Mengupayakan Jalur Alternatif Mengakhiri Konflik Mematikan di Myanmar

Mengupayakan Jalur Alternatif Mengakhiri Konflik Mematikan di Myanmar

"Saya sebagai Umat Buddha dari Burma Myanmar, seperti yang Anda tahu tentang konflik politik di sana, konflik kekerasan paling tragis," ucap Presiden Pusat Pendidikan Buddha Internasional Myanmar, Dr Shobita mengawali pidato pada Forum ASEAN Intercultural dan Interreligious Dialogue Conference atau ASEAN IIDC di Hotel Ritz Carlton, Jakarta pada Senin (7/8) kemarin. 

Shobita mengatakan dengan jujur bahwa konflik yang terjadi di negaranya bukanlah perkara yang harus ditutupi. Terlebih, konflik itu sudah berlangsung puluhan tahun, dan telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Kedatangan Shobita pada forum ASEAN IIDC justru ingin menggali pelajaran, dan menumpu harapan kepada negara-negara di kawasan ASEAN tentang bagaimana mengelola perdamaian, sekaligus memberikan harapan baru akan perdamaian di negaranya. 

"Saya datang ke sini dengan harapan saya bisa melihat secara nyata rekan-rekan saya pemimpin Asia Tenggara untuk membawa perdamaian di kampung halaman saya," sambung Shobita dengan wajah sendu. 

Shobita, juga ratusan ribu masyarakat Myanmar sudah di ambang frustrasi melihat konflik di negaranya. Kekerasan semakin intens dan meluas, membuat situasi di Myanmar meningkat dari pemberontakan menjadi perang saudara.

Data dari kelompok pemantau konflik, Acled, sebagaimana ditulis BBC, menunjukkan bahwa kekerasan telah menyebar ke seantero negeri. Laporan dari lapangan juga menunjukkan bahwa pertempuran yang terjadi semakin terorganisir dan telah mencapai pusat-pusat kota, di mana sebelumnya tidak pernah terlihat perlawanan bersenjata terhadap militer.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pun mengakui kondisi di Myanmar “sangat kompleks” karena konflik sudah berlangsung selama tujuh dekade. "Jika tidak segera dihentikan rakyat yang akan menjadi korban karena kondisi ini tidak akan membuat siapa pun menang," kata Jokowi di Labuan Bajo, Mei lalu.

Myanmar berada dalam krisis politik dan kemanusiaan usai junta militer atau Tatmadaw mengambil alih kekuasaan secara paksa pada Februari 2021. Warga ramai-ramai menolak pemerintahan tersebut. Mereka kemudian menggelar demo di hampir seluruh penjuru negeri. Konflik semakin runcing usai sejumlah kelompok milisi di Myanmar mengangkat senjata melawan junta. Namun, junta menanggapi dengan represif. Mereka tak segan menangkap bahkan membunuh siapa saja yang menentang pemerintahannya.

Menghadapi kemelut yang berlangsung di Myanmar saat ini, Shobita menilai bahwa pendidikan menjadi sektor fundamental yang harus dapat diakses dengan mudah oleh generasi muda Myanmar. Baginya, pendidikan adalah dasar pemupukan nilai-nilai perdamaian.

"Tidak ada yang lebih penting dari pendidikan bagi generasi muda di negeri ini. Saya ingin meminta semua pihak yang berkepentingan untuk tidak mengganggu pendidikan, tetapi melindungi sekolah," kata Shobita, dilansir media resmi Nahdlatul Ulama, NU Online.

Menyadari itu, Shobita meminta kepada pimpinan KTT ASEAN, Indonesia, serta para pemangku kepentingan di ASEAN untuk memperkuat gagasan agar sekolah di Myanmar tetap aman.

"Mari kita promosikan pendidikan sebagai bagian dari dialog antaragama kita. Dalam Konferensi Asia ini, saya akan meminta kepada pemimpin KTT ASEAN, Indonesia, untuk memperkuat gagasan agar sekolah selamat," ungkap dia.

Besar ia berharap, melalui konferensi tersebut, krisis yang berlangsung di Myanmar segera menemukan titik terang.

"Saya berharap ASEAN akan mengawal inisiatif ini, saya percaya itu. Krisis saat ini di Myanmar hanya dapat dilakukan melalui dialog yang dibangun, kerja sama, kolaborasi yang efektif dan yang terpenting adalah dengan memberikan pemahaman nilai-nilai bersama untuk perdamaian,"  sambung dia.

Sebelumnya, di forum yang sama Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menilai Indonesia telah aktif dalam menciptakan perdamaian dengan cara mempromosikan nilai persatuan. 

"Indonesia tidak diragukan lagi telah memainkan peran penting dan juga aktif dalam mempromosikan sentralisasi dalam persatuan," kata dia dalam sambutannya.

Upaya ini, sambung dia, selaras dengan semangat Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023 di tengah dinamika sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia, utamanya di kawasan ASEAN. 

"Kita hidup dalam perang yang semakin bergejolak, di mana kita bereaksi terhadap tantangan yang muncul dari pesimisme budaya serta meningkatnya intoleransi dan ekstremisme yang kian menurun untuk mendukung perdamaian dan keberlanjutan sosial," ucapnya dia. 

Maka itu, ia menilai ASEAN IIDC sebagai rangkaian dari KTT ASEAN 2023 menunjukan pentingnya dialog antarbudaya dan antaragama dalam mewujudkan stabilitas dan harmoni sosial.
 


Editor: Muhammad Zunus
logo