Jakarta, Arina.id — Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga pakar filsafat, Fahruddin Faiz, mengajak umat Islam untuk menghadapi kesedihan dan kekecewaan dengan memperkuat hubungan dengan Allah. Menurutnya, mengingat Allah, memahami kasih sayang-Nya, dan menerima ketetapan-Nya dapat membantu seseorang menemukan ketenangan serta menumbuhkan harapan di tengah kesulitan.
Fahruddin Faiz menjelaskan, dalam perspektif tasawuf terdapat tiga fase hubungan manusia dengan Allah ketika menghadapi penderitaan, yakni confirming, responsif, dan ekstatik.
“Orang yang ada di fase confirming itu orang yang ketika sedih bisa merasakan hadirnya Allah. Terus dia tenang dan muncul harapan-harapan baru,” jelasnya dalam kajian yang mengulas pemikiran Jalaluddin Rumi dalam tayangan Ruang Sinau diakses Minggu (11/10/2026).
Ia menerangkan, fase confirming merupakan tahap ketika seseorang menyadari kehadiran Allah saat mengalami kesedihan. Kesadaran tersebut dapat memberikan ketenangan dan menumbuhkan optimisme bahwa selalu ada jalan keluar dari kesulitan.
Adapun fase responsif ditandai dengan kesadaran yang lebih mendalam, yakni seseorang tidak hanya merasakan kehadiran Allah, tetapi juga meyakini kedekatan dan kasih sayang-Nya.
“Allah itu tidak pernah tidak baik kepada kita. Kita saja yang keluar jalur sehingga kebaikan Allah tidak sampai,” ujarnya.
Sementara itu, fase ekstatik merupakan tahap ketika seseorang memiliki kedekatan dan kecintaan yang mendalam kepada Allah. Pada fase ini, seseorang berusaha menerima ketetapan-Nya, baik berupa pengalaman menyenangkan maupun menyakitkan.
Faiz mengajak setiap orang untuk merefleksikan sejauh mana hubungan mereka dengan Allah ketika menghadapi penderitaan. Menurutnya, cara seseorang memandang kehadiran Allah dapat menunjukkan tingkat kedekatan spiritualnya.
Tiga ayat Al-Qur’an untuk menenangkan hati
Selain menjelaskan perspektif tasawuf, Fahruddin membagikan tiga ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan pegangan ketika seseorang menghadapi kesedihan, kekecewaan, dan keinginan yang belum terwujud.
Pertama, Surat Al-Insyirah ayat 5–6 yang menegaskan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan.
Faiz mengingatkan bahwa ayat tersebut memberikan harapan agar seseorang tidak terjebak dalam keputusasaan ketika menghadapi persoalan hidup.
“Sesulit apa pun hidupmu, sepahit apa pun pengalamanmu, tidak usah khawatir. Pasti ada kemudahan,” tuturnya.
Kedua, Surat Ar-Ra’d ayat 28 yang menjelaskan bahwa mengingat Allah dapat menenteramkan hati.
Menurut Faiz, zikir dan kesadaran akan kehadiran Allah dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi kegelisahan. Ia mengajak umat Islam untuk menghadirkan Allah dalam kehidupan, terutama ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran dan persoalan yang terasa sulit diselesaikan.
Ketiga, Surat Al-Baqarah ayat 216 yang mengajarkan bahwa sesuatu yang tidak disukai manusia bisa jadi membawa kebaikan, sedangkan sesuatu yang disukai belum tentu baik baginya.
Faiz menjelaskan, manusia memiliki keterbatasan dalam memahami manfaat dan akibat dari setiap peristiwa. Karena itu, keinginan yang tidak terpenuhi tidak selalu berarti seseorang kehilangan sesuatu yang baik untuk dirinya.
“Apa yang kita sukai bisa jadi itu buruk untuk kita. Allah lebih tahu. Jangan terlalu kecewa, jangan putus asa,” katanya.
Ia menambahkan, kegagalan dalam meraih cita-cita atau tidak terpenuhinya suatu keinginan dapat menjadi kesempatan untuk menerima kenyataan dan melihat kemungkinan lain yang belum disadari.
Menurutnya, keyakinan bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi manusia dapat membantu seseorang menghadapi kekecewaan dengan lebih lapang.
Melalui ketiga ayat tersebut, Fahruddin Faiz mengajak umat Islam untuk menjaga harapan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Kesedihan dan kekecewaan, menurut pesan yang disampaikannya, tidak harus berujung pada keputusasaan, tetapi dapat menjadi momentum untuk memperdalam hubungan spiritual.
Editor: Kendi Setiawan
