Arina.id - Salah satu raksasa bisnis makanan dan minuman dunia, Nestle, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 16.000 karyawannya sepanjang dua tahun ke depan. Kabar ini membetot perhatian dunia, mengingat market perusahaan asal Swiss tersebut bisa dibilang menjangkau seluruh dunia.
Kabar rencana PHK belasan ribu pegawai Nestle tersebut disampaikan CEO barunya Philipp Navratil yang memiliki visi baru perusahaan, yakni mendorong bisnisnya agar fokus pada produk dengan penghasilan tertinggi potensial.
"Perusahaan Nestle Swiss harus berubah lebih cepat untuk terus berjalan dengan dunia yang berubah dan mengadopsi 'pemikiran kinerja' yang tidak bisa menerima kehilangan marketnya akibat digerus perusahaan saingan," kata Mr Navratil, seperti dikutip dari BBC, Kamis 16 Oktober 2025.
Selain itu, PHK juga bagian dari rencana efisiensi operasional perusahaan. Rencananya, lay off akan dikenakan bagi 12.000 pekerjaan kantorannya atau kerah putih dan 4.000 lebih posisi lainnya selama dua tahun itu. Rencana PHK diperkirakan akan menghemat USD1.25 miliar tahunan sampai akhir 2027.
Nestle telah meluncurkan inisiatif pemotongan biaya sebesar USD 3.17 miliar di bawah CEO sebelumnya, Laurent Freixe hingga akhir 2027, dan telah dipercepat dengan penambahan pemotongan biaya menjadi USD3.76 miliar.
Navratil menggantikan Laurent Freixe sebagai CEO yang dipecat pada September 2025 kemarin gegara hubungan dekatnya dengan karyawan. Meskipun begitu, kabar rencana PHK tersebut justru membuat harga saham Nestle naik 7,5% tak lama setelah pengumuman.
Mr Navratil menambahkan, "Kami memegang budaya yang mencakup pola pikir kinerja, yang tidak menerima kerugian akibat kehilangan pasar, dan di mana kemenangan dihargai...,dunia berubah, dan Nestle harus berubah lebih cepat. Perubahan tersebut akan meliputi keputusan yang sulit tapi diperlukan untuk mengurangi jumlah orang," katanya menambahkan.
Editor: Muhammad Taufiq
