Jakarta, Arina.id - Serangan Israel ke Jinan di Tepi Barat Palestina dua hari setelah gencatan senjata dinilai telah menguak maksud jahat dan terselubung negeri zionis itu. Akibat serangan tersebut puluhan warga tewas dan mengancam prospek perdamaian pasca-gencatan senjata.
Pemerintah Indonesia pun mengutuk keras operasi militer besar-besaran yang direstui sekutu abadi Israel, Amerika tersebut. Indonesia menilai, niat terselubung Israel ialah terus merongrong wilayah dan melanjutkan penjajahan mereka atas tanah Palestina hingga pada akhirnya akan dikuasai oleh negeri Yahudi tersebut.
"Pelanggaran hukum internasional oleh Israel menunjukkan niat utamanya: Menjadikan permanen pendudukan ilegalnya di wilayah Palestina," demikian menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui media sosial X pada Sabtu (25/12/2025).
Indonesia memandang akar permasalahan konflik tersebut sedari awal adalah penolakan Israel untuk mengakui hak rakyat Palestina menentukan nasibnya sendiri.
Untuk itu, Indonesia senantiasa mendesak komunitas internasional mengambil tindakan tegas atas ketidakadilan yang diderita bangsa Palestina tersebut dan bekerja sama mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sesuai prinsip solusi dua negara.
Setelah gencatan senjata di Jalur Gaza dimulai pada 19 Januari 2025, Israel justru melancarkan serangan ke Jenin dan kamp pengungsian Jenin di wilayah Tepi Barat Palestina pada Selasa (21/1), yang semakin menyebar ke desa-desa sekitar di hari keempat serangan.
Suara tembakan dan ledakan terdengar ketika buldoser-buldoser Israel menghancurkan infrastruktur dan pertokoan di kamp tersebut, kata para saksi, dilansir dari Anadolu.
Operasi militer Israel itu telah merenggut nyawa sekurangnya 12 orang dan melukai lebih dari 40 lainnya, menurut otoritas Palestina. Diperkirakan ada 3.000 keluarga yang mengungsi di kamp pengungsian Jenin selama dua bulan terakhir, termasuk beberapa ratus lainnya yang masuk dalam sepekan terakhir.
Sebelumnya, dikutip dari ANTARA, serdadu Israel melanjutkan operasi militernya pada hari kedua di Kota Jenin pada Rabu 22 Januari 2025, tepat dua hari setelah gencatan senjata pada Minggu, 19 Januari 2025. Mereka menyerbu sejumlah permukiman di kamp pengungsi Jenin sambil melepaskan tembakan di beberapa lokasi di kawasan itu.
Suara tembakan dan ledakan terdengar ketika buldoser-buldoser Israel menghancurkan infrastruktur dan pertokoan di kamp tersebut, kata para saksi. Sedikitnya 10 warga Palestina tewas dan 40 lainnya luka-luka dalam operasi militer Israel pada Selasa, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Menurut militer Israel, operasi militer "Tembok Besi" di Jenin diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari. Media Israel melaporkan, operasi tersebut merupakan strategi Benjamin Netanyahu untuk menenangkan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang menentang kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Menurut laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, Netanyahu berjanji kepada Smotrich untuk melancarkan serangan di Jenin sebagai imbalan atas kesediaannya bertahan di pemerintahan. Ketegangan meningkat di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat akibat perang genosida Israel di Jalur Gaza.
Perang tersebut telah menewaskan sedikitnya 47.000 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 110.700 lainnya sejak 7 Oktober 2023. Sementara di Tepi Barat, Israel telah membunuh sedikitnya 870 warga Palestina dan melukai lebih dari 6.700 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan kelompok perlawanan Hamas mulai diberlakukan pada 19 Januari, yang menghentikan agresi Israel di wilayah kantong Palestina itu.
Pada Juli, Mahkamah Internasional menyatakan pendudukan Israel selama beberapa dekade di Palestina ilegal, dan Israel dituntut untuk mengosongkan semua permukiman yang didirikannya di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Editor: Muhammad Taufiq
