Arina.id — Sesaat sebelum laga pembuka Grup E Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curacao dimulai, kamera menangkap pemandangan yang tidak biasa. Di pinggir lapangan, pelatih Curacao, Dick Advocaat, tampak berlinang air mata ketika lagu kebangsaan negaranya berkumandang.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya luapan emosi seorang pelatih veteran. Namun bagi Advocaat, momen tersebut adalah puncak dari perjalanan panjang yang nyaris berakhir sebelum dimulai.
Pelatih asal Belanda itu kini berusia 78 tahun. Saat memimpin Curacao menghadapi Jerman pada 14 Juni 2026, ia resmi menjadi pelatih tertua yang pernah mendampingi tim dalam pertandingan Piala Dunia pada usia 78 tahun 280 hari. Rekor itu menambah satu catatan sejarah dalam karier kepelatihan yang telah berlangsung hampir empat dekade. Namun kisah sesungguhnya bukanlah soal usia.
Yang membuat perjalanan Advocaat begitu istimewa adalah keberhasilannya membawa Curacao, negara kepulauan kecil di Karibia dengan populasi sekitar 156 ribu hingga 180 ribu jiwa, lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bahkan, Curacao tercatat sebagai negara terkecil yang pernah tampil di ajang sepak bola paling bergengsi tersebut.
Bagi dunia sepak bola, pencapaian itu nyaris terasa mustahil.
Ketika Keluarga Lebih Penting dari Sepak Bola
Di tengah euforia kelolosan Curacao ke Piala Dunia, Advocaat justru membuat keputusan mengejutkan. Pada Februari 2026, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala.
Alasannya bukan karena konflik internal, bukan pula karena tawaran klub besar. Ia memilih pulang untuk mendampingi putrinya yang sedang mengalami masalah kesehatan serius.
Dalam pernyataannya saat itu, Advocaat menegaskan bahwa keluarga harus ditempatkan di atas sepak bola. Keputusan tersebut mendapat penghormatan luas dari federasi sepak bola Curacao maupun komunitas sepak bola internasional.
Pengunduran dirinya sempat menimbulkan kekhawatiran. Sebab, hanya beberapa bulan lagi Curacao akan menjalani debut bersejarah di Piala Dunia. Posisinya kemudian digantikan oleh sesama pelatih Belanda, Fred Rutten. Namun perjalanan bersama pelatih baru tidak berjalan mulus.
Setelah serangkaian hasil kurang memuaskan dalam laga uji coba, muncul desakan dari berbagai pihak agar Advocaat kembali memimpin tim. Ketika kondisi kesehatan putrinya mulai membaik, peluang itu akhirnya terbuka. Pada Mei 2026, Advocaat resmi kembali ke bangku pelatih Curacao.
Pencapaian Terbesar dalam Karier
Bagi seorang pelatih yang pernah menangani tim nasional Belanda, Korea Selatan, Rusia, Belgia, Irak, hingga klub-klub besar Eropa seperti Rangers, PSV Eindhoven, Feyenoord, dan Zenit St. Petersburg, membawa Curacao ke Piala Dunia mungkin terdengar tidak sebesar trofi-trofi yang pernah ia raih. Namun Advocaat justru memiliki pandangan berbeda.
Saat memutuskan mundur pada Februari lalu, ia menyebut keberhasilan mengantarkan Curacao ke Piala Dunia sebagai salah satu pencapaian paling luar biasa dalam karier kepelatihannya. Sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa istimewanya perjalanan negara kecil tersebut menuju panggung sepak bola dunia.
Keberhasilan itu semakin terasa luar biasa karena Curacao harus bersaing dengan negara-negara yang memiliki sumber daya jauh lebih besar. Tim ini dibangun dari kombinasi pemain lokal dan diaspora keturunan Curacao yang berkembang di Belanda.
Malam Bersejarah Meski Dihajar Jerman
Debut Curacao di Piala Dunia memang tidak berakhir manis. Mereka harus mengakui keunggulan Jerman dengan skor telak 1-7 di Houston.
Namun skor besar itu tidak mampu menghapus makna sejarah yang tercipta.
Curacao bahkan sempat membuat kejutan ketika Livano Comenencia mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-21. Gol tersebut menjadi gol pertama Curacao sepanjang sejarah penampilan mereka di Piala Dunia. Para pendukung yang datang dari Karibia merayakannya bak sebuah kemenangan besar.
Usai pertandingan, Advocaat meminta para pemainnya tidak merasa malu. Menurutnya, menghadapi salah satu raksasa sepak bola dunia merupakan pengalaman berharga yang harus dinikmati.
Ia mengaku sempat diliputi emosi ketika lagu kebangsaan diperdengarkan sebelum pertandingan. Bukan karena hasil pertandingan, melainkan karena menyadari bahwa Curacao akhirnya berdiri sejajar dengan negara-negara besar di panggung Piala Dunia.
Air Mata Seorang Pelatih
Sepanjang kariernya, Dick Advocaat dikenal sebagai sosok keras, tegas, dan penuh disiplin. Julukan "The Little General" melekat padanya selama puluhan tahun. Namun di Houston, dunia melihat sisi lain dari seorang legenda.
Air mata yang jatuh sebelum kick-off bukan sekadar ekspresi haru seorang pelatih senior. Itu adalah simbol dari perjalanan panjang yang dipenuhi pengorbanan, ujian keluarga, dan keyakinan bahwa mimpi negara kecil sekalipun layak diperjuangkan.
Malam itu Curacao memang kalah telak dari Jerman. Tetapi bagi Dick Advocaat dan rakyat Curacao, sejarah sudah tercipta jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.
Editor: Muhammad Zunus
