Arina.id ~ Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengungkapkan bahwa pola interaksi ilmu, agama dan amal mulai memudar akhir-akhir ini. Di antaranya terlihat dari banyaknya orang membaca Al-Qur’an dimaknai sebagai pekerjaan rutinitas atau hanya menikmati kemerduan bacaannya.
“Banyak distorsi pemaknaan bahasa pembaca atau banyak baca Al-Qur’ȃn dalam kontek ibadah dan keilmuan. Realitanya, banyak masjid yang mencari imam shalat yang bacaannya bagus bukan yang banyak ilmunya karena banyak membaca,” ungkapnya dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan yang dikutip Arina.id, Kamis (14/3/2024).
Menurutnya, banyak yang salah faham dengan hadits yang menyatakan bahwa yang paling layak menjadi imam adalah aqra'uhum (yang banyak baca). Dianggapnya yang lebih utama menjadi imam adalah yang fasih dan merdu suaranya, padahal sebenarnya yang utama itu adalah yang pintar karena banyak membaca.
Ia mengungkapkan beberapa tipe orang dalam membaca Al-Qur’ȃn. Diantaranya, pembaca yang hanya terpaku pada keindahan sifat huruf dan tartilnya, pembaca yang memahami maknanya sebagai dasar pengamalan agama, dan pembaca yang menjadikan Al-Qur’ȃn sebagai dasar membangun intelektualitas.
“Semestinya orang yang membaca Al-Qur’ȃn dapat memperindah suara dalam mengucapkan huruf-hurufnya, menjadikan sumber intelektualitas dan pijakan dalam kehidupannya,” jelasnya.
Ia mengajak umat Islam untuk mencontoh Nabi dalam memposisikan Al-Qur’an dalam kehidupan. Nabi Muhammad Saw adalah visualisasi Al-Qur’ȃn dalam menjalani hidup dan keteladanan bagi umatnya. Pada saat bulan Ramadhan, Nabi tidak hanya mengulang-ulang membaca Al-Qur’ȃn namun juga bertadabbur dan mengamalkannya.
Tradisi membaca Al-Qur’ȃn di bulan Ramadhan dilestarikan oleh paran ulama salaf. Qatadah memiliki tradisi mengkhatamkan Al-Qur’ȃn setiap tujuh hari, namun jika bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan Al-Qur’ȃn setiap tiga hari dan pada sepuluh terakhir Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’ȃn setiap malam.
Imam Syafi"i mengkhatamkan Al-Qur’ȃn enam puluh kali selama bulan Ramadhan, yang semua itu dibaca saat menunaikan shalat. Imam Malik menghentikan baca hadits dan mengajar kitab selama bulan Ramadhan untuk membaca Al-Qur’ȃn .
“Para ulama terdahulu membaca Al-Qur’ȃn sekaligus mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya dan diamalkan dalam kesehariannya. Pembacaan Al-Qur’ȃn seperti inilah yang tercermin dalam intelektualitas dan kepribadian mereka sehingga memadukan agama, ilmu dan amal,” pungkasnya.
Editor: Muhammad Faizin
