Jakarta, Arina.id—Media-media ramai memberitakan aktor Bruce Willis yang sudah tidak bisa bicara dan berjalan akibat demensia frontotemporal yang diidapnya. Kondisinya semakin memburuk sejak ia pertama kali didiagnosis afasia pada 2022.
Bintang film Die Hard ini sebagian besar sudah tidak dapat berbicara dan membaca. Ia juga dilaporkan mengalami beberapa kesulitan motorik.
Mengutip BBC, dalam keterangan di media sosial tahun 2023, pihak keluarga mengaku "lega karena akhirnya mengetahui diagnosis yang jelas".
Sebelumnya, Bruce mengalami afasia yakni kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara karena penyakit atau cedera pada otak pada musim semi tahun 2022.
Kondisinya ini sudah mengalami perkembangan dan Willis mendapat diagnosa lebih spesifik. Pihak keluarga Bruce Willis menambahkan, demensia frontotemporal adalah bentuk demensia paling umum pada orang di bawah usia 60 tahun.
"Saat ini, tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, tapi kami harap kenyataan itu bisa dapat berubah di tahun-tahun mendatang," demikian keterangan keluarga.
Bruce Willis terkenal pada era 1980-an dan 1990-an setelah ia membintangi film layar lebar seperti Die Hard, The Sixth Sense, Armageddon, Pulp Fiction. Willis dinominasikan untuk lima Piala Golden Globe. Salah satu yang dimenangkannya adalah film Moonlighting. Dia juga tiga kali dinominasikan untuk Emmy Award, dan ia memperoleh dua penghargaan pada ajang bergengsi ini.
Namun, tahun 2022, pihak keluarga mengatakan Willis akan berhenti dari dunia akting karena afasia yang dideritanya telah berdampak pada kemampuan kognitifnya.
Mengenal demensia frontotemporal
Menurut informasi yang diterbitkan Mayo Clinic di A, demensia frontotemporal adalah istilah umum yang mencakup sekelompok gangguan otak yang memengaruhi lobus frontal (otak bagian depan) dan temporal (otak bagian samping). Gangguan otak jenis ini diperkirakan menjadi penyebab sekitar 10% sampai 20% kasus demensia.
Tanda dan gejala bervariasi tergantung pada bagian otak yang terkena dampaknya.Menurut Universitas Navarra, di Spanyol, orang dengan demensia frontotemporal ditandai dengan perubahan kepribadian, perilaku yang tidak pantas di depan umum, impulsif, apatis, kehilangan empati, perilaku berulang atau kompulsif, dan perubahan pola makan.
Laporan menyebutkan bahwa orang yang tinggal dekat jalan raya 'rentan terkena demensia' Penelitian juga menemukan kaitan Covid-19 dengan depresi dan demensia.
Demensia frontotemporal biasanya dimulai antara usia 40 dan 65 tahun. Tapi bisa juga terdapat salah diagnosis dengan menyebutnya sebagai masalah kejiwaan atau penyakit Alzheimer.
Menurut situs web otoritas kesehatan Inggris, demensia frontotemporal adalah bentuk penyakit "tidak biasa" yang menyebabkan penderitanya mengalami gangguan tingkah laku dan bahasa.
Gejalanya juga termasuk gerakan tubuh yang lambat dan kaku, kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, meskipun ini cenderung terjadi di kemudian hari, dan otot yang melemah.
Diagnosa awal: Afasia
Tahun 2022 lalu, keluarga Bruce Willis mengumumkan bahwa aktor tersebut akan pensiun dari dunia akting setelah didiagnosis menderita afasia.
Meski gejala penyakit ini beragam, secara umum penyakit ini merupakan gangguan kognitif yang menghalangi seseorang untuk memahami bahasa dengan benar.
Mereka yang mengidap penyakit ini mungkin mengalami kesulitan berbicara, menulis, atau membaca.
Editor: Kendi Setiawan
