Jakarta, Arina.id—Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari memperingatkan bahwa eskalasi yang tidak terkendali berisiko memicu perang regional yang lebih luas.
“Negosiasi masih berlangsung. Kami melihat adanya keterlibatan dari kedua pihak,” kata Ansari dalam Forum Keamanan Global di Doha, Qatar, Selasa (20/10/2026), dikutip dari Anadolu Agency.
Ansari, yang juga menjabat sebagai penasihat Perdana Menteri Qatar, mengatakan pembicaraan terus dilakukan bersama mitra-mitra regional. Ia berharap proses tersebut dapat menghasilkan kesepakatan, meskipun kondisi di lapangan semakin sulit.
Ia memperingatkan, peningkatan konflik tanpa upaya meredakan ketegangan dapat memperluas perang hingga melampaui batas kawasan.
“Eskalasi yang tidak terkendali akan membuat kita bergerak menuju perang regional yang meluas melampaui perbatasan kawasan kita,” ujarnya.
Ansari menjelaskan, proses negosiasi saat ini merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya yang menjadikan gencatan senjata sebagai jalan menuju perundingan. Namun, upaya tersebut gagal dan pertempuran kembali terjadi.
Menurutnya, gencatan senjata seharusnya menjadi pintu masuk menuju penyelesaian konflik, bukan menjadi tujuan akhir.
“Setiap gencatan senjata pada dasarnya adalah pintu yang membuka jalan menuju suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri,” katanya.
Ketegangan Yaman dan Israel
Ansari juga menyoroti konflik di Yaman yang berkaitan dengan ketegangan regional, termasuk hubungan dengan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa konflik tersebut memiliki dinamika tersendiri.
Ia menyebut perkembangan terbaru di Yaman sebagai bagian dari eskalasi konflik yang berlangsung sejak 2023. Menurutnya, upaya meredakan ketegangan harus dilakukan secara bersamaan di berbagai titik konflik.
“Satu-satunya cara untuk memastikan hal itu tidak berlanjut adalah mulai meredakan semua konflik ini secara bersamaan,” ujarnya.
Ansari turut menyampaikan kekhawatiran terhadap pernyataan politik yang muncul dari Israel. Ia mengingatkan agar ketidakstabilan regional tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik domestik.
Ia menilai, memanfaatkan situasi konflik untuk pertarungan politik internal bukanlah tindakan yang semestinya dilakukan seorang pemimpin yang bertanggung jawab.
Tak Ada Mitra Perdamaian di Israel
Mengenai Gaza dan persoalan Palestina, Ansari mengatakan peluang penyelesaian politik masih terhambat oleh tidak adanya proses perdamaian yang dapat diandalkan.
“Sayangnya, saat ini kita tidak memiliki mitra perdamaian di Israel,” katanya.
Ia mempertanyakan apakah partai-partai politik dan para kandidat di Israel menawarkan jalan menuju perdamaian dengan Palestina. Menurutnya, pernyataan yang muncul dari Israel justru lebih banyak berbicara tentang perang, kematian, dan kehancuran.
Ansari memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung hanya akan melahirkan konflik baru.
Anadolu Agency melaporkan, sejak Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut juga dilaporkan rusak atau hancur.
Di tengah situasi tersebut, Ansari menekankan bahwa keberhasilan mediasi tidak mensyaratkan pihak-pihak yang berkonflik untuk saling percaya. Hal yang lebih penting adalah keyakinan terhadap proses mediasi itu sendiri.
“Keberhasilan mediasi bergantung pada prosesnya, bukan pada kepercayaan satu sama lain,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat. Koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi, sementara kelompok tersebut melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan wilayah kerajaan.
Eskalasi itu berlangsung bersamaan dengan ketegangan antara AS dan Iran setelah konfrontasi militer kedua negara. Sementara itu, upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan masih menghadapi kebuntuan.
Editor: Suci
