.

Aji Bandung Bondowoso: Simbol keteguhan niat untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci manakala telah memiliki kemampuan lahir dan batin.

Empat Cahaya dan Navigasi Jiwa
Saat Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci, ia menyaksikan empat pendar cahaya: merah, putih, kuning, dan hitam. Keempat warna ini menggambarkan empat potensi nafsu dasar dalam diri manusia:

Merah amarah, dorongan emosi dan amarah
Hitam lawamah, keinginan fisik dan kesenangan duniawi
Kuning sufiah, ketertarikan pada kemewahan dan keindahan
Putih mutmainah, ketenangan jiwa dan kesucian

Dewa Ruci menegaskan bahwa keempat nafsu tersebut tidak untuk dimatikan, melainkan untuk dikendalikan. Hanya dengan mendudukkan nafsu mutmainah di atas amarah, lawamah, dan sufiah, seorang manusia dapat mencapai derajat kedudukan yang luhur di sisi Allah swt

Pertunjukan singkat di panggung Wisuda XI Unugha Cilacap ini membuktikan bahwa tradisi wayang kulit dan pendidikan Islam modern dapat berpadu harmonis.

Di tangan Taufik Hidayat, kelir wayang tidak hanya menjadi media seni, melainkan mimbar dakwah yang membekali para wisudawan untuk menjadi "Bima-Bima Muda" yang tangguh, berilmu, dan berbudi pekerti luhur dalam mengarungi samudera kehidupan.

 


Editor: Kendi Setiawan
logo