Arina.id ~ Puasa adalah kebutuhan umat manusia yang pelaksanaannya sangat intim dan khusus kepada Allah Swt. Sejak dahulu kala, semua umat manusia yang beragama diperintah untuk menjalankan ibadah puasa meskipun waktunya berbeda-beda. Dan, semua cara puasanya adalah sama, yaitu meninggalkan makan, minum dan nafsu seksnya.
Rasulullah mengatakan bahwa puasa adalah perisai. Sehingga diperintahkan orang yang berpuasa untuk tidak berkata kotor dan bertindak dungu. Jika ada orang yang mencela atau mencaci maki dirinya, maka hendaknya dia katakan kepadanya: "Aku sedang puasa".
“Perisai (tameng) adalah salah satu perlengkapan yang digunakan untuk melindungi diri seseorang dari bahaya yang berasal dari serangan dari luar. Perisai jelas merupakan salah satu perlengkapan perang,” Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan.
Perisai bisa menjadikan hati tetap kualitas baik dan bersinar sebagai cermin pancaran sifat-sifat Ilahi. Perisai bagi hati nurani akan menangkal setiap gempuran dari dorongan nafsu buruk yang cenderung mengingkari ajakan dan desakan akal budi.
Puasa menurutnya juga adalah benteng diri yang menjaga stabilitas, antara kecenderungan jiwa baik dan kecenderungan nafsu buruk. Seseorang dapat melindungi dari nafsu yang mendorong berbuat jahat dengan cara berpuasa.
Ketika sedang berpuasa, seseorang dilatih untuk menjaga pandangan, pendengaran dan pembicaraan yang buruk, sehingga semua panca inderanya terbiasa dalam kontrol dirinya.
Puasa juga mampu menjadi benteng diri karena tujuan akhir dari puasa adalah mencapai derajat takwa. Sementara takwa hanya dapat diwujudkan dengan mengikuti perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangannya. Takwa sangat paralel dengan karakter inti hati nurani dan berlawanan dengan desakan nafsu.
“Rasulullah Saw beberapa kali menegaskan tentang beberapa faedah bagi umat manusia untuk menghindari diri dari perbuatan keji,” katanya dikutip Arina.id pada Ahad (17/3/2024).
Diantara faedah tersebut yang pertama, perintah puasa kepada orang yang diliputi oleh nafsu birahi, sedang dia tidak mampu untuk menikah. Maka diterapi dengan berpuasa karena bisa memberi pengaruh yang sangat baik untuk memelihara fisik dan kekuatan batin.
Kedua, puasa dapat menjaga seseorang dari perangai buruk dan melatih orang untuk selalu berbuat baik dan menghindari permusuhan. Puasa mengajarkan untuk tidak ikut berbuat buruk kepada orang yang memusuhi, memaki dan yang mengajak perang.
Ini selaras dengan tuntunan Nabi Saw bagi orang yang sedang berpuasa untuk tidak melayani orang yang mengganggunya karena ia sedang berpuasa.
Ketiga, penjelasan Rasulullah Saw bahwa surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat. Karenanya, puasa dapat menjadi sarana latihan untuk meninggalkan kesenangan nafsu dan mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan hati nurani, sehingga puasa menjadi penghalang antara orang yang berpuasa dengan Neraka.
“Rasulullah menegaskan bahwa perang melawan hawa nafsu dan ego diri sendiri adalah perang yang lebih besar dan tak pernah berhenti sampai manusia terkubur di bumi,” tegasnya.
Editor: Muhammad Faizin
