Babak Baru 'Arogansi' Amerika Membentang dari Venezuela sampai Greenland

Babak Baru 'Arogansi' Amerika Membentang dari Venezuela sampai Greenland

Arina.id - Di bawah kendali Presiden Donald Trump, Amerika Serikat (AS) seperti sedang melempar bondet ke tengah lautan. Trump melempar terror ke sana-sini untuk merealisasikan janji MAGA-nya (Make America Great Again). Tujuannya jelas untuk memanen untung.

Dalam serangan terbaru ke Venezuela misalnya. Ia melempar bom betulan ke Caracas, Ibu Kota Venezuela, kemudian menangkap Presidennya Nicolas Maduro dengan dalih memerangi kejahatan narkoba dan terorisme. Namun setelah itu, topeng arogansinya terkuak: Trump terang-terangan meminta jatah minyak.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang berada di bawah sanksi kepada Amerika Serikat," tulis Trump melalui platform Truth Social, Selasa 6 Januari 2026.

Di saat bersamaan, Trump juga beberapa kali melempar pernyataan teror 'menyerupai bom' dari kantornya yang mengguncang Eropa, yakni ketika Trump beberapa kali menyatakan keinginannya mengambil alih Greenland, wilayah semi‑otonom di bawah Kerajaan Denmark.

Trump berdalih demi kepentingan keamanan strategis nasional, Amerika ingin mengambil alih Greenland. Pernyataan Trump itu memicu kekhawatiran di Eropa, terutama setelah AS melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. 
 
Denmark bersama enam negara anggota NATO mengeluarkan pernyataan bersama tentang Greenland, mendesak penghormatan terhadap "kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan" setelah seruan Trump tersebut.

"Greenland milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan soal urusan Denmark dan Greenland," kata para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris dalam pernyataan bersama. 

Pernyataan itu menegaskan bahwa keamanan Arktik tetap menjadi prioritas utama bagi Eropa dan banyak sekutu telah meningkatkan kehadiran, aktivitas, serta investasi mereka untuk menjaga stabilitas kawasan. 

"Keamanan di Arktik harus dicapai secara kolektif bersama sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan menjunjung tinggi prinsip Piagam PBB tentang kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan," demikian pernyataan para pemimpin tujuh negara anggota NATO tersebut, seperti dikutip dari Anadolu.

Mereka juga menyatakan bahwa AS merupakan mitra penting dalam upaya ini, sebagai sekutu NATO, dan berdasarkan perjanjian pertahanan antara Kerajaan Denmark dan AS pada 1951. 

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mendesak Washington menghentikan ancaman terhadap sekutu historisnya, menolak gagasan pengambilalihan paksa Greenland. Beberapa negara Eropa, serta Uni Eropa, menyatakan dukungan kuat mereka bagi Denmark dan Greenland seraya menolak gagasan bahwa masa depan pulau itu dapat ditentukan oleh kekuatan luar negeri. 

Pemimpin Eropa itu menekankan bahwa setiap keputusan tentang masa depan Greenland harus dibuat oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri, sesuai hukum internasional. 

Greenland, pulau berpenduduk sekitar 57.000 jiwa, adalah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark dan termasuk bagian dari aliansi militer NATO. 

Pernyataan bersama ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di Eropa atas retorika terkait pencaplokan dan pentingnya mempertahankan tatanan keamanan kolektif di kawasan Arktik. 

Bukan hanya soal Greenland, setelah menangkap Maduro, Trump bahkan mengatakan bakal menyerang Kolombia dan Kuba, dua negara sekutu Venezuela di belahan benua Amerika Latin itu.


Editor: Muhammad Taufiq
logo