Teladan Gus Dur Menegakkan Kelompok Minoritas

Teladan Gus Dur Menegakkan Kelompok Minoritas

Yogyakarta, Arina.id — Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid membagikan pengalaman saat kunjungan ke Papua bersama Anita Wahid dan Lukman Hakim beberapa waktu lalu.

Alissa menceritakan perasaan warga Papua yang merasa terpinggirkan, meskipun wilayah mereka merupakan penyumbang penghasilan besar bagi Indonesia.

"Tingkat pendidikan paling rendah, kesejahteraanya paling rendah, padahal tanahnya paling kaya. Provinsi Papua dan Papua Barat penyumbang penghasilan nomor 5 dan 6 tapi tingkat pendidikan warganya paling rendah nomor 34, tingkat kesehatan nomor 35," kata Alissa pada peringatan haul ke-15 Gus Dur di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (15/11/2024).

Menurut Alissa, warga Papua yang awalnya skeptis untuk hadir dalam diskusi akhirnya bersedia datang karena mengetahui undangan tersebut berasal dari putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

"Bagi saudara-saudra di Papua, Gus Dur lah tokoh yang paling berbela rasa, yang mengembalikan jati diri, akar tradisi Papua. Karena itu bagi mereka Gus Dur adalah leluhur," jelasnya.

Alissa mengatakan warga Papua adalah kelompok warga bangsa yang betul-betul menjadi saksi bagaimana Gus Dur memandang semua manusia itu bisa berbeda tapi tetap setara. 

Gus Dur selalu mendampingi kelompok masyarakat yang terpinggirkan, seperti warga Papua, tanpa memandang perbedaan agama, warna kulit, atau latar belakang. 

"Bagi Gus Dur, semua manusia bisa berbeda, tetapi tetap setara," tegasnya.

Alissa menyebutkan dalam 15 tahun merawat perjuangan Gus Dur semakin membuatnya sadar bahwa menjaga prinsip, menjaga nilai luhur itu bukan hal mudah. 

"Gus Dur telah membuktikan tetapi kami sadar bahwa itu bukan hal mudah dibutuhkan jiwa yang ikhlas, hati yang luar untuk bisa menegakkan kesetaraan dan pembebasan penindasan apalagi menindas atas nama mayoritas agama," ucapnya.

Gus Dur telah membuktikan dengan mendampingi kelompok masyarakat dan orang-orang yang terpinggirkan dilemahkan seperti rakyat Papua. Tentu dibutuhkan hati yang luas untuk bersaudara dengan semua manusia tanpa melihat latar belakang  apalagi sampai takut kehilangan kekuasaan dan  mengatur konsititusi. 

"Gus Dur sudah membuktikannya dengan berdiri bersama kelompok minoritas agama dalam suka maupun duka bukan hanya pada saat dibutuhkan dukungannya, dan tidak silap oleh gelimang harta, silau panggung pemujaan, apalagi silau pada kekuasaan," paparnya.

Sejumlah tokoh hadir pada peringatan ini di antaranya Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, pendakwah muda milenial Habib Husein Ja'far Al Hadar. 


Editor: Kendi Setiawan
logo