Arina.id - Hubungan intelijen Rusia (SVR) dengan intelijen Amerika (CIA) kian mesra sejak kepemimpinan Presiden Donald Trup. Komunikasi teliksandi dua negara tersebut kian sering, terutama membahas nasib Ukraina.
Seperti disampaikan Kepala Dinas Intelijen Rusia yang mengaku telah melakukan percakapan melalui telepon dengan direktur dinas intelijen AS CIA. Percakapan mereka juga kian produktif sehingga muncul sebuah kesepakatan pertemuan petinggi kedua Lembaga.
"Kami telah melakukan percakapan telepon dengan kolega saya, Direktur CIA," ujar Sergey Naryshkin kepada wartawan di Moskow tentang percakapannya dengan John Ratcliffe, pimpinan CIA.
"Saya tidak mengesampingkan kemungkinan pertemuan langsung dalam waktu dekat," kata Naryshkin, seperti dikutip dari ANTARA.
Dialog Rusia-AS telah mengalami momentum baru sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih. Delegasi dari kedua negara bertemu di Arab Saudi pada 19 Februari dan bernegosiasi selama hampir lima jam.
Selain itu, dua putaran konsultasi bilateral telah diadakan di Istanbul, Turki.
Steven Witkoff, utusan Presiden AS diperkirakan akan mengunjungi Moskow minggu ini. Sebelumnya, dia telah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 11 April.
Trump telah mengungkapkan keinginannya agar kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina tercapai pekan ini, tetapi pada Rabu, dia mengecam Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy karena menolak mengakui kendali Rusia atas Krimea.
"Situasi di Ukraina sangat buruk. Dia (Zelenskyy) bisa meraih Perdamaian atau, dia bisa berjuang tiga tahun lagi sebelum kehilangan seluruh Negara," tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.
Sementara itu, Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, pada Kamis mengecam Rusia setelah Ukraina melaporkan bahwa serangan baru Rusia telah menewaskan dua korban dan melukai 54 orang.
Editor: Muhammad Taufiq
