Imbas Iran Tutup Selat Hormuz, Pakar: APBN RI Bisa Terkuras kerena Impor BBM

Imbas Iran Tutup Selat Hormuz, Pakar: APBN RI Bisa Terkuras kerena Impor BBM

Jakarta, Arina.id—Pemerintah Iran mempertimbangkan berbagai opsi untuk menanggapi Serangan AS terhadap beberapa lokasi nuklir Iran. Salah satu hal yang dipertimbangkan adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz.

Anggota Presidium Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Behnam Saeedi mengatakan parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir mengenai hal ini ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

"Iran punya banyak cara untuk membalas musuhnya. Menutup Selat Hormuz adalah salah satu opsi," kata Saeedi dikutip Newsweek.

Dilansir dari Reuters, Selat Hormuz adalah selat antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat ini menyediakan satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke lautan terbuka dan merupakan salah satu titik cekik paling strategis di dunia. Selat ini berfungsi sebagai rute ekspor utama bagi produsen Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.

Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab, bisa dibilang merupakan rute maritim paling penting untuk transit energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia melewati selat tersebut, yang terletak di antara Iran dan Oman.

Gangguan apa pun terhadap aliran ini akan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar energi global, yang berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak dan semakin mengganggu stabilitas kawasan yang sudah tidak stabil.

Selat tersebut telah lama menjadi titik api geopolitik. Iran telah mengancam akan menutupnya di masa lalu, terutama selama periode meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. 

Para investor dan pasar energi telah berada dalam kondisi waspada tinggi sejak Israel melancarkan serangan udara mendadak ke Iran pada tanggal 13 Juni, karena khawatir akan terganggunya aliran minyak dan gas dari Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz.

Seperti diketahui, harga acuan minyak mentah Brent telah naik 10% menjadi lebih dari $77 per barel sejak 13 Juni. 

Sebelumnya, Pengamat Ekonom Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radi mengatakan jika eskalasi konflik Israel-Iran meluas, kata Fahmy, tidak bisa dihindari harga minyak dunia akan melambung diperkirakan bisa mencapai di atas US $ 100 per barrel. 

"JP Morgan memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak hingga US$ 130 per barel jika eskalasi perang meluas hingga Iran menutup Selat Hormuz, yang menjadi lalu lintas pengangkutan minyak dunia," kata Fahmy kepada Arina.id

Dalam kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia dihadapkan pada dilema dalam penetapan harga BBM di dalam negeri. Kalau harga BBM Subsidi tidak dinaikkan, beban APBN akan membengkak. 

"Di samping itu, kenaikan harga minyak dunia akan semakin menguras devisa untuk membiayai impor BBM. Ujung-ujungnya makin memperlemah kurs rupiah terhadap dollar AS, yang sempat menembus Rp. 17.000 per dollar AS," jelas Fahmy.


Editor: Muhammad Zunus
logo