Undangan resmi jamuan makan malam yang dibagikan oleh presiden India, Droupadi Murmu, memicu spekulasi bahwa negara India akan berganti nama. Hal ini dikarenakan dalam undangan tersebut tertulis presiden Bharat, dan bukan presiden India.
Di hari yang sama, juru bicara senior Bharatiya Janata Party (BJP) membuat sebuah cuitan di X -yang dulu dikenal dengan Twitter- yang mengatakan bahwa Narendra Modi selaku Perdana Menteri Bharat menghadiri pertemuan Himpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Indonesia.
Walaupun India adalah nama yang paling populer, India juga sering disebut dengan Bharat. Bahkan, nama Bharat sendiri termuat dalam Konstitusi India pasal pertama yang berbunyi "India, yaitu Bharat, adalah 'Persatuan Negara-Negara'".
Alasan pergantian menjadi Bharat
Wacana penggantian nama ini mendapat dukungan dari para elite BJP, partai yang dipimpin oleh Modi. Mereka berpendapat bahwa nama India merupakan nama yang diperkenalkan oleh kolonial Inggris dan merupakan lambang dari penjajahan dan perbudakan. Adapun negara Inggris memerintah India selama kurun 200 tahun hingga akhirnya negara tersebut memperoleh kemerdekaan pada tahun 1947.
Partai yang dipimpin oleh Modi ini telah lama mencoba menghapus nama-nama yang berhubungan dengan masa lalu Mughal dan kolonial India. Perubahan tersebut merupakan upaya merebut kembali masa lalu Hindu India.
Pada tahun 2015, nama jalan Aurangzeb, salah satu jalan yang terkenal di New Delhi diubah namanya menjadi Jalan Dr. APJ Abdul Kalam setelah mendapat protes dari BJP. Tidak hanya itu, tahun lalu pemerintah juga mengganti nama jalan lainnya yang berada di New Delhi.
Makna nama Bharat
Bharat adalah istilah Sansekerta kuno yang oleh para sejarawan diyakini berasal dari kitab suci Hindu terdahulu. Kata ini digunakan untuk merujuk pada bagian negara yang terletak di antara pegunungan dan laut, yang dipercaya sebagai tempat tinggal keturunan Raja Bharata.
Dijelaskan dalam The Economic Times, sumber paling populer yang digunakan sebagai rujukan mengenai wilayah geografis, yang disebut dengan Bharat tertuang dalam Wisnu Purana: “Uttaram yat samudrasya, Himadreschaiva dakshinam, varsham tad Bharatam nama Bharati yatra santatih”, yang berarti negara yang terletak di bagian utara lautan dan di bagian selatan pegunungan bersalju disebut dengan Bharat karena di sana berdiamlah keturunan Bharata.
Sebagaimana terdapat dalam beberapa versi mitologi terkait silsilah Bharata, makna Bharata dapat ditafsirkan dengan beberapa cara. Cara-cara tersebut di antaranya, dapat ditafsirkan dari kata ‘Bhr’ yang berarti memlihara atau memikul, atau dapat juga ditafsirkan dari kata ‘Bha’ yang artinya cahaya. Makna yang lebih populer dikaitkan dengan kata yang berarti cahaya, sehingga Bharata memiliki arti orang yang menuruti cahaya, yang bersinar, atau yang mengejar cahaya.
India merupakan salah satu dari dua nama (bersama Bharat) yang secara tradisional membuat negara tersebut dikenal di seluruh dunia. Adapun secara etimologis, makna nama India adalah Sungai Indus, yang berasal dari kata "Sindhu" dalam bahasa Sansekerta.
Selain India dan Bharat, negara tersebut juga memiliki nama lain, yaitu Hindustan, akan tetapi nama yang satu ini tidak diakui secara hukum. Dalam bahasa Persia, Hindustan berarti "tanah Indus", sebagaimana dijelaskan dalam sky news.
Resolusi perubahan nama
Mengacu pada beberapa sumber, resolusi untuk mengganti nama India menjadi Bharat akan dimuat dalam sidang khusus Parlemen pada 18 sampai 22 September. Adapun pengumuman mengenai sidang tersebut telah disampaikan oleh Menteri Persatuan Urusan Parlemen, Pralhad Joshi, pada 31 Agustus lalu.
Dalam sidang khusus tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Sekretariat Lok Sabha, tidak terdapat sesi tanya jawab, jam kosong serta urusan anggota swasta yang menimbulkan kritik dari partai oposisi.
Disebutkan dalam Outlook India bahwa penggantian nama India menjadi Bharat memiliki dampak yang besar. Walaupun beberapa waktu terakhir kota-kota di India, baik kecil maupun besar, telah mengalami perubahan nama, dampaknya akan berbeda ketika yang diganti adalah nama sebuah negara yang memuat lebih dari 1.4 miliar penduduk.
Meski demikian, sejauh ini pemerintah India secara resmi belum mengeluarkan pernyataan dan mengambil keputusan apa pun. Seorang pemimpin senior di sana menyebut informasi yang beredar hanyalah sebuah rumor. Namun pernyataan yang berlawanan keluar dari mulut Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar. Minggu lalu ia menyarankan agar penggunaan nama Bharat lebih ditingkatkan.
"'India, itulah Bharat' - hal itu termuat dalam konstitusi. Tolong, saya akan mengajak semua orang untuk membacanya," kata Jaishankar, Rabu (6/9/2023).
Begitu juga dengan BJP yang sudah sejak lama percaya bahwa “India” adalah nama yang terikat dengan penjajahan dan perbudakan sehingga harus diubah.
Akan tetapi hal tersebut ditentang oleh pemimpin oposisi, Rahul Ghandi, yang menyatakan bahwa gagasan penggantian nama India menjadi Bharat merupakan hal yang tidak masuk akal.
“Dia (Modi) ingin mengubah nama negara, dan itu absurd…,” ucapnya kepada wartawan Al Jazeera.
Salah seorang anggota parlemen oposisi, Shashi Tharoor, juga mengungkapkan ketidaksetujuannya dalam X. Menurutnya, masyarakat India harus “terus menggunakan kedua kata tersebut daripada melepaskan klaim kami atas sebuah nama yang memiliki sejarah, sebuah nama yang diakui di seluruh dunia.”
'“Meskipun tidak ada keberatan konstitusional untuk menyebut India “Bharat,” yang merupakan salah satu dari dua nama resmi negara tersebut, saya berharap pemerintah tidak akan sebodoh itu untuk sepenuhnya membuang “India,” yang memiliki nilai merek tak terhitung yang telah dibangun selama berabad-abad,” tulisnya.
Editor: Muhammad Zunus
