Musim Dingin di Gaza, 6 Bayi Malang Meninggal Kedinginan di Tenda-tenda

Musim Dingin di Gaza, 6 Bayi Malang Meninggal Kedinginan di Tenda-tenda

Jakarta, Arina.id - Warga Gaza Palestina harus menghadapi berbagai penderitaan dalam perang melawan Israel. Selain ancaman mortir dari serdadu Israel, lalu ancaman kelaparan, kini mereka juga terancam kematian akibat musim dingin yang menyakitkan.

Seperti dilaporkan kantor berita Aljazeera pada Rabu 1 Januari 2025, dalam sepekan ini cuaca dingin Gaza telah menyebabkan enam bayi meninggal dunia kibat kedinginan (hipotermia). Bayi-bayi malang tersebut selama ini tinggal di tenda-tenda pengungsian, beberapa bersama orangtuanya tinggal di bekas bangunan-bangunan tidak layak.

Pada pekan terakhir Desember 2024 hingga awal Januari 2025, suhu di Gaza berkisar antara 19 derajat celcius dan 20 derajat celcius (66F hingga 68F) dan suhu terendah di malam hari antara 11 derajat celcius dan 12 derajat celcius (52F dan 54F).

Bulan Januari seperti sekarang ini biasanya memang menjadi puncak musim dingin sekaligus basah (hujan) di Gaza. Suhunya bahkan pernah menyentuh 9 derajat celcius pada malam hari dan 18 derajat celcius pada siang hari. Belum lagi ditambah hujan deras yang kerap turun di wilayah pesisir.

Namun musim dingin di Gaza kali ini jelas terasa lebih menyakitkan bagi mereka yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Begitu juga yang tinggal di tempat tanpa perlindungan layak karena hujan lebat dan angin kencang telah menghancurkan penutup sementara, membasahi pakaian dan selimut mereka. 

Apalagi akses mendapatkan bahan bakar, listrik, atau pemanas gas sangat terbatas gegara blokade ketat dari tentara Israel. Dampaknya banyak penduduk terpaksa menebang pohon demi kayu bakar yang akan mereka gunakan untuk memasak atau sekadar dibakar agar tetap hangat.

Musim dingin di Gaza juga disorot Dana Anak-anak PBB (UNICEF). Dalam sepekan ini mereka mengungkap angka kematian bayi akibat kedinginan lebih tinggi lagi, yakni tujuh bayi. Seperti disampaikan Manager Komunikasi UNICEF Ricardo Pires.

"Tragis dan tidak dapat diterima bahwa sejak 23 Desember, tujuh bayi baru lahir dan bayi dilaporkan meninggal akibat cuaca dingin dan kurangnya tempat perlindungan yang memadai di Gaza," ujar seperti dilaporkan Anadolu, Selasa (31/12/2024).

Selain itu, Pires menambahkan, kematian yang sebenarnya bisa dicegah itu menunjukkan buruknya keadaan dan keputusasaan yang dihadapi keluarga dan anak-anak di seluruh wilayah Jalur Gaza selama lebih dari 14 bulan.

"Cedera akibat dingin, seperti radang dingin dan hipotermia, menimbulkan risiko serius bagi anak-anak kecil di tenda dan tempat penampungan sementara lainnya yang tidak dilengkapi dengan peralatan memadai untuk menghadapi cuaca dingin. Bagi bayi baru lahir, balita, dan anak-anak yang rentan secara medis, bahayanya bahkan lebih serius," ujarnya.

Pires juga memperingatkan, "dengan suhu yang diperkirakan akan terus turun, sangat disayangkan bahwa akan ada lebih banyak anak yang kehilangan nyawa akibat kondisi tidak manusiawi yang mereka alami, yang tidak memberikan perlindungan dari hawa dingin."

Selain bahaya langsung dari cuaca dingin, Pires mencatat bahwa keluarga di Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang lebih besar, termasuk tempat berlindung, gizi, dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.

Pires menekankan komitmen UNICEF untuk "terus bekerja tanpa kenal lelah, membagikan pakaian musim dingin, selimut, dan dan perlengkapan darurat untuk anak-anak," meskipun banyak tantangan.

"Namun sayangya, kemampuan lembaga kemanusiaan untuk memberikan bantuan penyelamatan nyawa dalam skala yang dibutuhkan masih sangat terbatas," imbuhnya.

Militer Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza yang telah menewaskan hampir 45.500 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

Tel Aviv telah memberlakukan blokade ketat di Gaza, meninggalkan 2,3 juta penduduk wilayah tersebut di ambang kelaparan.


Editor: Muhammad Taufiq
logo