Arina.id ~ Ramadhan melalui ibadah puasa adalah balai latihan untuk mendidik manusia agar hidupnya mencapai derajat yang tinggi. Dengan cara menahan lapar dan haus serta syahwat, manusia dapat mengasah kesucian fitrahnya sehingga bergerak pada kehidupan yang lebih bermakna.
Seringkali fitrah yang suci diselimuti oleh kabut hewani dan debu dosa sehingga tak mampu memenangkan ruh dan mengalahkan kehinaan tanah liat yang melekat pada diri.
“Puasa merupakan terapi untuk menghidupkan raga, jiwa dan asa agar senantiasa bergerak sesuai garis agama,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan.
“Sehingga diri manusia senantiasa hidup saat bernafas dan terus hidup dengan jasa dan karyanya setelah detak jantung berhenti dan ruh berpisah dengan raga,” imbuhnya tentang puasa yang dijadikan sarana mencari makna hidup, dikutip Arina.id, Jumat (15/3/2024).
Kiai Cholil mengingatkan bahwa hidup ini adalah sebuah misteri dan penuh rahasia. Seringkali manusia bingung untuk mencari makna hidup. Acapkali terhantui pertanyaan dalam dirinya, siapa saya?, akan kemana saya?, dan untuk apa hidup ini?.
Manusia tidak banyak mengetahui arti kehidupan. Yang manusia ketahui hanyalah realitas yang nampak pada dirinya.
“Tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama ia akan hidup, di mana ia akan mati, dalam keadaan apa ia akan mati, dan dengan cara apa ia akan mati, sebagian manusia menyangka bahwa hidup ini hanya satu kali dan setelah itu mati ditelan bumi,” ungkapnya.
Menurut Islam lanjutnya, hidup dan mati tidak hanya soal detak jantung tetapi masalah produktifitas. Bisa saja seseorang yang telah mati, dikubur ribuan tahun. Bahkan sudah tidak ada lagi orang yang mengenali kuburannya tetapi dia hidup dan senantiasa mendapat rejeki yang melimpah tanpa henti dari Allah Swt.
“Seringkali orang yang masih sehat, segar dan bugar secara kasat mata, namun ia sebenarnya telah mati karena tidak berproduksi dan tidak bermanfaat kepada orang lain,” imbuhnya.
Inilah penjelasan Islam tentang arti dan hakikat hidup manusia di muka bumi. Islam menganggap seseorang hidup jika hatinya dapat menerima petunjuk dan diamalkan dengan “jihad” di jalan Allah Swt.
Tentu saja arti jihad menurutnya bukan semata angkat senjata yang mematikan, tetapi senjata yang menghidupkan untuk kebaikan orang lain. Artinya, manusia hidup dan bermakna jika berjihad dalam konteks berusaha mengisi hidup dengan karya dan kerja nyata, agar berarti dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
“Hidup menurut pandangan Islam adalah kebermaknaan dalam kualitas secara berkesinambungan dari kehidupan dunia sampai akhirat. Dalam pandangan Islam, hidup seseorang diukur dengan seberapa besar ia melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia hidup yang telah diatur dalam Islam,” katanya.
“Ada dan tiadanya seseorang dalam Islam ditakar dengan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh umat dengan kehadiran dirinya,” pungkasnya.
Editor: Muhammad Faizin
