Arina.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menebar teror ke negara-negara di kawasan. Dalam tempo tiga hari, militer negeri Zionis melancarkan serangan di Gaza, Lebanon, Yaman, Suriah, Tunisia, dan paling mengejutkan adalah Qatar,
Dalam pernyataan terbarunya, pemimpin negeri Zionis mengancam akan membunuh dan melakukan pengeboman lagi dengan target para pemimpin Hamas jika Qatar tidak mengusir mereka. Bahkan bukan hanya kepada Qatar, ancaman juga ditebar kepada negara manapun yang melindungi pemimpin Hamas.
Israel sama sekali tidak terpengaruh oleh kemarahan dunia internasional atas serangan di Doha. Netanyahu yang menyebut Hamas sebagai teroris justru mengatakan, seharusnya negara-negara lain mengapresiasi tindakannya mengebom dan melakukan pembunuhan massal di Timur Tengah.
"Saya katakan kepada Qatar dan semua negara (kawasan Teluk) yang melindungi teroris, usir mereka atau bawa mereka ke pengadilan — karena jika tidak, kami yang akan melakukannya," ujarnya, seperti dikutip dari Al-Jazeera, Rabu 10 September 2025.
Komentar itu muncul sehari setelah Israel melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Qatar. Serangan diklaim menargetkan pimpinan senior Hamas di Doha saat berdiskusi mengenai proposal gencatan senjata yang didukung AS untuk nasib Gaza.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam keras pernyataan Netanyahu dan menyebutnya sebagai "pernyataan yang memalukan....,untuk membenarkan serangan pengecut yang menyasar wilayah Qatar, serta ancaman nyata akan pelanggaran kedaulatan negara di masa mendatang."
"Netanyahu sepenuhnya menyadari bahwa penempatan negosiasi dengan Hamas terjadi dalam kerangka upaya mediasi yang dilakukan Qatar sebagai permintaan Amerika Serikat dan Israel," katanya.
Pernyataan seperti itu tidaklah mengejutkan karena datang dari seseorang yang mengandalkan retorika ekstremis untuk memenangkan pemilu dan sebagai orang yang paling dicari pengadilan internasional. Netanyahu juga menghadapi sanksi yang semakin berat setiap hari--faktor yang hanya memperdalam isolasinya di panggung global.
Sebelumnya, hanya dalam tiga hari, Israel telah melancarkan serangan di Gaza, Lebanon, Yaman, Suriah, Tunisia, dan Qatar, sembari terus melancarkan serangan harian ke wilayah Tepi Barat yang mereka duduki. Pada Rabu, serangan Israel di Yaman juga menewaskan 35 orang.
Minggu lalu, Israel dikecam karena menjatuhkan granat di dekat Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon selatan.
Hamdah Salhut dari Al-Jazeera mengatakan,"Israel sekali lagi tidak memiliki masalah dalam mencampuri urusan dalam negeri negara lain atau melanggar hukum internasional, dan kedaulatan negara lain dengan terlibat dalam konflik militer."
"Kita telah melihatnya berulang kali di wilayah tersebut, tidak hanya perang di Gaza. Kita telah melihatnya sepanjang karier politik Netanyahu, dan Netanyahu mengatakan akan mengambil tindakan sendiri."
"Israel tampaknya tidak peduli dengan apa yang dipikirkan dunia – terlepas dari semua kritik dan pelanggaran hukum internasional."
Qatar sebut serangan Netanyahu sebagai teror
Secara terpisah, dalam wawancara dengan CNN, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menggambarkan serangan Israel terhadap Doha sebagai sebuah "teror terhadap negara".
"Saya tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan betapa marahnya kami atas tindakan semacam itu... ini teror negara," ujar Sheikh Mohammed pada hari Rabu. "Kami dikhianati."
Perdana Menteri menambahkan bahwa Amerika Serikat telah menyatakan dukungannya terhadap Qatar dalam banyak kesempatan. Sheikh Mohammed menambahkan tindakan Israel telah membunuh harapan bagi para tawanan yang masih berada di Gaza.
"Saya sedang bertemu salah satu keluarga sandera pada pagi hari penyerangan," ujarnya. "Mereka mengandalkan mediasi (gencatan senjata) ini. Mereka tidak punya harapan lain."
"Saya pikir apa yang dilakukan Netanyahu kemarin, dia telah membunuh harapan bagi para sandera tersebut," tambah perdana menteri tersebut.
"Dia harus diadili," kata Sheikh Mohammed. "Dialah yang dicari di (Mahkamah Pidana Internasional atau ICC). Saya pikir seseorang seperti dia yang mencoba memberi ceramah tentang hukum — dia melanggar setiap hukum — dia melanggar setiap hukum internasional."
Negara-negara Teluk merespons
Para pemimpin Kawasan segera bergegas ke Doha setelah serangan tersebut. Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, sementara Raja Yordania dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga akan tiba.
Serangan itu telah mengirimkan gelombang kejut di seluruh Teluk, dengan negara-negara yang baru-baru ini menjajaki normalisasi dengan Israel kini justru balik mendukung Qatar.
"Akan ada respons dari kawasan ini," ujar Sheikh Mohammed. "Respons ini sedang dalam konsultasi dan diskusi dengan mitra lain di kawasan."
Ia mengonfirmasi bahwa pertemuan puncak Arab-Islam akan diadakan di Doha dalam beberapa hari mendatang untuk memutuskan tindakan yang akan diambil. "Harus ada respons kolektif dari kawasan ini," ujarnya.
"Kami mengharapkan sesuatu yang berarti yang dapat mencegah Israel melanjutkan intimidasi ini."
Editor: Muhammad Taufiq
