Jakarta, Arina.id — Jurnalis warga (Citizen Journalism) yang juga seorang kreator konten Saleh al-Jafarawi ditembak mati dan dibunuh oleh anggota milisi bersenjata Israel saat meliput bentrokan di Sabra, Gaza pada Minggu 12 Oktober 2025.
Dilansir dari Al Jazeera, bentrokan terjadi antara pasukan keamanan Hamas melibatkan milisi bersenjata yang berafiliasi dengan pendudukan Israel dari klan Doghmush di Sabra.
Rekaman video yang diverifikasi kantor berita setempat menunjukkan jasad al-Jafarawi masih mengenakan jaket anti peluru di dalam bak truk setelah insiden.
Meskipun ada gencatan senjata baru-baru ini, otoritas setempat telah berulang kali memperingatkan bahwa situasi keamanan di Gaza masih mencekam.
Al-Jafarawi kerap membagi pengalamannya meliput kondisi di Gaza hingga pengungsian dari kota ke kota meski ia telah menerima banyak ancaman dari Israel karena pekerjaannya.
"Sejujurnya, saya hidup dalam ketakutan setiap detiknya, terutama setelah mendengar apa yang dikatakan pendudukan Israel tentang saya. Saya menjalani hidup dari detik ke detik, tidak tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya," ujarnya.
Kematian Al-Jafarawi menambah daftar panjang jurnalis yang wafat dalam konflik Gaza. Lebih dari 270 pekerja media kini telah tewas di Gaza sejak dimulainya perang Israel pada Oktober 2023.
Hingga kini, otoritas di Gaza belum mengumumkan pelaku penembakan, sementara organisasi jurnalis internasional menyerukan penyelidikan independen atas kematiannya.
Sementara itu, Middle East Eye mengutip pernyataan rekan al-Jafarawi yang juga seorang jurnalis di Gaza, Mohamed Shahen. "Setiap hari adalah kehilangan baru dan perpisahan baru, kesedihan baru - meskipun militer Israel telah menghentikan perang ini, yang tersisa dari pasukan ini dan pengkhianatan sebagian orang," ujarnya.
Shahen membagikan video jasad aktivis yang tak bernyawa sambil merujuk pada geng-geng di Gaza yang mulai bermunculan. "Semoga Allah merahmati pahlawan Saleh al-Jafarawi, yang menjadi pelopor dalam menyampaikan penderitaan dan mendukung kaum tertindas," ujarnya.
Al-Jafarawi menjadi terkenal selama perang karena menggunakan platform media sosialnya untuk berbagi kisah langsung tentang kehancuran di lapangan.
Selama genosida, lebih dari 238.000 warga Palestina terbunuh atau terluka oleh pasukan Israel - sementara sebagian besar infrastruktur Gaza - termasuk rumah, sekolah, universitas, masjid, gereja, ruang publik, dan pusat kesehatan - hancur menjadi puing-puing.
Laporan terkini, berdasarkan data intelijen militer Israel, menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen dari mereka yang terbunuh hingga Mei tahun ini adalah warga sipil.
Editor: Muhammad Taufiq
