Sederet Kebijakan Baru Kemenag Jadi Kunci Keberhasilan Penyelenggaraan Haji 2024

Sederet Kebijakan Baru Kemenag Jadi Kunci Keberhasilan Penyelenggaraan Haji 2024

Arina.id — Pelaksanaan ibadah haji 2024/1445 H telah berhasil dilalui dengan lancar oleh jemaah haji Indonesia. Di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi dengan suhu mencapai 48 derajat Celsius, pergerakan jemaah selama puncak haji dari Mekkah ke Arafah, kemudian mabit di Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) berhasil dilakukan tanpa kendala berarti. 

Pendiri Alvara Research Center, Hasanuddin Ali menilai keberhasilan ini tidak datang secara tiba-tiba, tetapi melalui perencanaan yang cermat dan detail dari setiap touchpoint jemaah haji, eksekusi yang matang dari setiap elemen yang terlibat, dan pemantauan yang ketat dari setiap proses membuat setiap pergerakan jemaah haji relatif lebih terkontrol.

“Saya sendiri mencatat ada 3 faktor kunci keberhasilan proses Armuzna tahun ini berjalan mulus, yaitu kebijakan Murur, aplikasi Kawal Haji, dan kinerja petugas,” ujar Hasan melalui akun facebook pribadinya dilihat Rabu (19/6/2024).

Murur sebagai Game Changer

Hasan mengatakan, Murur sebagai kebijakan strategis dari Kementerian Agama, menjadi faktor kunci dalam kelancaran prosesi haji tahun ini, terutama di Muzdalifah. Muzdalifah merupakan titik krusial karena area yang sempit, terbuka, dan waktu pergerakan yang sangat singkat. Dengan kebijakan Murur, sebagian jemaah, terutama lansia, risiko tinggi (risti), dan disabilitas, didorong langsung dari Arafah ke Mina tanpa bermalam di Muzdalifah.

Ia menyebut alasan Muzdalifah sebagai titik krusial. Pertama, area Muzdalifah paling sempit dan terbuka, tidak ada tenda, sehingga jemaah haji rentan sakit. Kedua, karena waktu pergerakan jamaah di Muzdalifah sangat pendek. Ketiga, lokasi Muzdalifah yang berada di tengah antara Arafah dan Mina menyebabkan arus lalu lintas sangat rawan kemacetan. Hal ini menjadi penyebab keterlambatan pergerakan jemaah tahun lalu. 

“Laporan yang saya terima, sebanyak 66 ribu jamaah haji mengikuti skema Murur ini, sisanya tetap ikut skema reguler mabit di Muzdalifah. Berkurangnya hampir 30% jamaah haji yang langsung ke Mina berdampak signifikan terhadap mobilisasi jamaah selama berada di Muzdalifah,” paparnya.

Dampak dari skema Murur ini, kata Hasan, proses pergerakan jemaah haji lancar dan sesuai dengan target yang ditetapkan atau bahkan lebih cepat.Pada pukul 02.00 dini hari, Arafah sudah bersih dari jemaah haji Indonesia, dan pada pukul 07.30, semua jemaah sudah meninggalkan Muzdalifah. Kebijakan Murur terbukti efektif dalam menjaga kebugaran dan kesehatan jemaah serta mempercepat pergerakan mereka.

“Kebijakan Murur merupakan kebijakan yang sangat strategis selama bertahun-tahun pelaksanaan haji Indonesia, karena berimplikasi pada banyak hal, terutama terkait masalah kebugaran dan kesehatan jemaah haji Indonesia,” terang dia. 

Rena Paraswati, salah satu petugas haji di Madinah juga melaporkan bahwa pergerakan jemaah tahun ini berjalan lancar dengan dukungan kebijakan dan inovasi baru dari Kementerian Agama. Misalnya, skema Murur yang memudahkan jamaah haji lansia dan disabilitas, konsumsi jamaah, hingga tenda yang didesain tahan cuaca ekstrem. 

Laporan Kementerian Kesehatan menyebut kebijakan murur yang diterapkan pemerintah pada musim haji 1445 Hijriah/2024 Masehi membuat jemaah lanjut usia, disabilitas, dan risiko tinggi tak terlalu mengalami kelelahan. 

“Lancarnya lontar jumroh di Jamarat tak lepas dari sukses dan lancarnya pergerakan jamaah dari mudzalifah ke Mina pada 16 Juni lalu. Tahun ini pemerintah kita juga menerapkan skema murur atau melintas di Muzdalifah yang ini menjadi salah satu kunci mitigasi permasalahan haji yang ada selama ini,” kata Rena. 

“Kementerian Agama juga banyak melakukan inovasi baru termasuk tenda bagi jemaah. Tahun ini terdapat 30 maktab baru dengan atap yang didesain untuk menangkal cuaca panas,” imbuhnya. 

Aplikasi Kawal Haji solusi Pengaduan Digital 

Aplikasi Kawal Haji merupakan inovasi baru yang memungkinkan jemaah menyampaikan keluhan secara cepat terkait layanan haji. Keluhan yang dapat disampaikan meliputi layanan transportasi, akomodasi, konsumsi, ibadah, atau bantuan jika ada jemaah yang hilang atau kesasar.

Aplikasi ini, kata Hasan, meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam penanganan keluhan. Petugas khusus disiapkan untuk menjawab keluhan, sehingga berbagai masalah jemaah bisa cepat diselesaikan. Aplikasi ini juga memungkinkan jemaah untuk terhubung dengan keluarga di Indonesia, menambah kenyamanan selama perjalanan haji.

“Proses perjalanan haji yang memiliki durasi sangat panjang serta kompleksitas layanan tentu tidak pernah bisa sempurna, apalagi layanan yang melibatkan pihak ketiga seperti di Armuzna. Karena itu aplikasi Kawal Haji menjadi salah satu solusi untuk mempercepat penanganan keluhan jemaah haji Indonesia. Aplikasi Kawal Haji juga merupakan bentuk pelibatan jemaah haji dalam rangka perbaikan layanan haji Indonesia,” tuturnya. 

Juru bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie menambahkan pihaknya telah mengembangkan aplikasi Kawal Haji sebagai langkah untuk membantu jemaah. Aplikasi ini dirancang untuk menerima berbagai aduan dari jamaah, dengan tujuan agar setiap kesulitan yang dihadapi dapat segera direspons oleh panitia. 

Hingga saat ini, aplikasi Kawal Haji telah terbukti cukup efektif dalam membantu jamaah, yang juga mengaku merasa terbantu dengan adanya aplikasi ini. Aplikasi Kawal Haji, ungkap Anna, dapat diakses oleh semua jamaah haji dan bahkan terhubung dengan keluarga mereka di Indonesia. Selain itu, aplikasi ini juga memfasilitasi proses keberangkatan jamaah, memberikan informasi penting, dan memastikan koordinasi yang lebih baik.

“Kebijakan-kebijakan terbaru dari Kementerian Agama tahun ini difokuskan untuk mengurangi konsentrasi jamaah yang berkumpul pada waktu yang sama. Salah satu konsep yang diterapkan adalah "Murur", yang memastikan bahwa semua aktivitas jamaah sudah selesai sebelum jam 8 pagi. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi kerumunan dan meningkatkan kenyamanan serta keselamatan jamaah selama menjalankan ibadah haji,” ujarnya.

Layanan petugas haji

Hasan menyebut petugas haji merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan haji kali ini. Mereka (petugas haji) membantu jemaah dalam berbagai aspek, mulai dari akomodasi, transportasi, makanan, hingga bimbingan ibadah. Di tengah suhu 44-48 derajat Celsius, petugas haji tetap sigap dan tulus melayani jemaah, bahkan dalam hal-hal kecil yang tidak berkaitan langsung dengan urusan haji. 

Kesigapan dan ketulusan petugas pun diapresiasi oleh jemaah haji, mereka merasa terbantu dan terfasilitasi dengan baik di negeri yang memiliki latar belakang sosial budaya berbeda dengan Indonesia.

“Kita semua tahu, sebagian besar jamaah haji kita adalah jemaah yang belum pernah bepergian jauh meninggalkan tanah air. Keberadaan petugas memudahkan mereka menjalani rangkaian ibadah haji. Tiga kunci sukses keberhasilan haji tahun ini yang saya jelaskan di atas akan menjadi benchmark proses pelaksanaan haji tahun-tahun mendatang,” kata Hasan.

Apresiasi jemaah haji pada pemerintah

Kinerja pemerintah dalam memberikan layanan kepada jemaah haji mendapat apresiasi yang tinggi dari jemaah Indonesia. Salah satu jemaah asal Sumatera Utara, Akmal Hasibuan.

Menurut Akmal, Pemerintah Indonesia memiliki perhatian penuh kepada jemaah haji misalnya saat berada di Muzdalifah. Ia menyebut kepercayaan kepada pemerintah ini membuatnya lebih tenang dan tak perlu capek mengantre bus hingga berdesak-desakan.

"Pemerintah selalu memperhatikan jemaah. Satupun tertinggal, akan diantar," ujar Akmal kepada Tim Media Center Haji (MCH), di Muzdalifah (15/6/2024).

Sementara itu, jemaah haji dari Surabaya, Muslimatus merasa kekhawatiran kondisi Muzdalifah pada tahun lalu tak perlu dicemaskan lagi. Pasalnya, petugas sudah siap sedia menyambut jemaah sejak kedatangan hingga pemberangkatan menuju Mina.

"Alhamdulillah makanan cukup, hingga berlebih. Minuman juga banyak sekali tersedia di sini. Kami tak perlu khawatir kekurangan," ujarnya.

Apresiasi yang sama disampaikan Ahmad Mahsun, jemaah haji Kloter I Embarkasi Surabaya. Ia berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian agama memberikan penghargaan lebih kepada para petugas haji 2024.

“Saya mengapresiasi kepada Menteri Agama, Yaqut Cholil Qaumas, jempol dua. Terkait petugas sangat sigap dan sikap luar biasa kalau bisa diberikan pesangon jangan hanya piagam karena mereka sudah panas-panasan bahkan saya membawa saksi hidup yang sudah haji berkali-kali mengatakan hal yang sama,” ujar Mahsun. 

“Saya menyimpulkan pelayanan haji tahun ini cukup memuaskan dan luar biasa. Ini bukan hanya saya yang merasakan tetapi Mbah Sukardi yang empat kali naik haji. Bahwa kekurangan tentu masih ada, tetapi tidak bisa memungkiri bahwa layanan haji tahun ini sudah sangat baik,” sambung pengasuh pesantren Manbaul Ulum Bulu, Kabupaten Bojenogoro ini. 

Komedian Cak Lontong turut mengapresiasi kinerja Kementerian Agama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Ia menyebut petugas haji telah bekerja dan memberi fasilitas luar biasa.

"Petugas haji luar biasa, terima kasih. Tahun ini kita sudah dijaga, diberi fasilitas yang luar biasa. Matur nuwun. Sehat semuanya," ucap Cak Lontong saat ditemui usai melontar jumrah di Jamarat, Mina, Senin (17/6/2024).

Evaluasi Menyeluruh

Ketua Pimpinan Muhammadiyah, Anwar Abbas menilai secara umum penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Buya Anwar, yang juga sebagai naib Amirulhaj, mengaku telah menemui beberapa jemaah dan mereka memberikan penilaian serupa.

“Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini kata mereka jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dari sisi sarana dan prasarana dan juga dari sisi pelayanan dan keramahan dari para petugas haji,” kata Buya Anwar di Kawasan Syisyah, Makkah, Rabu (19/6/2024).

Meski demikian, sambung Buya Anwar, Kementerian Agama tidak boleh menutup mata jika masih ada kekurang dan kelemahan-kelemahan, termasuk temuan dari tim pengawas anggota DPR terkait layanan selama mabit di Mina. 

“Temuan yang mereka sampaikan perlu didalami. Sebagai contoh misalkan banyak jemaah yang tidak mendapatkan tempat di Mina. Tetapi setelah kita lihat, ternyata jumlah orang yang ada di dalam kemah itu masih sedikit. Bahwa ada kasur-kasur yang kosong, yang tidak ditempati,” kata Buya Anwar.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Tak terkecuali adanya keluhan selama jemaah bermalam (mabit) di Mina dengan matinya AC atau terbatasnya tenda. 

“Jadi begini. Semua kita akan evaluasi, tidak ada yang tidak kita evaluasi demi perbaikan layanan jemaah, itu poinnya,” kata Menag Yaqut.

Menurut Menag, apapun respons jemaah baik positif maupun negatif, evaluasi terhadap pelayanan akan tetap dilakukan.

“Semua yang dilakukan pemerintah, meskipun jemaah merasakan layanan yang sangat memuaskan tapi bagi kami tetap harus ada evaluasi, apapun harus dievaluasi dan evaluasi itu harus berbasis pada data,” sambung dia.

Gus Men mengaku senang dengan adanya pengawasan, masukan, dan kritik, termasuk saran dari jemaah. Harapannya, jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan baik, nyaman, dan tenang.

"Saya kira ujungnya adalah bagaimana jemaah merasakan kepuasan layanan dari pemerintah, jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan baik, nyaman dan tenang, pulang dengan membawa predikat haji mabrur," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Menag juga mengapresiasi kinerja para petugas haji. Ia menyampaikan rasa kagum dan senangnya yang luar biasa.

"Di saat padat seperti ini, masih keliatan semua petugas PPIH. Saya kira bukan hanya PPIH, tapi semua petugas pelayanan jemaah haji bersikap sigap dan semangat. Semoga itu jadi pahala tambahan selain haji," pungkasnya.


Editor: Muhammad Zunus
logo