Jakarta, Arina.id—Pendiri Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengungkap ekspektasi anak muda terhadap pesantren kini mengalami perubahan signifikan.
Pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan yang perlu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, baik dari sisi kurikulum, fasilitas, maupun relevansi sosial dan ekonomi.
Survei nasional yang dilakukan Alvara Research Center terhadap 790 anak muda muslim Indonesia (Generasi Z dan Millennial) pada September 2025 menunjukkan tingkat awareness/popularitas pesantren di mata anak muda, harapan terhadap fasilitas pesantren, komposisi kurikulum, serta jenis ilmu umum yang diinginkan untuk diajarkan di pesantren.
"Hasil survei Alvara menunjukkan bahwa tingkat awareness anak muda terhadap pesantren sangat dipengaruhi oleh reputasi historis dan exsposure media," kata Hasanuddin Ali.
Pondok Modern Darussalam Gontor (35,2%) dan Pesantren Tebuireng Jombang (34,8%) menempati posisi teratas, mengungguli pesantren lain seperti Lirboyo, Kediri (25,9%) maupun Darunnajah, Jakarta (14,4%).
Gontor dan Tebuireng Lebih Dikenal
Perbedaan geografis turut memengaruhi persepsi. Anak muda di kota lebih banyak mengenal pesantren besar dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan. "Data juga memperlihatkan bahwa anak muda di kawasan urban lebih banyak mengenal pesantren besar dibandingkan di daerah rural," jelasnya.
Misalnya, Gontor jauh lebih populer di kota (39,3%) dibanding desa (29,5%). Hal ini menandakan bahwa akses informasi di kota memberikan pengaruh besar dalam memperluas pengenalan pesantren.
Dari sisi generasi, awareness relatif seimbang antara Gen Z dan Millennial, meskipun ada variasi menarik. Tebuireng lebih dikenal oleh Millennial (36,0%) dibanding Gen Z (33,3%), sedangkan Darunnajah justru lebih populer di Gen Z (15,3%) dibanding Millennial (13,7%).
Pola ini bisa mencerminkan perbedaan pengalaman generasi dalam berinteraksi dengan tradisi pesantren. Secara keseluruhan. "Hasil ini menegaskan bahwa meskipun beberapa pesantren telah mencapai tingkat popularitas nasional, sebagian besar pesantren lainnya masih memiliki awareness terbatas dan cenderung hanya dikenal di lingkup regional," jelasnya.
Anak Mudharapan Pesantren Punya Fasilitas Modern
Data Alvara juga menunjukkan bahwa fasilitas yang paling diharapkan anak muda ada di pesantren adalah fasilitas kesehatan (UKS) dengan angka tertinggi sebesar 78,2%. Selain itu, fasilitas MCK yang bersih (66,6%) dan perpustakaan (66,8%) juga menempati posisi penting dalam kebutuhan mereka.
Fasilitas modern seperti akses internet gratis (59,4%), lapangan olahraga (58,6%), serta kantin (58,0%) juga cukup tinggi dalam daftar harapan. Hal ini, kata Hasanuddin, menandakan bahwa generasi muda menginginkan pesantren yang tidak hanya fokus pada aspek pendidikan agama, tetapi juga mendukung kesehatan, kenyamanan, serta kebutuhan penunjang kehidupan sehari-hari.
Jika dibandingkan berdasarkan wilayah, anak muda di perkotaan (urban) cenderung menuntut fasilitas yang lebih tinggi, terutama pada akses internet (65,1% vs 51,5% rural) dan kebersihan MCK (71,0% vs 60,5% rural).
Dari sisi generasi, Millennial sedikit lebih menekankan fasilitas dasar seperti UKS (79,1%) dan MCK bersih (68,6%), sedangkan Gen Z lebih menonjol pada kebutuhan intelektual dan teknologi, seperti perpustakaan (69,7%) dan internet gratis (60,3%).
"Hal ini memperlihatkan bahwa generasi muda menginginkan pesantren yang lebih modern, higienis, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman," katanya.
Editor: Muhammad Taufiq
