Masyarakat global riuh dengan pemberitaan Epstein File. Banyak ditemukan video, gambar, dan nama tokoh-tokoh penting. Pemberitaan ini menarik perhatian dan kemarahan publik karena mengandung kejahatan kemanusiaan dengan korban anak-anak. Department of Justice (DOJ) AS merilis dokumen lebih dari 3 juta halaman yang berkaitan dengan kejahatan seksual Epstein.
Nama Epstein merujuk pada Jeffrey Epstein. Ia merupakan pemodal asal Amerika Serikat dengan jaringan luas di kalangan elite AS dan internasional. Dalam catatan BBC, ia disebutkan sebagai guru Matematika yang beralih ke dunia keuangan sebelum didakwa menjadi pelaku kejahatan seksual tahun 2008. Tahun 2019 ia kembali ditangkap untuk melakukan persidangan ulang atas kasus perdagangan seks yang lebih serius. Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan meninggal di sel penjara Metropolitan Correctional Center, New York, dengan penyebab bunuh diri.
Epstein File yang dirilis belum lama ini bukan dokumen kejahatan Epstein pertama yang dirilis. Pada 19 Desember 2025, DOJ juga merilis ratusan ribu dokumen kejahatan Epstein, setelah The House of Representatives AS menyetujuinya. Dalam unggahan pertama itu, ABC News melaporkan bahwa terdapat foto-foto tokoh terkenal yang dimuat di dalamnya. Salah satunya mantan Presiden AS, Bill Clinton.
Perilisan kedua dilakukan DOJ pada 23 Desember 2025. DOJ merilis 30.000 halaman tambahan yang mencakup email, catatan pengadilan, dan foto-foto lain. Ditemukan juga catatan perjalanan Donald Trump dengan Epstein dalam jet pribadinya pada 1990-an. Selain itu, juga muncul nama-nama tokoh lainnya, di antaranya Andrew Albert Christian Edward Mountbatten-Windsor atau Pangeran Andrew, anak ketiga dan putra kedua Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philips.
Pada 30 Januari 2026 DOJ merilis Epstein File lainnya dengan total lebih dari 3 juta halaman. Catatan penyelidikan ini memuat rangkaian email, 2000 video, dan 180 ribu foto terkait kasus Epstein. Magdalene Id, dalam akun Instagram menulis beberapa nama tokoh yang masuk dalam data Epstein File. Di antaranya: Donald Trump, Elon Musk, Duta Besar Inggris Mandelson, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Noam Chomsky, dan beberapa nama lain. Setiap nama punya konteks hubungan beragam.
Jutaan lembar dokumen Epstein menjadi data yang memunculkan dugaan bahwa ada banyak pihak yang terlibat dalam kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak. Namun, hingga kini belum ada kejelasan lebih lanjut. Satu-satunya nama yang terseret dan mendapat dakwaan hanya rekannya, Ghislaine Maxwell, saat ini ditahan di penjara perempuan di Texas.
Kompas (3/2/2026) menyebut Epstein Files sebagai kotak pandora pedofilia dalam relasi kuasa. Kasus Epstein menjadi sangat kompleks karena melibatkan jaringan kekuasaan yang memfasilitasi kejahatan itu secara sistemik. Penyebab kejahatan ini bukan semata-mata dorongan seksual tetapi ada hasrat akan dominasi.
Menyusuri Jejak Human Trafficking
Kejahatan human trafficking yang melibatkan perempuan dan anak banyak dibahas dalam berbagai sumber: film, karya sastra, hingga hasil reportase membantu banyak orang memahami pola paru pelaku kejahatan. Salah satu jurnalis yang mengungkap hal itu dengan amat apik adalah Lydia Cacho, dituangkan dalam karyanya bertajuk Bisnis Perbudakan Seksual (Margin Kiri, 2021). Cacho memaparkan bahwa dalam lingkar perdagangan manusia, ada jejaring yang sudah tersusun secara sistematis dan melibatkan berbagai pihak, termasuk para petinggi negara.
Dalam bukunya itu, Cacho menuliskan bahwa para perempuan dan anak yang dijadikan sebagai pekerja seks, sebenarnya tidak menyukai komodifikasi seksual. Tetapi, secara halus mereka dimanipulasi oleh para germo untuk percaya bahwa mereka membutuhkan profesi tersebut. Manipulasi itu dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan memberikan pemahaman bahwa satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah hanya dengan menjadi pelayan seks.
Keluarga yang hidup dalam kemiskinan dan tingkat pendidikan yang minim, sering kali menjadi target mudah para pelaku perdagangan. Dengan iming-iming pekerjaan atau kehidupan yang lebih baik, korban dijebak untuk meninggalkan rumah mereka dan masuk dalam dunia tanpa pintu keluar.
Cacho menceritakan salah satu kisah mengerikan yang dialami korban, ketika berupaya kabur dari lingkaran tersebut. Perempuan yang berniat pergi akan dibunuh oleh sang germo lalu tubuhnya dijadikan sup untuk dimakan oleh anak-anak dan perempuan yang tersisa. Hal itu dilakukan agar memberikan efek jera bagi siapa pun yang berniat untuk melarikan diri. Kisah ini diikuti dengan cerita menyeramkan lainnya.
Di Indonesia, perdagangan manusia yang melibatkan anak dan perempuan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), menyatakan bahwa angka tertinggi korban perdagangan manusia di Indonesia pada tahun 2019-2023 adalah perempuan dan anak.
Jika ditelisik lebih dalam, kondisi itu bisa terus terjadi lantaran ada kombinasi beberapa faktor; sistem yang sakit, keterlibatan tokoh publik, hukum yang tidak tegas, kemiskinan struktural, kurangnya pendidikan, kekerasan dalam keluarga, hingga perang dan konflik.
Novel Jatisaba (2012) karangan Ramayda Akmal, juga menjadi salah satu karya yang menggambarkan siklus sindikat perdagangan manusia–dengan korban perempuan–di banyak perdesaan. Melalui tokoh Mainah atau Mae, Ramadya mengaitkan human trafficking dengan politik, kemiskinan, minimnya pendidikan, dan mangkirnya negara dalam menyediakan lapangan pekerjaan.
Epstein File menjadi pintu masuk masyarakat global untuk memahami kerentanan perempuan dan anak dalam sistem yang sangat kotor dan tidak transparan. Tragedi ini menjadi alarm bagi masyarakat global untuk mempertanyakan kembali nilai kemanusiaan yang seringkali digaungkan. Bersama-sama, bersuara, menuntut keadilan bagi para korban dan pertanggungjawaban para pelaku adalah sebuah upaya paling mungkin untuk melawan kejahatan yang tersembunyi di balik jaringan kekuasaan.
Editor: Kendi Setiawan
