Washington, Arina.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang digelar Selasa (3/11/2026). Namun, Trump juga berupaya mengalihkan tanggung jawab atas kekalahan Partai Republik dengan menyoroti sejumlah faktor, termasuk kualitas kandidat dan perang Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump memberikan pujian kepada rival politiknya yang berhasil mengalahkan Partai Republik dan merebut kendali DPR serta Senat AS.
"Saya pikir Partai Demokrat telah melakukan pekerjaan dengan baik. Saya benar-benar berpikir begitu. Mereka bekerja dengan baik. Mereka berjuang keras," kata Trump.
Trump menilai kemenangan Demokrat tidak terlepas dari perubahan suasana politik di tengah masyarakat. Meski demikian, ia merasa tidak seharusnya menanggung kesalahan atas hasil pemilu tersebut.
Sebelumnya, Trump berulang kali meminta para kandidat Republik berkampanye dengan menganggap dirinya juga menjadi peserta pemilihan. Strategi itu diduga justru menjadi bumerang karena pemilih menilai pemilu tersebut sebagai bentuk evaluasi terhadap kepemimpinannya.
Dalam pernyataan pertamanya setelah hasil pemilu diketahui, Trump bahkan menyebut Partai Republik seharusnya mampu meraih kemenangan besar jika dirinya ikut mencalonkan diri.
"Saya tidak ikut dalam pemungutan suara. Jika saya ikut, kami pasti menang dengan telak! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap hal ini," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Meski sebelumnya pernah menolak hasil kekalahannya dalam pemilihan presiden 2020 dari Joe Biden, Trump kali ini menyatakan kesediaannya menerima hasil pemilu paruh waktu.
"Saya benar-benar bersedia menerima hasil tersebut. Kami akan bekerja sama dengan Partai Demokrat dan menantikan kerja sama dengan mereka. Kami mungkin akan menemukan kesepakatan," ujarnya kepada The New York Times.
Namun, sikap tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Trump akan mendukung seluruh agenda politik Demokrat. Ia mengunggah foto topi merah khas kampanyenya, Make America Great Again (MAGA), dengan satu kata yang menyertainya, yakni "VETO".
Unggahan tersebut menjadi sinyal bahwa Trump berpotensi menggunakan hak veto untuk menghadang sejumlah kebijakan yang diajukan Demokrat.
Sementara itu, suasana di Gedung Putih dilaporkan memanas ketika Trump bersama sejumlah pejabat kabinetnya menyaksikan hasil pemilu. Seorang pejabat Gedung Putih menggambarkan suasana internal pemerintahan sebagai penuh perlawanan.
"Suasana di Gedung Putih penuh sikap menantang," kata pejabat tersebut kepada AFP.
Trump Kritik Kandidat Partai Republik
Di tengah kekalahan tersebut, Trump mulai menyoroti kualitas para kandidat Republik yang gagal memenangkan persaingan. Padahal, ia sebelumnya telah memberikan dukungan politik kepada sejumlah kandidat dan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk membantu kampanye mereka.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa kualitas kandidat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil pemilu.
"Kualitas kandidat sangat menentukan. Presiden Trump justru melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mempromosikan banyak kandidat yang maju dalam pemilu dibandingkan para kandidat itu sendiri," ujarnya.
Trump juga menyatakan akan mengambil peran sebagai pengamat politik untuk menjelaskan penyebab kekalahan partainya.
Salah satu tokoh yang menjadi sasaran kritiknya adalah Greg Abbott. Trump menilai Abbott kehilangan dukungan karena dianggap telah berubah menjadi RINO (Republican In Name Only), istilah untuk anggota Partai Republik yang dinilai tidak lagi mencerminkan prinsip partainya.
Trump berpendapat bahwa Abbott tidak akan mengalami kekalahan apabila tidak berubah menjadi sosok yang dianggap menyimpang dari garis politik Republik.
Kekalahan tersebut menjadi tantangan besar bagi Trump dalam menjalankan sisa dua tahun masa jabatan keduanya. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, pemerintahannya diperkirakan menghadapi hambatan lebih besar dalam menjalankan agenda legislasi.
Perang Iran Disorot sebagai Penyebab Kekalahan
Selain persoalan kandidat, perang Iran turut menjadi perhatian dalam evaluasi kekalahan Partai Republik. Trump mengakui konflik tersebut memiliki pengaruh terhadap keputusan pemilih dalam pemilihan paruh waktu.
Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan Fox News, Trump mengatakan isu Iran menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hasil pemilu.
"Saya pikir sebagian penyebabnya adalah Iran. Namun, pada saat yang sama, masyarakat memahami pentingnya apa yang telah saya lakukan terkait Iran," katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan Trump kembali meningkatkan operasi militer terhadap Teheran. Padahal, konflik tersebut diduga menjadi salah satu kebijakan yang tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Seorang pejabat Gedung Putih berpendapat bahwa pemilih yang mendukung Demokrat berpotensi menyesali keputusan mereka apabila harga bahan bakar turun setelah konflik Iran berakhir.
"Siapa pun yang memilih Demokrat hari ini akan mengalami penyesalan besar ketika harga bahan bakar turun dengan cepat setelah konflik Iran diselesaikan. Namun, mereka tetap harus menghadapi daftar kebijakan yang dibawa oleh Demokrat liberal ekstrem," ujarnya.
Gedung Putih juga mengisyaratkan bahwa kekalahan pemilu tidak akan membuat Trump mengendurkan sikapnya terhadap lawan politik.
"Terlepas dari apa pun hasil hari ini, tekad Presiden Trump untuk menghentikan kelompok Kiri Radikal justru akan semakin kuat. Bersiaplah menghadapi situasi berikutnya," kata pejabat tersebut.
Sebelum hasil pemilu diumumkan, Trump juga sempat melontarkan sejumlah kritik melalui media sosial terhadap pemberitaan Fox News. Ia menuding stasiun televisi tersebut bersikap tidak berpihak kepadanya dan menyebut penurunan rating terjadi karena pemberitaannya yang menentang Trump.
Kemenangan Demokrat sekaligus menandai perubahan peta kekuatan politik di Washington. Situasi ini menjadi ujian bagi Trump dalam mempertahankan pengaruh politiknya hingga akhir masa jabatan, terutama ketika agenda pemerintahannya harus berhadapan dengan kendali oposisi di kedua kamar Kongres AS.
Editor: Kendi Setiawan
