Jakarta, Arina.id- Awal Ramadan menjadi hari kelam bagi puluhan ribu karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada Sabtu, 1 Maret 2025, perusahaan yang berdiri sejak 1966 itu resmi menghentikan seluruh operasionalnya.
Penutupan ini menyusul keputusan pailit yang berkekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung (MA). Raksasa tekstil Nusantara itu akhirnya ambruk setelah 59 tahun. Tak hanya pabrik utama di Sukoharjo, anak-anak perusahaan Sritex juga terkena imbasnya. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terhadap 10.665 pekerja di sejumlah unit usaha Sritex Group akhirnya dipilih.
Disnaker Trans Jawa Tengah melaporkan, PHK dilakukan sejak Januari hingga Februari 2025. Perinciannya; per Januari PT Bitratex Semarang PHK (1.065 karyawan), lalu Februari giliran PT Sritex Sukoharjo PHK (8.504 karyawan), PT Primayuda Boyolali PHK (956 karyawan), PT Sinar Panja Saya Semarang (40 karyawan), PT Bitratex Semarang (104 karyawan).
Ambruknya Sritex ini memang tidak cukup mengejutkan. Perusahaan denggan kode SRIL di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu telah mengalami kerugian menahun dengan jumlah utang menggunung. Dalam laporan keuangan 30 September 2024, Sritex mengalami defisiensi modal sebesar USD 1,02 miliar (Rp16,92 triliun), sedangkan total asetnya USD 594,01 juta (Rp9,84 triliun).
Catatan Algo Research pada 29 Oktober 2024, seperti dikutip dari IDXChannel, kerugian signifikan Sritex mulai terjadi pada 2021-2023 akibat pembatalan pesanan dan produk yang tidak terjual selama pandemi Covid-19, kemudian lemahnya permintaan, serta impor berlebihan dan ketatnya persaingan.
Pada puncaknya, perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp15,36 triliun pada 2021 akibat penurunan nilai aset, dan defisit (kerugian terakumulasi) yang terus meningkat mencapai Rp21 triliun pada kuartal II-2024. Tingginya tingkat utang SRIL juga memperburuk kondisi tersebut sebab perusahaan belum mampu memenuhi kewajiban pembayaran seiring menurunnya pendapatan dan profitabilitas.
Karena SRIL harus berutang untuk menutupi biaya operasional, net debt-asset ratio (perbandingan total utang bersih perusahaan dengan total asetnya) meningkat dari 0,4 kali menjadi 2 kali dalam periode 2017-2024.
Hingga akhir September 2024, porsi pemegang saham publik SRIL mencapai 8,16 miliar saham atau setara 39,89 persen dari seluruh saham beredar perusahaan. Pemegang saham SRIL tercatat sebanyak 45.866, baik institusi maupun investor ritel, hingga 31 Januari 2025. Kondisi tersebut juga membuat Sritex terancam didepak (delisting) dari pasar bursa seiring penghentian operasionalnya.
Apa yang menyebabkan Sritex bangkrut?
Keputusan menutup Sritex dan menghentikan seluruh operasionalnya tidaklah muncul secara mendadak. Dikutip dari Kompas.com, penutupan total PT Sritex merupakan puncak dari krisis keuangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Pendek kata, Sritex sudah sakit menahun dengan komplikasi persoalan keuangan.
Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan mulai dari gagal bayar utang jangka pendek karena arus kas Sritex yang tercatat negatif pada 2020. Kondisinya diperparah dengan situasi Pandemi Covid-19 jangka panjang sehingga memicu keraguan pelanggannya, bahwa perusahaan dapat melunasi hutang usaha perusahaan.
Sampai akhirnya Sritex resmi dinyatakan pailit per Rabu (23/10/2024) oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang lewat putusan nomor perkara 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg. dengan pemohon PT Indo Bharat Rayon. Dalam keputusan itu, PT Sritex dinilai tidak mampu membayar utang dan dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemohon berdasarkan keputusan homologasi atau perdamaian tanggal 25 Januari 2022.
PT Sritex kemudian mengajukan kasasi terhadap putusan pembatalan pengesahan homologasi yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang. Sayangnya MA menolak permohonan kasasi tersebut pada Rabu, 18 Desember 2024.
Juru Bicara Pengadilan Niaga Kota Semarang Haruno Patriadi yang menyebut bahwa kondisi pailit itu terjadi setelah pengadilan mengabulkan permohonan salah satu kreditur perusahaan tekstil tersebut yang meminta pembatalan perdamaian dalam penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang sudah ada kesepakatan sebelumnya.
Menurut Haruno keputusan inilah yang mengakibatkan perusahaan dipailitkan. "Mengabulkan permohonan pemohon. Membatalkan rencana perdamaian PKPU pada bulan Januari 2022," ujar Haruno pada 23 Oktober 2024, seperti dikutip dari Antara. Padahal dalam daftar piutang perusahaan tercatat ada 94 kreditur konkuren, 349 kreditur preferen, serta 22 kreditur separatis.
Begini sejarah PT Sritek
Perusahaan tekstil terbesar se-Asia Tenggara ini memasok seragam militer untuk 35 negara, mulai dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah. Sritex lahir dari kerja keras Haji Muhammad Lukminto, pada 1966. Lukminto alias Le Djie Shin adalah peranakan Tionghoa yang lahir pada 1 Juni 1946. Dia memulai karir sebagai pedagang dengan berjualan tekstil di Solo sejak usia 20-an.
Solo sebagai pusat tekstil di Jawa sejak masa kolonial membuat bisnis Lukminto tumbuh subur. Hingga akhirnya pada 1966 atau di usia 26 tahun dia berani menyewa kios di Pasar Klewer. Kios itu diberi nama UD Sri Redjeki.
Tak disangka bisnisnya moncer. Dua tahun berselang dia mulai membuka pabrik cetak pertamanya yang menghasilkan kain putih dan berwarna untuk pasar Solo. Pendirian pabrik inilah yang kemudian menjelma menjadi PT Sri Rejeki Isman atau Sritex.
Di masa Orde Baru, Lukminto beberapa kali menjadi pemegang tender proyek pengadaan seragam yang disponsori pemerintah. Dan karena ini pula Sritex mendapat jutaan rupiah dan dollar, ditambah dengan penguasaanya terhadap pasar garmen di dalam dan luar negeri.
"Di dalam negeri, ketika itu Sritex (tahun 1990-an) menerima orderan seragam batik Korpri, Golkar, dan ABRI," tulis Tempo dalam judul Prahara Orde Baru (2013).
Perusahaan ini kemudian dikelola oleh generasi kedua, yakni anak-anak Haji Lukminto. Iwan Setiawan Lukminto menjabat sebagai Komisaris Utama Sritex. Sementara posisi Iwan Kurniawan sebagai Direktur Utama.
Kepemimpinan Iwan di perusahaan tekstil terbesar di Indonesia ini telah mendorong Sritex untuk berkembang ke pasar internasional, termasuk menjadi penyedia produk untuk negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Jerman. Selain itu, ia juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi industri, termasuk Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan APINDO Solo.
Di bawah kepemimpinannya, Sritex tidak hanya dikenal sebagai produsen tekstil dan garmen, tetapi juga sebagai pemasok utama seragam militer untuk NATO dan lembaga-lembaga lainnya di lebih dari 30 negara. Namun, perusahaan menghadapi tantangan berat ketika tekanan keuangan mulai muncul, yang berujung pada status pailit.
Editor: Muhammad Taufiq
