Finansial Jadi Pertimbangan Kelas Menengah Punya Momongan, Kelas Bawah Enggak

Finansial Jadi Pertimbangan Kelas Menengah Punya Momongan, Kelas Bawah Enggak

Arina.id - Sebuah fenomena unik terjadi di tengah masyarakat kita. Masyarakat kelas menengah cenderung mempertimbangkan betul faktor kesiapan fasilitas dan finansial untuk memiliki momongan. Namun masyarakat kelas bawah justru enggak. Demikian diungkap psikolog keluarga dari Universitas Indonesia Sani B Hermawan.

Sani menjelaskan, dari sisi finansial ada berapa nilai uang yang bisa mereka tabung untuk masa depan anak-anak mereka. Kemudian kehidupan seperti apa yang ingin dibangun, tinggal di kontrakan, masih nebeng orang tua atau tidak. Semuanya dipertimbangkan oleh pasangan kelas menengah ini. 

"Apakah mereka oke dengan masih nebeng di rumah orang tua misalnya, atau mereka siap untuk misalnya ya udah ngontrak dan sebagainya, jadi sebenarnya kalau secara material tetap bisa terukur," kata Sani seperti dikutip dari ANTARA, Senin (16/06/2025).

Ia mengatakan kesiapan fasilitas yang dianggap cukup oleh pasangan bisa menjadi alasan mereka siap untuk memiliki anak. Namun yang mempertimbangkan faktor ini datang dari kalangan atau kelas yang sudah teredukasi, kelas menengah dan tinggi.

Namun justru untuk kalangan kelas bawah, Sani mengatakan mereka tidak memikirkan faktor material dan hanya melahirkan anak apa adanya.

Untuk kalangan menengah atas biasanya keputusan untuk memiliki anak dibarengi dengan keraguan apakah mereka sanggup untuk membiayai anaknya dengan sebaik mungkin, atau terbentur karena pekerjaan yang berat dan karir yang menuntut untuk fokus.

Sani mengatakan faktor lain yang menjadi pertimbangan pasangan untuk memiliki anak adalah kesiapan mental atau imaterial, maka itu konsultasi dengan profesional atau kerabat yang sudah berpengalaman bisa menjadi cara untuk memantapkan diri memiliki anak.

"Ketika kita imau punya anak ada kekhawatiran kehadiran anak ini enggak jadi apa-apa biasanya, takutnya gagal sebagai orang tua misalnya, takutnya juga anak ini enggak tumbuh sehat misalnya, jadi banyaknya konsultasi dengan profesional, psikolog dan juga mungkin bertanya pada orang-orang yang dia percaya bisa membuat mereka jadinya yakin gitu," katanya.

Sani juga menyatakan bahwa sampai kapan pun orang tua akan merasa selalu tidak siap atau selalu merasa kurang dalam membimbing anak.

Maka itu ia mengatakan setiap proses perjalanan tumbuh kembang anak akan hadir juga orang tua yang terus memperbaiki gaya pengasuhannya dan harus selalu berproses untuk melengkapi dirinya dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Keputusan untuk memiliki anak juga harus disepakati secara sadar oleh kedua pihak agar tidak ada beban dalam hubungan pasangan suami istri hingga akhirnya menimbulkan masalah karena merasa tidak adil satu sama lain.


Editor: Muhammad Taufiq
logo