Jakarta, Arina.id — Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berpotensi mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini diperkirakan akan memicu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan serangan Amerika ke Iran tidak memiliki pengaruh signifikan secara langsung.
"Tidak berpengaruh secara langsung, tetapi asumsinya kalau kemudian perang tadi melibatkan negara-negara Arab sebagai penghasil minyak, maka akan berpengaruh,” kata Fahmy kepada Arina.id, Senin (23/6/2025).
Fahmy mengungkapkan, jika Selat Hormuz sebagai jalur utama lalu lintas minyak dunia ditutup oleh Iran maka harga minyak bisa melonjak hingga di atas USD 100 per barel, bahkan diprediksi mencapai USD 130 per barel.
"Kalau itu terjadi maka akan memengaruhi perekonomian dunia. Bahkan Amerika juga akan terkena dampaknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz tidak hanya digunakan untuk mengangkut minyak dunia tetapi juga eksplorasi minyak oleh Amerika dan Eropa. Jika ditutup, hal ini bisa menjadi malapetaka bagi perekonomian global.
Ia memprediksi Amerika berada dalam posisi khawatir dan akan membujuk China agar tidak menutup Selat Hormuz.
"Ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Amerika untuk mencari solusi diekskalasi. Pengurangan perang antara Iran-Israel, dan saya kira hanya Amerika yang bisa melakukan itu,”jelasnya.
Indonesia, kata Fahmy, juga pasti terdampak khususnya dalam penetapan harga BBM subsidi.
"BBM subsidi ini menjadi dilema. Jika tidak dinaikkan, beban APBN akan semakin membengkak. Tapi kalau dinaikkan, bisa mengurangi beban APBN,”katanya.
Namun, kenaikan BBM subsidi dipastikan akan memicu inflasi. Menurut Fahmy, kenaikan inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat dan menekan pertumbuhan ekonomi menjadi di bawah 5 persen.
Dampak lainnya, lanjut Fahmy, adalah terganggunya ekspor termasuk dari Indonesia dan Amerika yang pengirimannya melalui Selat Hormuz.
Jika parlemen Iran menyetujui penutupan selat tersebut, dampaknya akan lebih parah—tidak hanya pada harga minyak dunia, tetapi juga pada hambatan komoditas ekspor yang dapat mengurangi devisa dan melemahkan perekonomian termasuk Amerika.
"Saya berharap dengan ditutupnya Selat Hormuz, Amerika akan terdorong untuk menghentikan serangannya langsung ke Iran,”katanya.
Ia menambahkan, Amerika harus segera mengusahakan antara Israel dan Iran karena hanya Amerika yang memiliki kapasitas untuk melakukan hal tersebut. "Amerika akan bertindak jika ekonominya terancam," kata Fahmy.
Editor: Muhammad Taufiq
