Pesantren Baru Bermunculan, Ketum PBNU Minta Ekosistem dan Standar Pesantren Dibangun

Pesantren Baru Bermunculan, Ketum PBNU Minta Ekosistem dan Standar Pesantren Dibangun

Jakarta, Arina.id—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa dunia pesantren memiliki kompleksitas tersendiri dan harus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap lestari. Ia mencontohkan makhluk hidup hanya akan bertahan apabila mampu beradaptasi, begitu pula pesantren.

"Sejauh ini siapa pun yang gagal beradaptasi akan sulit untuk survive. Pesantren kalau mau bertahan harus berubah,” ujarnya dalam Forum Kramat, Bedah Buku Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren di Gedung PBNU, Jumat (14/11/2025).

Namun, kata dia, proses perubahan itu tidak sederhana karena pesantren memiliki warisan tradisi yang panjang dan mendalam. Di sinilah muncul kontroversi mengenai tradisi mana yang harus dilepas dan unsur baru apa yang perlu diterima demi kebutuhan adaptasi.

Gus Yahya menyebut diperlukan proses negosiasi yang tidak mudah untuk menentukan arah tersebut. Faktor paling penting adalah merumuskan visi masa depan pesantren secara koheren. 

"Pesantren mau dijadikan apa di masa depan? Tidak bisa lagi seperti dulu,” katanya. Ia menyinggung teori pesantren sebagai subkultur yang dulu dikemukakan Gus Dur, yang kini dinilai tidak lagi relevan karena batas-batas sosial semakin kabur.

Misalnya, saat ini santri dapat belajar secara mandiri tanpa melalui kiai secara langsung, sehingga posisi kiai sebagai satu-satunya sumber ilmu semakin berubah. “Posisioning-nya bagaimana? Ini harus kita temukan,” ujarnya. 

Gus Yahya mengakui dirinya belum bisa menawarkan visi final, tetapi menegaskan bahwa perumusan visi tersebut mutlak diperlukan apabila pesantren masih ingin tetap eksis di tengah kehidupan masyarakat.

Ia menyoroti perkembangan pesat jumlah pesantren baru. Berdasarkan data Kemenag, sejak UU Pesantren 2019 diberlakukan, terjadi lonjakan signifikan. Pada 2019 tercatat 30 ribu pesantren, dan pada 2024 jumlahnya bertambah 10 ribu menjadi total 40 ribu. Menurutnya, pemerintah maupun NU masih belum sepenuhnya memahami karakter pesantren-pesantren baru tersebut.

Gus Yahya mencontohkan fenomena di Bojonegoro, di mana seseorang yang mampu mengajar ngaji menerima santri dan menempatkannya di rumahnya tanpa fasilitas memadai. 

“Ini tentu persoalan besar,” tegasnya. Dengan jumlah yang terus bertambah, tuntutan agar NU turut mengatasi persoalan tersebut makin kuat. Namun, menurutnya hal itu mustahil dilakukan tanpa konsolidasi struktural.

Karena itu, ia menekankan perlunya pembangunan ekosistem pesantren dengan model tertentu yang mencakup standar, mekanisme, serta pola hubungan baru antar-pesantren.

Standarisasi Penting, tetapi Jangan Hilangkan Kekhasan Pesantren
Sementara itu, Aktivis dan intelektual NU Helmi Ali menyatakan bahwa masa depan NU sangat ditentukan oleh perkembangan pesantren. Ia mengingatkan bahwa pesantren merupakan basis rekrutmen NU sejak awal berdiri. Hingga tahun 1970-an, menurutnya, kaderisasi NU berjalan otomatis melalui pesantren yang didirikan para ulama.

Namun, seiring perubahan zaman, muncul berbagai persoalan baru dalam dunia pesantren. Helmi mencatat gagasan Gus Yahya mengenai perlunya universalisasi pesantren, yakni usaha memperkuat daya saing pesantren melalui dua pilihan. 

Pilihan pertama adalah NU kembali mengambil langkah politik frontal, namun hal ini dinilai sangat berisiko karena berpotensi menyeret NU ke politik identitas. “Kalau NU menjadi parpol lagi, bisa jadi fasis,” ujarnya.

Pilihan kedua adalah universalisasi dengan membangun governing system sebagai prasyarat transformasi pesantren. Sistem tersebut mencakup tiga standar: infrastruktur, SDM, serta tata kelola. 

Menurut Helmi, Gus Yahya dalam bukunya menekankan bahwa ini merupakan wilayah yang membutuhkan campur tangan pemerintah.

Meski demikian, Helmi mengingatkan bahwa standarisasi berpotensi membuat pesantren menjadi lebih seragam dan kehilangan identitasnya. Padahal, kekhasan masing-masing pesantren selama ini justru membentuk karakter NU.

Ia menambahkan bahwa berbagai kluster pesantren—baik pendidikan, kemasyarakatan, maupun platform lainnya—kini tidak lagi sepenuhnya relevan karena sistem pendidikan modern turut menggerus fungsi tradisional pesantren. 

"Agar tetap berkarakter dan tidak tertinggal, pesantren perlu terintegrasi dengan sistem modern," jelasnya.

Sebagai basis komunitas, pesantren juga mengalami pelemahan karena semakin sedikit masyarakat yang bersandar pada perannya. Dulu, pesantren menjadi pusat pengembangan masyarakat. 

Helmi menyinggung proyek LP3M pada 1970-an yang berupaya melibatkan pesantren sebagai agen perubahan. Namun, menurutnya Gus Yahya kini mempertanyakan apakah peran itu masih relevan.

“Memang tidak ada jalan lain selain revitalisasi pesantren. Untuk itu harus ada standar kurikulum, SDM, tata kelola, serta infrastruktur,” ujarnya. 

Infrastruktur, kata Helmi, menjadi perhatian penting karena berbagai persoalan yang menimpa pesantren akhir-akhir ini seperti kasus perundungan dan infrastruktur.

Gagasan Gus Yahya disambut Baik
Pengamat sosial dan politik Fachry Ali menilai pandangan Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengenai masa depan pesantren sebagai gagasan baru yang menarik, sekaligus menegaskan adanya situasi kacau (chaotic) dalam perkembangan pesantren saat ini.

Menurut Fachry, pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng, Denanyar Jombang, dan lainnya sejak awal didirikan oleh pribadi-pribadi besar yang membawa gagasan besar pula. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi division of labor atau pembagian fokus keilmuan di antara para pendirinya.

“Ada yang mengkhususkan diri pada hadis, tafsir, sejarah intelektual, dan sebagainya. Mereka berbeda dan masing-masing berbasis pada keilmuan yang mereka peroleh,” jelasnya.

Dari sisi keilmuan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri apabila suatu saat diperlukan konsolidasi antar-pesantren yang memiliki tradisi dan disiplin ilmu berbeda.

Namun, Fachry menilai tantangan saat ini tidak hanya berasal dari keragaman keilmuan pesantren, tetapi juga dari pertumbuhan demografis dan lahirnya lapisan-lapisan sosial baru yang merupakan reproduksi masyarakat pasca-industri.

“Kata navigasi menjadi sangat tepat dalam menggambarkan situasi yang bersifat keotik ini,” ujarnya.


Editor: Kendi Setiawan
logo