Arina.id — Sebanyak 37 orang tewas dan belasan lainnya masih hilang akibat banjir bandang yang menerjang empat wilayah di Sumatra Barat—Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Padang Panjang—pada Sabtu malam, 11 Mei 2024, menurut laporan termutakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Jumlah korban meninggal dunia yang telah ditemukan paling banyak di Agam. Otoritas setempat menyebut musibah bencana alam itu "paling parah" di Agam dalam seratus lima puluh tahun terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah meramalkan musibah tersebut terutama berdasarkan potensi cuaca ekstrem hujan deras dan berdurasi panjang dalam sepekan terakhir dan kondisi sesudah Gunung Marapi erupsi beberapa kali sejak Desember 2023. Aktivis lingkungan bahkan sudah mewanti-wanti akan potensi bencana ekologis akibat "salah sistem pengurusan alam".
Air bah dan batu-batu besar
Banjir bandang dan longsor di ranah Minang itu bermula ketika hujan lebat dan berlangsung lama sejak Sabtu petang atau magrib, 11 Mei. Hujan segera memicu luapan aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi.
Menurut data BNPB yang dimutakhirkan pada Minggu malam, 37 jenazah korban yang ditemukan terdiri dari 19 di Agam, 9 di Tanah Datar, 2 di Padang Panjang, dan 7 di Padang Pariaman. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena ada sedikitnya 17 orang dilaporkan hilang.
Di Agam, menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat Budi Perwira Negara, dikutip dari BBC News Indonesia, hujan deras menyebabkan air sungai yang berhulu di Gunung Marapi meluap sehingga tercipta aliran di "jalur baru" yang membawa "batu-batu besar" dari gunung berapi paling aktif di Sumatra itu ke permukiman di sekitarnya.
Sedikitnya 110 rumah warga dan tempat usaha serta satu sekolah di tiga kecamatan tergenang air, sementara tiga rumah disebut "terbawa arus".
Hujan lebat juga memicu tanah longsor di Desa Malalak Timur, Agam, sehingga akses jalan yang menghubungkan Padang dengan Bukittinggi terputus. Material longsoran sempat menutup jalan itu dengan panjang 12 meter dan ketinggian 3-4 meter.
Situasi serupa terjadi di Tanah Datar. Banjir yang terjadi merupakan kombinasi banjir lahar dingin Gunung Marapi dan banjir bandang akibat naiknya debit air sungai, menurut Kepala Pelaksana BPBD setempat Ermon Revlin. Sekurang-kurangnya 25 keluarga, 24 rumah, dan 12 jembatan yang terdampak, berdasarkan data terakhir BPBD.
Di Padang Panjang, dua rumah di pinggir Sungai Sangkua disebut "hanyut", sementara tiga orang sempat hilang "terbawa arus" dan seorang di antaranya berhasil ditemukan dan diselamatkan.
Korban meninggal dunia yang ditemukan di Padang Pariaman, menurut petugas, diidentifikasi merupakan warga Padang Panjang yang diduga hanyut terseret air bah sampai ke kabupaten tetangga. Tim SAR menengarai masih ada korban lain yang belum ditemukan dan masih dicari.
Bencana berulang dan peringatan dini
Musibah banjir bandang itu tidak terjadi tiba-tiba dan tanpa diduga sebelumnya melainkan sudah berulang sedikitnya sejak enam bulan terakhir di sejumlah wilayah di sekitar Gunung Marapi.
Pada 5 Desember 2023, dua hari setelah Gunung Marapi meletus dan menewaskan 24 orang, banjir bandang dan lahar menerjang sejumlah wilayah di Tanah Datar. Banjir lahar sempat menghantam kawasan wisata pemandian air panas di Nagari Pariangan, masjid dan rumah warga di Nagari Batubasa, dan membuat sebuah jembatan rusak di Nagari Baringin.
Sekira dua bulan sesudahnya, 23 Februari 2024, banjir bandang menerjang Nagari Barulak, Tanah Datar, dan merusak 27 rumah, 2 musala, 5 jembatan, dan puluhan hektare lahan pertanian terdampak.
Pada 4 April, Gunung Marapi meletus lagi dan melontarkan abu vulkanik hingga ketinggian 1,5 kilometer, kemudian dua hari setelahnya banjir lahar dingin menghantam sejumlah wilayah di Agam dan Tanah Datar. Sebanyak 61 rumah, 38 tempat usaha, dan 16,5 hektare lahan sawah di Agam rusak. Jalan antara Padang-Bukittinggi di Tanah Datar pun sempat tertutup total karena luapan air dan material lain dari sungai di bawah jalan yang tersumbat.
Beberapa hari sebelum banjir bandang yang lebih dahsyat dan mematikan pada 11 Mei, BMKG sudah menyampaikan peringatan dini akan potensi banjir bandang bercampur lahar gunung yang dapat dipicu terutama oleh hujan deras dan berdurasi panjang.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, berdasarkan analisis per 8 Mei 2024 sudah ditemukan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat deras di wilayah Sumatra Barat. BMKG meramalkan itu setelah menemukan fenomena Sirkulasi Sinklonik atau pembentukan awan dan belokan angin lokal.
Pada hari kejadian, BMKG menerbitkan peringatan dini yang lebih jelas tentang potensi cuaca ekstrem yang dapat berujung bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan lainnya di provinsi tersebut. Badan mengimbau masyarakat di Sumatra Barat, terutama di daerah rawan bencana seperti pesisir, pegunungan, perbukitan, agar mewaspadai cuaca ekstrem mulai 9 hingga 12 Mei 2024.
"Dari rentetan ini," kata Dwikorita, dalam keterangan tertulisnya, 12 Mei, "puncaknya terjadi kemarin (Sabtu, 11 Mei): hujan berlangsung mulai dari sore hingga malam di atas 150/200 mm sehingga banjir bandang diikuti oleh lahar melanda Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang."
Dia meluruskan informasi keliru yang beredar di masyarakat bahwa banjir bandang pada malam minggu itu berbarengan dengan Gunung Marapi erupsi. Lahar gunung pada malam itu, katanya, merupakan material dari sisa erupsi Gunung Marapi beberapa waktu lalu yang masih mengendap di lereng bagian puncak, kemudian terbawa air hingga turut melanda tiga kabupaten/kota yang berada di sekitarnya.
"Jadi bukan saat itu Gunung Marapi erupsi," dia menegaskan, "tapi karena memang hujannya sangat deras, yang bahkan masih akan berlangsung hingga tanggal 22 Mei 2024 atau setidaknya dalam tiga hari ke depan."
Makin dekat jarak
Kelompok pelestari lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut banjir bandang dan longsor itu merupakan akumulasi dari krisis akibat "salah sistem pengurusan alam". Bencana hidrometeorologi terus berulang dan makin tinggi intensitasnya karena eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan serta pembangunan yang tidak berbasis mitigasi bencana.
Contohnya, kata Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Barat Wengki Purwanto, pembalakan dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di dalam dan sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), serta penambangan emas di kawasan penyangga TNKS.
Itu terjadi terus dari tahun ke tahun. Akibatnya, kata Wengki, setiap tahun bencana berulang. Bahkan dalam satu tahun itu makin sering, makin dekat jarak antara bencana yang satu dan bencana berikutnya.
Begitu rentannya kondisi lingkungan di Sumatra Barat akibat eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan yang serampangan, ditambah aktivitas vulkanik Gunung Marapi, menurut Wengki, akhirnya terjadilah "akumulasi krisis". Setelah krisis terkumpul selama bertahun-tahun, dia menekankan, "kalau intensitas hujan ekstrem seperti hari-hari ini, akhirnya kita memanen bencana".
Ketika semuanya sudah terakumulasi, malapetaka yang dahsyat tak dapat dihindari bahkan meski telah ada peringatan dini sekalipun. "Pasti dia akan menghampiri dan kita harus siap menghadapinya," ujarnya.
Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu malam, mengingatkan bahwa peringatan dini yang disampaikan lembaganya tidak dianggap peringatan semata melainkan juga dorongan kepada pemerintah dan utamanya masyarakat agar mewaspadai potensi bencana. "Kami ini (BMKG) sisi early warning, namun perlu early action (aksi dini untuk mencegah timbul korban) dari stakeholder," katanya.
Ada pemerintah yang merespons dengan cepat peringatan dini itu, katanya, di antaranya dengan menelepon langsung BMKG untukmeminta petunjuk dan arahan apa yang mesti dilakukan. "Tapi ada sampai kita ke lokasi tersebut (kepala daerah) kurang responsif," ujarnya, tanpa menyebutkan pemimpin daerah yang dimaksud.
Editor: Muhammad Zunus
