41 Orang Tewas Dalam Serangan di Pusat Bantuan Rafa, Gaza di Ambang Kelaparan Akut

41 Orang Tewas Dalam Serangan di Pusat Bantuan Rafa, Gaza di Ambang Kelaparan Akut

Arina.id - Pasukan Israel menyerang lokasi pusat bantuan kemanusiaan bagi warga di Rafah, Jalur Gaza, Palestina. Serangan ini dilakukan ketika gencatan senjata dengan Hamas mengalami jalan buntu alias deadlock. Akibat serangan itu sedikitnya 41 orang tewas ketika sedang mengantre bantuan pangan hari ini, Sabtu 19 Juli 2025.

Serangan yang bertubi-tubi oleh para serdadu Zionis membuat situasi warga Gaza kian sekarat. Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan, saat ini ribuan warga Palestina di Gaza berada di ambang kelaparan yang parah dengan satu dari tiga orang di wilayah kantong tidak makan selama berhari-hari. 

Di sisi lain, tentara Israel juga terus memblokir bantuan kemanusiaan kepada penduduk yang terkepung dan membunuh warga Palestina kelaparan di lokasi yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Found (GHF). Tentara Israel juga terus maju dengan rencana membangun kamp konsentrasi di atas reruntuhan Rafah meskipun menerima kritik dunia internasional.

Angka terbaru korban menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 58.667 warga Palestina tewas dan 139.974 lainnya terluka sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, termasuk sedikitnya 7.843 tewas dan 27.993 terluka sejak Israel melanggar gencatan senjata terakhir pada bulan Maret 2025.

Kementerian tersebut menambahkan bahwa jumlah orang kelaparan dari segala usia, termasuk anak-anak, yang “belum pernah terjadi sebelumnya”, berdatangan ke unit gawat darurat di beberapa rumah sakit yang masih beroperasi sebagian di Gaza dalam kondisi kelelahan dan keletihan ekstrem.

Hind Khoudary, Reporter Al-Jazeera melaporkan ada puluhan orang terluka dirujuk ke rumah sakit (RS). Di sisi lain rumah sakit kini juga sudah kehabisan pasokan medis dan bahan bakar. Orang-orang terus mendatangi GHF, karena hanya di sanalah pusat distribusi yang menyediakan makanan. 

"Namun, kondisinya sudah tidak ada tepung, beras, dan yang tersisa sangat mahal dan tidak ada yang mampu membelinya. Warga Palestina berjalan jauh di bawah terik matahari untuk mencapai pusat-pusat tersebut," demikian laporan Khoudary. 

"Mereka mengatakan 'tidak akan rugi apa-apa, sebab pilihannya hanya dua, akan mati karena kelaparan atau mati oleh tembakan Israel," Khoudary menambahkan. 

Israel tolak gencatan senjata, Hamas janjikan perang panjang

Di tengah jeritan warga Gaza tersebut, Hamas mengatakan Israel menolak usulan gencatan senjata. Hal itu disampaikan Abu Obeida, juru bicara Brigade Qassam lewat rekaman video berdurasi hampir 20 menit pada Jumat kemarin, 18 Juli 2025. 

Dalam video itu Hamas menawarkan kesepakatan bakal membebaskan semua tawanan di Gaza sekaligus. Tetapi tawaran tersebut ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para menteri sayap kanannya. 

"Jelas bagi kami bahwa pemerintahan Netanyahu yang kriminal tidak memiliki kepentingan nyata terhadap para tawanan karena mereka adalah tentara," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Hamas mendukung kesepakatan yang menjamin berakhirnya perang, penarikan pasukan Israel, dan masuknya bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terkepung.

Jika Israel menarik diri dari putaran perundingan tidak langsung yang diadakan di Qatar, kata Abu Obeida, maka Hamas tidak menjamin pengembalian ke kesepakatan parsial apa pun, termasuk kesepakatan 60 hari yang saat ini sedang dibahas yang akan membebaskan 10 tawanan. 

Hamas masih menahan 50 orang di Gaza, sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim 10 tawanan tersebut akan segera dibebaskan dari Gaza. Hal ini disampaikan saat berbicara dengan anggota parlemen pada Jumat kemarin. 

"Kami berhasil memulangkan sebagian besar sandera. 10 sandera lagi akan segera tiba, dan kami berharap ini bisa segera selesai," kata Trump, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Pemimpin negeri Paman Sam--sekutu terdekat Israel--itu telah mengklaim selama berminggu-minggu bahwa gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan tahanan akan segera terjadi, tetapi janji-janji tersebut tidak ada pernah terwujud.

Dalam pesan video pertamanya sejak awal Maret, Abu Obeida juga mengatakan bahwa para pejuang Hamas siap melanjutkan pertempuran panjang dan akan terus melakukan penyergapan di seluruh Gaza terhadap Israel dengan tujuan membunuh atau menangkap tentara Israel yang menyerang.

Ia juga mengecam para pemimpin negara-negara Arab dan Islam atas ketidakpedulian mereka terhadap genosida yang dilakukan Israel, dengan mengatakan, “Leher kalian terbebani oleh darah puluhan ribu orang tak berdosa yang dikhianati oleh kebisuan kalian.”

Komentar tersebut muncul saat pembicaraan di Doha belum membuahkan hasil apa pun karena Israel berkukuh mempertahankan dan memperluas kontrol militer atas Gaza, termasuk Koridor Morag dan Koridor Magen Oz baru yang masing-masing memisahkan Rafah dengan Khan Younis di selatan dari wilayah kantong lainnya. 


Editor: Muhammad Taufiq
logo