Arina.id - Pelan-pela harga cabai di sejumlah daerah di Indonesia terus merangkak naik. Bahkan ada yang harganya tembus lebih dari Rp100.000 per kilogram.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia (BI) hari ini, Minggu 20 September 2026, cabai menjadi komoditas pangan dengan kenaikan tertinggi. Cabai merah keriting naik sebesar 9,42% atau sekitar Rp 5.950 per kg menjadi Rp 69.100 per kilogram.
Kemudian harga cabai rawit merah juga naik sebesar 6,78% atau sekitar Rp 6.100 per kg menjadi Rp 96.100 per kg. Kenaikan tinggi juga dialami cabai merah besar hingga 6,23% atau sekitar Rp 3.400 per kg menjadi Rp 58.000 per kg. Lalu untuk cabai rawit hijau naik sebesar 4,81% atau Rp 3.100 per kg menjadi Rp 67.600 per kg.
Harga dalam PIHPS tidak serta merta sama dengan daerah lain. Di Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, harga cabai rawit bahkan tembus Rp200.000 per kilogram, dijual bersih tanpa tangkai.
"Harga cabai rawit bersih tanpa tangkai Rp200.000 per kg, sementara yang belum dibersihkan atau masih dengan tangkai Rp160.000 per kg," kata pedagang rempah-rempah di pasar tradisional Kwandang Hengki di Gorontalo Utara, seperti dikutip dari Antara.
Ia mengatakan ada pula cabai yang dijual Rp120.000 per kg, namun kurang diminati di pasar lokal tersebut karena tingkat kepedasan yang lebih rendah.
Hengki mengatakan stok cabai rawit tidak lagi dipasok dari petani lokal Gorontalo Utara, karena gagal produksi yang dialami akibat musim kemarau. Ia mengaku kini memasok cabai rawit dari wilayah Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah.
"Sulit mencari stok cabai rawit di petani lokal, sehingga kami pedagang terpaksa membeli dari petani di wilayah Buol," katanya.
Cabai dari Buol, mulai dikenal sama jenisnya dengan cabai khas Gorontalo dengan tingkat kepedasan yang tinggi. Pedagang lainnya Arifin mengaku tidak memasok cabai dalam jumlah banyak.
"Harga cabai yang tinggi, membuat saya tidak berani membeli dalam jumlah banyak, apalagi saat harga tinggi, pembeli rata-rata membeli eceran ukuran harga Rp10.000 sampai Rp20.000 saja," katanya.
Ia mengaku masih mendapatkan pasokan cabai dari wilayah Kabupaten Gorontalo, meski jumlahnya pun memang tidak banyak.
"Meski harga tinggi, namun cabai rawit menjadi komoditas rempah utama yang dicari pembeli. Hanya saja jika tingkat permintaan sebelumnya tinggi, saat ini berkurang atau lebih banyak pembeli eceran," katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan pihaknya terus memantau stok dan pergerakan harga pangan di daerah itu, termasuk cabai rawit.
"Kami berharap pasokan cabai rawit di pasar-pasar tradisional tetap ada. Soal harga, memang masih tinggi atau di atas Rp100.000 per kg," katanya.
Harga cabai rawit pun masih tinggi akibat permintaan pasar tidak disertai dengan ketersediaan stok.
"Kami terus memantau pergerakan harga dan stok, termasuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengendalikan harga cabai rawit agar tidak semakin melonjak," katanya.
Beberapa jenis cabai rawit dari luar daerah yang masuk di pasar Gorontalo, cukup membantu menekan harga, di antaranya cabai dari Surabaya.
Editor: Muhammad Taufiq
