Arina.id ~ Hakikat puasa adalah jihad melawan nafsu diri sendiri yang selalu mengajak pada keburukan. Bukan secara kebetulan jika pada bulan Ramadhan banyak terjadi jihad besar melawan musuh-musuh Islam dan kemenangan bagi umat Islam.
Ada beberapa catatan sejarah kemenangan umat Islam yang berjihad di bulan Ramadhan seperti perang Badar Kubra yang merupakan kemenangan besar umat Islam pada tahun ke 2 hijriyah. Pada 28 Ramadhan tahun Ke-92 Hijriyah panglima pejuang Islam Tariq bin Ziyad berhasil mengusai selat Giblaltar (Jabal Thariq) Spanyol dan mengalahkan Raja Rodrik dalam peperangan sengit.
Ramadhan tahun Ke-584 Hijriyah, Salahuddin Al-Ayyubi dapat mengalahkan kaum Salib dan membebaskan sebagian besar negeri yang pernah dikuasai oleh pihak kaum Salib (Kristian).
“Puasa identik dengan jihad bersenjata dan penaklukan. Karenanya ketika merayakan kemenangan jihad dengan takbir demikian juga kemenangan puasa Ramadhan saat lebaran tiba mengumandangkan takbir,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan yang dikutip Arina.id, Rabu (13/3/2024).
Ia menjelaskan bahwa tujuan jihad di jalan Allah Swt adalah untuk meninggikan kalimat Allah dan menerapkan Al-Qur'an di muka bumi. Demikian juga Allah Swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur'ȃn Al-Karîm bagi hambanya di muka bumi.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'ȃn sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil),” jelasnya mengutip arti Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 185.
Rasulullah Saw menjadikan Ramadhan sebagai bulan Al-Quraȃn. Beliau berpuasa di siang hari sambil membaca Al-Qur'ȃn dan malam hari murȃja’ah (mengulang-ulang) bacaannya bersama malaikat Jibril as.
Bahkan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan menjelang wafat Rasulullah Saw, Malaikat Jibril memastikan urutan Al-Qur'ȃn al-Karîm dengan murȃja'ah (membacakan ulang) yang disaksikan oleh Zaid bin Tsabit seperti susunan Al-Qur'ȃn yang ada di tangan kita saat ini.
“Pada bulan Ramadhan Allah Swt membuka pintu rahmat-Nya selebar-lebarnya, sehingga pintu Surga selalu dibuka dan pintu Neraka selalu ditutup. Setiap kebaikan dilipatkan gandakan, sedikitnya sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipat kecuali pahala puasa, karena akan dilipatkan sendiri oleh Allah Swt. tanpa ada batasnya,” jelasnya mengutip sebuah hadits.
Karenanya, di bulan Ramadhan, hati orang mukmin dibuka untuk berbuat baik dan enggan berbuat buruk. Puasa satu bulan adalah dosis yang tepat untuk memperbaiki prilaku setahun. Kemudian jika seseorang yang mampu berpuasa membatalkan puasanya maka harus diganti pada hari di bulan-bulan lainnya.
Jika telah melewati puasa tahun berikutnya maka harus membayar denda (fidyah) untuk mengikat tali ikatan sosial. “Mudah-mudahan ibadah puasa kita dapat menangkap rahasia-rahasia puasa yang terkandung di dalamnya dan dapat diterapkan dalam kehidupan,” harapnya.
Editor: Muhammad Faizin
