Jakarta, Arina.id – Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, mengajak masyarakat mengenali kondisi kesadaran diri untuk memahami dan mengelola emosi.
Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi emosional dapat menjadi bahan evaluasi diri, terutama ketika seseorang menghadapi kegagalan atau terjebak dalam perasaan negatif.
Faiz menjelaskan, tingkat kesadaran manusia dapat dipahami melalui beragam kondisi emosi, mulai dari rasa malu, takut, dan sedih hingga penerimaan, cinta, sukacita, serta kedamaian.
Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan buku Power Versus Force: The Hidden Determinants of Human Behavior karya David R. Hawkins.
Dalam pemetaan yang dikemukakan Hawkins, setiap kondisi kesadaran memiliki angka tertentu. Netralitas (neutrality), misalnya, berada pada angka 250. Kondisi ini menggambarkan sikap yang relatif stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya.
Di atas netralitas terdapat kemauan (willingness) pada angka 310. Faiz menjelaskan, kemauan berbeda dengan hasrat atau keinginan (desire). Kemauan berkaitan dengan dorongan untuk bergerak, berusaha, dan mewujudkan cita-cita secara positif.
Selanjutnya, penerimaan (acceptance) berada pada angka 350. Pada tahap ini, seseorang mampu menerima keadaan yang dihadapi dan berdamai dengan kenyataan. Dalam konteks spiritual, penerimaan juga dapat dimaknai sebagai sikap rida terhadap ketetapan Allah.
Adapun penalaran (reason) berada pada angka 400, sedangkan cinta (love) berada pada angka 500 dalam skala Hawkins. Faiz kemudian menjelaskan bahwa skala tersebut masih mencakup tingkat kesadaran yang lebih tinggi, yakni sukacita (joy), kedamaian (peace), dan pencerahan (enlightenment).
Menurut pemetaan tersebut, sukacita berada pada angka 540, kedamaian pada angka 600, sedangkan pencerahan menempati rentang 700 hingga 1.000.
Faiz menilai sukacita memiliki daya yang lebih besar dibandingkan cinta dalam pemetaan tersebut. Ia mencontohkan, pengalaman cinta terkadang dapat membuat seseorang merasa lemah ketika menghadapi penolakan atau diabaikan. Sebaliknya, kegembiraan dapat menghadirkan dorongan positif.
“Kadang-kadang cinta bisa membuat lemas juga. Apalagi kalau kamu ditolak atau dicuekin. Tapi kalau gembira, kemungkinan lebih besar. Sukacita, kedamaian, getaran positifnya besar,” ujar Faiz dalam tayangan Ruang Sinau yang diakses pada Senin (18/10/2026).
Skala Kesadaran sebagai Bahan Evaluasi Diri
Faiz mengatakan, pemetaan tingkat kesadaran tersebut dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk mengenali kondisi emosional yang sedang dialami. Seseorang dapat mengevaluasi dirinya ketika merasa malu, sedih, takut, jatuh cinta, atau mengalami kegembiraan.
Ia mengilustrasikan skala tersebut seperti alat pengukur energi dalam serial animasi Dragon Ball. Melalui gambaran itu, seseorang dapat membayangkan bahwa setiap kondisi emosional memiliki tingkatan yang berbeda.
Pemahaman terhadap kondisi diri, menurut penjelasan Faiz, dapat membantu seseorang melihat keadaan emosionalnya secara lebih sadar. Pengalaman yang dialami dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.
Editor: Kendi Setiawan
