Arina.id - Tensi ketegangan kawasan Pasifik kian naik. Hubungan China-Taiwan memanas setelah negara pihak ke tiga: Jepang dan Amerika Serikat (AS) masuk ke tengah konflik.
Jepang mengkritik penggunaan militer China di Taiwan yang kemudian direspons keras oleh Beijing. China bahkan meminta Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mencabut pernyataannya tersebut. Terbaru, China bahkan memanggil duta besar Jepang dan meminta penjelasan pernyataan tersebut.
Belum reda ketegangan China-Jepang terkait Taiwan, kini giliran Amerika masuk mengompori ketegangan. Terbaru, negeri Paman Sam itu meneken perjanjian memasok senjata ke Taiwan. Lagi-lagi China dibuat geram.
Negeri Panda pun mengecam kesepakatan penjualan senjata AS kepada Taiwan yang dianggap telah melanggar prinsip Satu China.
"Penjualan senjata AS ke wilayah Taiwan di China sangat melanggar prinsip 'Satu China,' kami menyesalkan dan menentang hal itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Jumat 14 November 2025, dikutip dari Antara.
Sehari sebelumnya, AS menyetujui penjualan suku cadang untuk tiga jenis pesawat militer senilai sekitar USD 330 juta (Rp5,51 triliun) setelah penutupan pemerintah federal (shutdown) berakhir setelah 43 hari.
Kesepakatan itu menandai penjualan senjata pertama pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Paket tersebut mencakup F-16, C-130, dan pesawat tempur Indigenous Defense Fighters (IDF) milik Taiwan.
"Penjualan senjata tersebut bertentangan dengan Komunike 17 Agustus 1982, melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China, melanggar hukum internasional, dan mengirimkan sinyal yang sangat keliru kepada kekuatan separatis 'kemerdekaan Taiwan'," kata Lin.
Dia menegaskan bahwa Taiwan merupakan inti kepentingan China dan garis merah pertama yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan China-AS.
China, kata Lin, mendesak AS mematuhi prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS, menindaklanjuti komitmen pemimpin kedua negara terkait isu Taiwan, serta berhenti mendukung upaya kelompok separatis mencapai "kemerdekaan Taiwan" melalui penguatan militer.
"China akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah China dengan teguh," katanya.
Penjualan itu dilaporkan mencakup komponen non-standar, suku cadang dan suku cadang perbaikan, bahan habis pakai, dan aksesori, serta dukungan teknik dan logistik dari pemerintah dan kontraktor AS.
Pentagon (Departemen Pertahanan AS) menyatakan kesepakatan itu akan meningkatkan kemampuan Taiwan untuk "menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan" dengan menjaga kesiapan operasional.
Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSA) AS mengatakan penjualan itu akan meningkatkan kemampuan Taiwan menjaga kesiapan armada F-16, C-130, dan IDF. Peralatan dalam paket itu akan diambil dari stok pemerintah AS dan tidak memerlukan perwakilan tambahan dari pemerintah atau kontraktor AS.
Pengumuman Pentagon itu muncul beberapa pekan setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan. Meski banyak isu dibahas, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa isu Taiwan "tidak pernah muncul" dalam pertemuan itu.
Editor: Muhammad Taufiq
