Gaya Hidup Minimalis: Menemukan yang Hakiki, Menyingkirkan yang Tidak Perlu

Gaya Hidup Minimalis: Menemukan yang Hakiki, Menyingkirkan yang Tidak Perlu

Jakarta, Arina.id — Gaya hidup minimalis menjadi pilihan penting di tengah-tengah kehidupan modern yang penuh distraksi. Hal ini disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz dalam rekaman ceramahnya di akun Suara Filsuf.

Faiz mengangkat pandangan dua tokoh penting minimalisme, yakni Joshua Becker dan Fumio Sasaki.

"Yang pertama dari buku Become Minimalist, Joshua Becker mendefinisikan minimalis adalah tentang mendapatkan apa yang membuat kita bahagia dan menghilangkan segala yang memalingkan kita dari hal tersebut," ujar Faiz membuka penjelasannya.

Menurutnya, gaya hidup minimalis menuntut seseorang untuk fokus kepada hal yang benar-benar bermakna dan menghindari distraksi yang tidak penting.

"Jadi gaya hidup minimalis itu fokus pada yang hakiki, membuat kita bahagia. Menghindar dari yang mendistraksi kita, yang ndak penting–baik itu pikiran, baik itu barang, apa pun itu yang sekiranya ndak terlalu relate dengan hakikat hidup kita yang kita anggap membahagiakan, ya kita singkirkan," lanjutnya.

Faiz juga menyoroti fenomena sehari-hari yang sering luput disadari masyarakat, seperti banyaknya distraksi dalam grup percakapan digital.

"Kita ini kan hari ini banyak sekali, ramai sekali hidup kita. Ada banyak sekali hal, ada banyak sekali distraksi yang memalingkan kita, yang membuat kita lupa hal-hal yang penting. Boleh dicek sekali-sekali. Sering saya sarankan, 'Ayo teman-teman, coba cek ya hari ini di grup-grupmu lah terutama. Coba dicek berapa persen percakapan serius, produktif, berapa persen yang iseng saja. Berapa persen yang isinya cuma meme-meme, isinya cuma apa, emotikon-emotikon nggak jelas itu.' Kadang panjang sekali, kan, di grup WA itu isine wah emotikon. Kalau dihapus denda, nanti bawahnya denda juga, nggak apa-apa asal bahagia. Nanti bawahnya lagi panjang sekali. Sering sekali kita gitu dan itu bisa tiap hari kita begitu."

Menurutnya, situasi seperti ini menunjukkan betapa mudahnya energi dan waktu kita tersedot ke hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ia kembali menegaskan makna minimalisme menurut Becker.

"Nah ini salah satu contoh saja, betapa dalam hidup kita ini sering sekali waktu terbuang atau kita fokus pada sesuatu yang ini sebenarnya nggak terlalu penting, tapi energi kita, tenaga kita, biaya kita terserap ke situ. Maka kata Joshua Becker tadi, ya minimalis itu fokus pada yang hakiki, membahagiakan, dan meninggalkan yang memalingkan kita jauh dari hal tersebut."

Faiz kemudian menjelaskan pandangan Fumio Sasaki yang lebih praktis dalam mendefinisikan minimalisme.

"Ini lebih praktis definisinya: minimalisme adalah gaya hidup yang berarti kita mengurangi barang yang kita miliki sampai pada tingkat paling minimum dan memberi kita kesempatan untuk merenungi arti bahagia."

Ia menggambarkan bagaimana kepemilikan barang yang berlebihan sering kali menyita energi dan perhatian.

"Biasanya kan yang tadi mendistraksi kita itu menghabiskan energi, tenaga, biaya. Itu kan banyak barang-barang di sekeliling kita yang nggak penting. Ya karena kita miliki, akhirnya ya mau nggak mau harus kita urusi. Nah, dari situ terus waktu kita banyak tersita, tenaga kita banyak tersita, energi kita banyak tersita. Gaya hidup minimalis itu mengurangi itu semua."

Ia pun memberi contoh praktis kepada mahasiswa dan masyarakat untuk mulai menilai ulang barang-barang di sekitarnya.

"Setelah ini teman-teman boleh, kalau pulang ke kos-kosan, terus kamu nilai ya barangmu di kamarmu itu ada berapa. Penting nggak yang ada di kamarmu itu semua. Jadi misalnya ada buku, ada apalah di sana. Kadang-kadang ada gelas, ada piring campur jadi satu. Kemudian ada baju, ada banyak sekali barang di kamarmu itu. Coba kamu nilai satu-satu: ini penting? Ini pas jumlahnya atau berlebih? Ini ada gunanya atau mending dibuang saja?"

Menurutnya, fenomena konsumtif juga sering terjadi karena dorongan sesaat yang akhirnya menumpuk menjadi beban.

"Gunanya apa misalnya? Kalian punya baju di lemarimu ada berapa? Biasanya yang putri-putri, woh bajunya kan banyaknya luar biasa. Merasa bajunya kurang misalnya, terus beli. Nanti beli, eh, ternyata jilbabnya warnanya nggak cocok, terus beli jilbab. Eh, dalamannya nggak cocok lagi, terus beli dalaman. Terus dan nambah terus. Apalagi kalau ada flash sale itu ya. Kadang kamu ndak butuh, terus jadi seolah-olah butuh. Akhirnya numpuk semua di kamar. Karena memiliki, akhirnya kan habis energi untuk momong-momong barang-barang yang kamu miliki. Nah, tiap hari repot dengan nyuci, nyetrika, membersihkan, dan lain sebagainya."

Faiz menegaskan bahwa inti minimalisme adalah keberanian untuk melepas hal yang tidak penting.

"Jadi seorang minimalis itu orang yang benar-benar tahu apa yang penting bagi dirinya. Dan yang penting itu yang dipertahankan, yang ndak penting, ndak eman-eman, dilepaskan."

Ia pun mengingatkan bahwa banyak orang menyimpan barang karena alasan emosional semata.

"Kadang-kadang kita itu, kan, emosional. Barang sudah ndak bisa dipakai, cuma, 'Pak, ini sejarahnya luar biasa loh.' 'Pak, ya wis, ini ada kenangannya loh.' Pak, ya akhirnya ya numpuk semua. Ya apa, sih? Wong memang itu semula milik kita, mana ada barang yang nggak ada kenangannya? Semua ada kenangannya. 'Oh ini piring ini, Pak, dulu saya pakai di pondok zaman saya.' Ya wis."

Ia menegaskan penjelasan dengan merangkum kembali inti dari prinsip hidup minimalis.

"Jadi emosi kita sering main di situ. Akhirnya ya banyak barang ndak berguna, wong kamu ndak makai. Nah, seorang minimalis itu ngerti, 'Ini penting, saya pertahankan. Oh, kalau itu nggak penting, saya buang.' Sederhananya itu. Jadi definisinya ini ya, kalau kalian pengin jadi minimalis, intinya tahu mana yang penting dan harus dipertahankan dalam hidup ini dan mana yang dilepaskan saja. Hakikatnya di situ nanti," kata Faiz.


Editor: Kendi Setiawan
logo