Dalam dunia pendidikan, sosok guru konselor sering kali dianggap sebagai figur yang serius dan menakutkan. Namun, Septiana Tahani, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma'arif NU 01 Limpung Kecamatan Limpung Kabupaten Batang, Jawa Tengah mematahkan stereotip itu dengan pendekatan yang berbeda. Ia hadir sebagai sahabat siswa, bukan hanya sebagai pengarah ketika mereka menghadapi masalah.
Perjalanannya yang unik dari dunia sosial ke dunia pendidikan menjadi inspirasi bagi banyak kalangan.
Lahir di Batang pada 15 September 2002, Septiana Tahani atau yang akrab disapa Hani ini tumbuh di tengah keluarga yang penuh dinamika. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh seorang ibu setelah orang tuanya bercerai. Meski tak mendapat contoh langsung dari kedua orang tua, kasih sayang yang tulus datang dari sang kakek dan nenek. Dari mereka, Septi belajar tentang kesetaraan dan perhatian tanpa tuntutan berlebih.
"Kakek saya tidak pernah menuntut nenek mengerjakan sesuatu seorang diri. Bahkan pekerjaan domestik mereka kerjakan bersama," kenangnya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD dan mengaji di madrasah, hingga sempat mondok.Ia berekolah di MTS dan SMK LP Ma'arif dekat rumah memperkuat akar keagamaannya sekaligus membangun semangat pengabdian.
"Saya tidak pernah berniat masuk dunia pendidikan awalnya," ujar Hani.
Ia lebih aktif di kegiatan sosial selama kuliah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo, mengambil program studi Bimbingan Penyuluhan Islam.
Pengalamannya magang di Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah di divisi rehabilitasi membuka matanya tentang dunia sosial yang keras. Ia langsung menangani narapidana narkoba dan belajar banyak tentang pengembangan potensi manusia.
Namun, rasa ingin tantangan baru membawa Septi kembali ke dunia pendidikan sebagai guru BK di SMK Ma'arif NU 01 Limpung.
Dalam kesehariannya sebagai guru, Septi tidak ingin dianggap sebagai sosok yang menakutkan atau hanya hadir ketika siswa menghadapi masalah.
"Konseling itu untuk mengembangkan potensi anak, bukan untuk memberi rasa takut," ujarnya tegas.
Dengan pendekatan persahabatan, ia berhasil membangun iklim yang hangat dan kondusif di sekolah. Setiap hari, ia disapa oleh siswa dan jarang ada yang absen ke ruangannya untuk konsultasi, bahkan di luar jam pelajaran.
Selama kuliah, ia juga aktif di berbagai organisasi seperti Himpunan Mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Pengalaman organisasi ini mengajarkan banyak hal tentang perjuangan dan pengabdian. Terutama perjuangannya di komisariat IPPNU SMK Limpung, yang mengharuskannya mengikuti kegiatan berat seperti selapanan PAC dengan penuh iuran dan perjuangan fisik.
Kepemimpinan menjadi bagian penting dalam perjalanan Septi. Saat di SMK, ia pernah menjabat ketua Pk IPPNU di masa transisi ketika OSIS dilebur menjadi PK IPNU IPPNU. Proses itu penuh tantangan karena banyak perbedaan dan egosentrisme, namun itulah titik tumbuh dewasa bagi Hani.
Ia juga gencar menciptakan inovasi seperti pembentukan liga pelajar yang kini berkembang menjadi turnamen antar pelajar di tingkat cabang. Meski sempat mengalami kegagalan dalam pencalonan ketua cabang, ia menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran berharga untuk terus berkhidmat dan memberikan contoh.
Selain pendidikan dan organisasi, Hani juga tergerak melakukan advokasi di desa binaan Karang Sari Mangkang. Fokusnya adalah pendidikan anak-anak yang sebagian besar belum bisa membaca akibat kondisi tanah sengketa dan banyaknya anak yang putus sekolah di sana. Upaya ini merupakan implementasi nyata dari filosofi hablu minannas—menjaga hubungan baik antar sesama manusia.
Bagi Hani, pengalaman selama masa kuliah di Kota Semarang juga memberi efek luar biasa. Dari gadis desa yang semula takut dan minder bertemu anak-anak kota, ia tumbuh menjadi public speaker yang percaya diri, sering diundang seminar dan mampu berkolaborasi dengan dosen membuat artikel ilmiah. Pengalaman ini ia bawa kembali ke kampung dan ajarkan kepada siswa-siswinya di SMK.
Di luar aktivitas akademik dan organisasi, Hani memiliki kegemaran lari dan bulu tangkis yang sudah didukung tanpa paksaan oleh keluarga. Menulis artikel nasional juga menjadi cara bagi Hani untuk terus upgrade diri dan membagikan ilmu yang dimilikinya. Kesannya menjadi guru sangat positif, menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang memiliki dinamika yang sangat berbeda, sehingga guru harus mampu menyesuaikan cara mendidik.
Sepinya contoh yang baik dari orang tua dan masyarakat sekitar tidak membuat Hani putus asa. Ia memegang teguh prinsip bahwa contoh terbaik adalah perilaku yang bisa dilihat dan ditiru anak-anak. Oleh karena itu, pendekatannya selalu dengan kelembutan dan membangun hubungan yang baik sehingga siswa bisa diajak bekerja sama dengan efektif.
Dalam kehidupan sehari-hari saat berada di sekolah, Septi merasa bahagia ketika disapa oleh siswa, saat siswa ramai mencari dirinya di luar kelas, karena itu tanda bahwa ikatan yang dibangun sudah kuat. Konseling bagi Hani bukan hanya profesi, melainkan panggilan hati untuk mengembangkan potensi dan membantu generasi muda terbaik agar mampu bersaing dan berkontribusi positif di masa depan.
Septiana Tahani adalah contoh nyata dari guru konselor yang tidak hanya menyemai ilmu, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan, dan keberanian menghadapi tantangan hidup. Di SMK Ma'arif NU 01 Limpung, ia menjadi Konselor yang membimbing anak didik bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kasih sayang dan inspirasi. Maka tidak berlebihan jika Hani menjadi teladan baru dalam dunia pendidikan dan sosial di daerahnya.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan
