Arina.id - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela semakin memanas selama dua bulan terakhir. Gedung Putih bahkan dikabarkan telah mengizinkan Central Intelligence Agency (CIA) untuk beroperasi menggulingkan Presiden Venezuela Nicolos Maduro.
Sebelumnya, AS telah berulang kali menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkan kapal-kapal di Laut Karibia yang dituduh membawa narkoba. Pihak berwenang negeri Paman Sam mengatakan operasi semacam itu dilakukan untuk memerangi kejahatan transnasional dan perdagangan narkoba.
Dikutip dari RIA-Novosti, hal ini telah memperburuk hubungan antara Caracas dan Washington. CIA diizinkan menggoyang pemerintahan Maduro. Presiden AS Donald Trump berpendapat bahwa masa jabatan Maduro sebagai kepala negara sudah dihitung. Meskipun begitu dia memastikan bahwa Washington tidak berencana berperang dengan Caracas.
Jaksa Agung AS Pam Bondi juga telah mengumumkan hadiah USD50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Ia menuduh Presiden Venezuela tersebut telah menggunakan organisasi teroris untuk menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat.
Akan tetapi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio segera menepis pemberitaan media tersebut dan menyatakan sebagai berita palsu.
Pada akhir Oktober, Newsweek, mengutip citra satelit, melaporkan bahwa USS Iwo Jima dan kapal-kapal pendampingnya berada sekitar 200 kilometer dari Pulau La Orchila, salah satu satu pangkalan udara dan sistem radar utama Venezuela.
Sedangkan Miami Herald melaporkan bahwa AS dapat menyerang target di negara tersebut dalam beberapa hari mendatang. Akan tetapi beberapa waktu lalu, untuk menekan Maduro, AS telah memberlakukan sanksi larangan visa dan pembekuan aset bagi sejumlah pejabat Venezuela.
Hal itu direspons Maduro dengan mengatakan kalau sanksi merupakan taktik intimidasi yang dapat memicu konflik antara Washington dan Caracas. Demikian seperti dilaporkan surat kabar El Nacional.
"Mereka [Amerika Serikat] berusaha mengintimidasi kami dengan sanksi-sanksi tersebut. Visa-visa ini adalah tandanya," kata Manduro seperti dikutip El Nacional.
Menurut Maduro, Venezuela berupaya menormalisasi hubungannya dengan Amerika Serikat, tetapi menghadapi perlawanan.
Awal tahun ini, Maduro menuduh Amerika Serikat memicu kerusuhan di Venezuela untuk mengambil cadangan minyaknya. Menurut pemimpin Venezuela tersebut, Washington telah menggunakan skenario gerakan "musim semi" di Honduras dan Brasil, serta Ukraina.
Editor: Muhammad Taufiq
