Arina.id — Sokongan Amerika Serikat terhadap Israel telah menjadi salah satu pilar utama kebijakan luar negeri AS selama lebih dari tujuh dekade. Dukungan ini menjadi kebijakan luar negeri paling konsisten dalam sejarah hubungan internasional modern.
Meskipun presiden AS berganti dari waktu ke waktu, komitmen terhadap keamanan Israel tetap menjadi prioritas utama. Hal ini bukan semata-mata karena kedekatan ideologis atau simpati belaka, melainkan hasil dari perhitungan geopolitik, ekonomi, dan keamanan nasional.
Hubungan AS dan Israel yang telah terjalin sejak 1948 berkembang menjadi kemitraan strategis yang saling menguntungkan hingga hari ini.
Sejarah yang Mengakar Kuat
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel dimulai hanya 11 menit setelah David Ben-Gurion mendeklarasikan kemerdekaan Israel pada 14 Mei 1948. Presiden Harry S. Truman menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kemerdekaan Israel secara de facto. Sejak saat itu, dukungan AS terhadap Israel tidak pernah surut, bahkan justru semakin menguat seiring berjalannya waktu.
Sejak era Perang Dunia II, AS memandang Israel sebagai mitra penting di kawasan Timur Tengah. Pandangan ini semakin kokoh setelah Perang Enam Hari pada 1967, ketika Israel menunjukkan kekuatan militernya dengan mengalahkan pasukan gabungan Mesir, Suriah, dan Yordania. Kemenangan ini membuat Israel dianggap sebagai sekutu strategis dalam menghadapi ancaman pengaruh Soviet selama Perang Dingin.
David Makovsky, Direktur Washington Institute for Near East Policy, menyebut "AS dan Israel selalu memiliki musuh yang sama, entah itu Nazisme, komunisme, atau ekstremisme Islam.” Persahabatan antara kedua negara lahir dari upaya Amerika Serikat untuk mengamankan sekutu selama Perang Dingin.
Pertimbangan Strategis dan Keamanan
Pentingnya Israel sebagai mitra strategis kembali terbukti dalam Perang Yom Kippur tahun 1973. Ketika Israel menghadapi serangan dari koalisi negara Arab yang didukung Uni Soviet, AS dengan cepat mengirim bantuan militer dalam jumlah besar. Sejak saat itu, kerja sama militer dan intelijen antara kedua negara berkembang secara signifikan. Israel menjadi mata dan telinga AS di kawasan yang penuh ketegangan dan konflik, mulai dari ancaman Iran hingga kelompok-kelompok militan bersenjata.
Menurut Hakan Akbas, pakar hubungan internasional, Israel adalah mitra strategis yang “dapat diandalkan di Timur Tengah bagi Amerika Serikat sejak era Uni Soviet.” Stabilitas Israel dinilai penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan dan melindungi kepentingan AS dari ancaman ideologi radikal dan terorisme.
"Kenyataannya adalah bahwa kerja sama militer menguntungkan Amerika Serikat dan Israel," kata Mark Mellman, seorang konsultan politik Amerika. "Kerja sama ini menguntungkan Israel karena juga membantu mencegah serangan oleh negara-negara yang sangat kuat seperti Iran, yang juga membantu Amerika Serikat mencegah perang yang lebih luas," ujarnya kepada ABC News
MoU 2019–2028: Bentuk Dukungan Nyata
Komitmen AS terhadap keamanan Israel dituangkan secara konkret dalam perjanjian Memorandum of Understanding (MoU) untuk periode 2019–2028. MoU ini merupakan kesepakatan bantuan militer terbesar dalam sejarah AS, dengan nilai mencapai $38 miliar. Dari jumlah ini, $33 miliar dialokasikan untuk pembelian peralatan militer AS melalui program Foreign Military Financing (FMF), dan $5 miliar untuk pengembangan sistem pertahanan misil seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow.
Bukan hanya menunjukkan dukungan strategis, MoU ini juga menguntungkan industri pertahanan AS. Israel diwajibkan untuk menggunakan seluruh bantuan FMF untuk membeli senjata dari perusahaan-perusahaan Amerika seperti Lockheed Martin dan Raytheon. Dengan demikian, bantuan ini secara tidak langsung memperkuat ekonomi dalam negeri AS di sektor pertahanan.
Selain itu, MoU menekankan bahwa bantuan ini tidak dapat ditambah kecuali dalam situasi darurat seperti perang regional. Ini menunjukkan bahwa dukungan AS sangat terstruktur, jangka panjang, dan berbasis pada perencanaan strategis, bukan sekadar bantuan politis jangka pendek.
Salah satu tujuan utama dari bantuan ini adalah untuk memastikan Israel mempertahankan apa yang disebut sebagai "Qualitative Military Edge" (QME), yaitu keunggulan teknologi dan kemampuan militer atas negara-negara tetangganya. AS meyakini bahwa menjaga keunggulan ini akan menciptakan efek penyeimbang di kawasan dan mencegah konflik berskala besar.
Editor: Muhammad Zunus
