Arina.id-Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menambah daftar panjang sejumlah pejabat sektor keuangan di era pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Perry mundur secara sukarela dengan alasan pribadi. Surat pengunduran dirinya diterima oleh presiden pada Minggu, 26 Juli 2026.
Pengunduran diri Perry ini terjadi di tengah tantangan berat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan volatilitas ekonomi global. Pelemahan nilai rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tetapi juga faktor eksternal dan kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, selain tekanan rupiah juga ada tantangan lain yang harus segera ditangani, yakni terkait kebutuhan anggaran untuk sejumlah program pemerintah menjadi isu kuat akhir-akhir ini, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih), yang menurut dia membutuhkan dukungan fiskal besar.
"Kita lihat program pemerintah seperti MBG dan Kopdes membutuhkan anggaran yang besar. Ketika terjadi persoalan dalam pengelolaan maupun perubahan alokasi dan hal tersebut dapat mempengaruhi kekuatan fiskal dalam negeri dan berdampak terhadap nilai tukar Rupiah," ujarnya.
Selain Perry, selama kurang lebih dua tahun pemerintahan Prabowo, pejabat sektor ekonomi lain yang mundur sebelumnya adalah Sri Mulyani Indrawati – Menteri Keuangan yang mengakhiri masa jabatannya pada 8 September 2025. Kemudian Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK yang mundur pada 30 Januari 2026. Di saat bersamaan Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK juga mundur pada 30 Januari 2026.
Berikutnya Aditya Jayaantara, Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek OJK yang mundur pada 30 Januari 2026 dan Iman Rachman, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia yang mundur pada 30 Januari 2026. Berikut ini daftar pejabat sektor keuangan era Prabowo lengkap yang mundur dengan alasannya:
1. Perry Warjiyo (Eks Gubernur Bank Indonesia)
Alasan: Mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi. Surat pengunduran dirinya diterima oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu, 26 Juli 2026. Pengunduran dirinya terjadi di tengah tantangan berat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan volatilitas ekonomi global.
2. Sri Mulyani Indrawati (Eks Menteri Keuangan)
Alasan: Transisi estafet kepemimpinan ke pemerintahan baru. Sri Mulyani resmi menyudahi tugasnya sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025. Posisinya kemudian digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa yang dilantik oleh Presiden Prabowo.
3. Mahendra Siregar, Inarno Djajadi, & Aditya Jayaantara (Eks Petinggi OJK)
Alasan: Tanggung jawab moral dan profesional atas anjloknya pasar modal. Ketiganya mundur secara serempak pada 30 Januari 2026. Langkah ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat, termasuk trading halt (penghentian perdagangan sementara) akibat sentimen negatif laporan MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang membekukan sementara rebalancing saham Indonesia.
4. Iman Rachman (Eks Direktur Utama Bursa Efek Indonesia / BEI)
Alasan: Pertanggungjawaban moral langsung atas gejolak hebat di bursa saham. Iman Rachman mengundurkan diri pada hari yang sama dengan para petinggi OJK, yaitu 30 Januari 2026. Keputusan ini dipicu oleh anjloknya IHSG hingga 8 persen dalam sehari serta kegagalan sistem bursa dalam menindaklanjuti (follow-up) masukan kepemilikan saham dari MSCI. Ia berharap mundurnya dapat memulihkan kepercayaan investor dan memberi ruang perbaikan bagi pasar modal ke depan.
Pejabat setara menteri mundur di luar sektor keuangan
Selain sejumlah pejabat di sektor keuangan, selama dua tahun kepemimpinan Prabowo juga diwarnai mundurnya sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih. Mundurnya Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menjadi sorotan paling kuat. Ia menyudahi jabatannya di awal kabinet dibentuk akibat dinamika kebijakan dan polemik di masyarakat.
Selain menteri, terdapat pula beberapa pejabat setingkat menteri, kepala badan, dan utusan khusus yang juga mengundurkan diri. Berikut ini dafarnya:
1. Satryo Soemantri Brodjonegoro (Eks Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi)
Alasan: Mengundurkan diri secara sukarela setelah menjabat selama kurang lebih empat bulan akibat adanya dinamika kebijakan dan polemik di tengah masyarakat. Pengunduran dirinya dikonfirmasi pada Februari 2025, menjadikannya menteri pertama dan satu-satunya di Kabinet Merah Putih yang melepas jabatan di awal pemerintahan.
2. Nanik S. Deyang (Eks Kepala Badan Gizi Nasional - Setingkat Menteri)
Alasan Mundur: Faktor kesehatan. Mundur pada 22 Juli 2026 agar dapat fokus menjalani pengobatan dan pemulihan jantung. Posisi strategis ini langsung digantikan oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, demi mencegah kekosongan kepemimpinan pada program makan bergizi gratis. [1, 2]
3. Miftah Maulana Habiburrahman / Gus Miftah (Eks Utusan Khusus Presiden)
Alasan: Tanggung jawab moral atas kontroversi ucapan. Mundur dari jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan setelah mendapat kritik tajam dari masyarakat akibat selip lidah (slip of the tongue) dalam sebuah acara publik.
4. Hasan Nasbi (Eks Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan / PCO)
Alasan: Polemik komunikasi publik. Mengajukan surat pengunduran diri pada April 2025 setelah dikritik keras karena dinilai kurang sensitif dan meremehkan isu ancaman kebebasan pers saat merespons sebuah peristiwa nasional.
Editor: Muhammad Taufiq
